Beranda PENDIDIKAN & BUDAYA Pengadaan Seragam Peserta Didik Baru SMKN 1 Bawen Dipermasalahkan

Pengadaan Seragam Peserta Didik Baru SMKN 1 Bawen Dipermasalahkan

601
0
Ketua Panitia Pengadaan Seragam, Slamet Partono, Ketua Komite Sekolah Supriyadi, dan Ketua Paguyuban Ortu-Wali Kelas X SMKN 1 Bawen (BW Heru Santoso) saat memberikan keterangan pers. (Foto Heru Santoso)

KopiPagi | UNGARAN : Terkait dengan pengadaan seragam sekolah di SMK Negeri 1 Bawen untuk Kelas X atau peserta didik baru tahun ajaran 2021/2022 yang beredar “diluar” bahkan hanya penilaian sepihak saja, hal itu menjadikan proses pengadaan seragam sekolah peserta didik baru akhirnya sempat terhenti, bahkan hingga sekarang ini sebagian besar orangtua/wali peserta diddik baru justru mendesak agar pengadaan seragam sekolah tersebut tetap dilanjutkan.

Ketua Panitia Pengadaan Seragam Sekolah Peserta Didik Baru/Kelas X SMK Negeri 1 Bawen, Kabupaten Semarang, Slamet Partono menyatakan, bahwa pngadaan seragam sekolah peserta didik baru di SMK Negeri 1 Bawen Tahun Pelajaran 2021/2022 dilakukan oleh Paguyuban Orang Tua/Wali Peserta Didik Baru dan Komite SMK Negeri 1 Bawen, dengan membentuk Panitia Pengadaan Seragam Sekolah. Bahkan, dari panitia tersebut, sama sekali tidak melibatkan pihak sekolah.

“Peengadaan seragam sekolah bagi peserta didik baru untuk Kelas X SMKN 1 Bawen ini, sama sekali tidak melibatkan pihak sekolah. Seluruh panitia pengadaan dari gabungan Pengurus Komite Sekolah dan Paguyuuban Ortu/Wali Peserta Didik Baru. Dan, langkah ini telah dilakukannya sejak tahun 2019 serta sejak awal dilakukannya sama sekali tidak memunculkan masalah. Pasalnya, orangtua peserta didik baru benar-benar mendukung dan membutuhkan seragam sekolah. Selain itu, dasar dari proses pngadaan seragam sekolah ini adalah mengacu pada Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014, Pasal 4 ayat (1) – “Pengadaan pakaian seragam sekolah diusahakan sendiri oleh orang tua atau wali peserta didik. Sekali lagi, kami melangkah bukan asal-asalan,” jelas Slamet Partono didampingi Ketua Komite Sekolah Supriyadi dan Ketua Paguyuban Ortu/Wali Peserta Didik Baru SMKN 1 Bawen BW Heru Santoso, dalam konferensi pers di Gedung Technopark Lantai 2 SMKN 1 Bawen, kemarin.

Bahkan, dalam Pasal 4 ayat (2) yang berbunyi “Pengadaan pakaian seragam sekolah tidak boleh dikaitkan dengan pelaksanaan penerimaan peserta didik baru atau kenaikan kelas. Yang utama dalam pengadaan seragam sekolah iini, memperhatikan dan menindaklanjuti masukan dan usulan orang tua atau wali peserta didik baru. Orangtua//wali peserta didik baru berawal bertanya terkait dengan seragam sekolah bagi putra-putrinya. Karena, sampai pada saat itu tidak pernah ada informasi dari SMK Negeri 1 Bawen tentang pengadaan seragam ataupun pihak sekolah mewajibkan seragam sekolah bagi peserta didik baru dan sesuai dengan aturan pihak sekolah tidak boleh mengelola pengadaan seragam sekolah.

“Dari banyaknya keresahan orangtua/wali peserta didik batu bahwa di sekolah lain sudah mendapatkan seragam. Dari pertimbangan tersebut, akhirnya Komite SMK Negeri 1 Bawen mengundang Perwakilan orang tua/wali peserta didik baru (masing-masing kelas 1 perwakilan) tanggal 21 Agustus 2021 untuk rapat membahas permasalahan tersebut. Hasil keputusan rapat diantaranya, membentuk Paguyuban Orangtua/Wali Peserta didik baru, Penunjukan perwakilan Paguyuban Ortu/Wali per kompetensi keahlian atau jurusan yaitu ada 8 jurusan dan akhirnya perwakilan ini sebagai pengurus paguyuban. Kemudian, disepakati pengelolaan seragaam dikelola Paguyuban Ortu/Wali peserta didik baru,” terang Slamet.

Menurutnya, dibentuk pula Panitia Pengadaan Seragam Sekolah bagi peserta diik baru, dan didalamnya tidak melibatkan pihak SMK Negeri 1 Bawen baik itu Kepala Sekolah, Tim Manajemen, Guru ataupun Karyawan. Kemudian pada

23 Agustus 2021 panitia pengadaan seragam sekolah bagi peserta didik baru SMK Negeri 1 Bawen membuat surat edaran tentang pengadaan seragam yang di share ke semua group wali murid kelas X dengan tujuan untuk diketahui dan sebagai sarana sosialisasi ke orang tua/wali peserta didik baru. Masa sosialisasi ini berlangsung hingga 29 Agustus 2021.

Untuk pelaksanaan dimulai 30 Agustus 2021 dimulailah proses peengadaan seragam sekolah dan pihak SMK Negeri 1Bawen sama sekali tidak terlibat dalam proses ini. Pengadaan seragam ini bersifat sukarela dan tidak memaksa serta tidak diharuskan atau tidak diwajibkan. Bahkan, ortu/wali peserta didik baru jika mau membeli sendiri diluar paguyuban diperbolehkan juga dipersilahkan. Juga, jika ortu/wali akan membeli hanya tertentu saja tetap dilayani atau diijinkan.

“Khususnya, untuk orang tua peserta didik baru yang kurang mampu dan tidak bisa melakukan pembayaran secarai tunai dapat melakukan pembayaran dengan cara mengangsur dan putra-putrinya tetap dilayani pemesanan seragamnya serta langsung dilakukan pengukuran. Panitia pengadaan seragam sekolah ini juga melayani konsultasi bagi orang tua wali peserta didik baru yang mengalami kesulitan dalam pemenuhan seragam bagi putra-putrinya. Dalam pelaksanaannya fasilitasi ini dilakukan secara kekeluargaan dan humanis, yaitu melayani sesuai apa yang diinginkan oleh orang tua/wali peserta didik baru. Panitia juga meminta saran, pendapat serta kritik yang membangun untuk kebaikan bersama dalam pengadaan seragan ini,” ujarnya.

Terbantu Pengadaan Seragam

Sementara itu, Ketua Komite SMKN1 Bawen Supriyadi menegaskan, bahwa pengadaan seragam sekolah ini juga mendapatkan persetujuan orangtua peserta didik baru. Selain itu orangtua sangat terbantu dengan langkah dari Komite Sekolah dan Paguyuban Ortu/Wali Peserta didik baru. Manfaat yang diperoleh dari pengadaan seragam yang dikelola oleh Paguyuban Ortu/Wali peserta didik baru adalah paguyuban orang tua/wali peserta didik dapat memberikan subsidi silang bagi orang tua/peserta didik yang tidak mampu. Sebagai contoh nyata, pada tahun 2019 lalu dari Paguyuban Ortu/Wali dapat menggratiskan pembelian seragam bagi ortu/wali peserta didik yang benar-benar tidak mampu.

“Kami menilai adanya pemberitaan yang keliru ini di salah satu media online yang hanya sepihak, akhirnya pengadaan seragam sekolah ini dihentikan per 31 Agustus 2021. Hal ini, karena Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Bawen telah di telpon dari Dinas Dikbud meminta untuk kegiatan tersebut dihentikan. Bukan itu saja, akhirnya supaya tidak terjadi perdebatan yang panjang paguyuban mengalah dan mengeluarkan surat penghentian kegiatan. Selanjutnya, atas arahan dari Dinas Dikbud melalui Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Bawen, Paguyuban Ortu/Wali peserta didik baru SMK Negeri 1 Bawen menyampaikan keberatan. Terus terang kami sangat menyayangkan sebuah institusi yang besar yang mengelola dunia pendidikan hanya karena sebuah pemberitaan ataupun laporan dari seseorang yang kebenarannya belum ditelusuri benar dan tidak namun langsung mengambil keputusan sepihak,” jelasnya.

Contoh seragam dan kelengkapannya bagi peserta didik baru SMKN 1 Bawen, ditunjukkan saat digelar konferensi pers. (Foto Heru Santoso)

Harusnya, ada informasi sepihak itu, pihak Dinas Pendidikan segera melakukan klarifikasi dengan Paguyuban Ortu/Wali peserta didik baru. Hal ini sebagai bahan cek and ricek terkait dengan benar tidaknya informasi yang beredar. Selain itu, harusnya dari Dinas Dikbud pada saat itu ( 30 Agustus 2021) melakukan pengecekan langsung  di SMKN 1 Bawen untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi. Apakah benar yang dilakukan Paguyuban Ortu/Wali tersebut.

Untuk itu setelah penghentian kegiatan fasilitasi pemesanan seragam, pengurus Paguyuban Orang Tua/wali peserta didik, Panitia pengadaan seragam dan Komite SMK Negeri 1 Bawen melakukan berbagai upaya. Diantaranya dilakukan evaluasi proses pelaksanaan. Juga, banyaknya

pertanyaan dari orang tua/wali peserta didik baru tentang kelanjutan kegiatan fasilitasi pengadaan seragam itu. Dan saran maupun masukan dari orang tua/wali peserta didik, serta saran dari berbagai pihak maka Pengurus Paguyuban mengeluarkan pengumuman dan di share ke group ortu/wali peserta didik baru.

Lanjutkan Pengadaan Seragam

Sedangkan, Ketua Paguyuban Ortu/Wali Kelas X, BW Heru Santoso  menyatakan, bahwa pemberitaan di salah satu media online itu yang dinilainya sepihak maka paguyuban ortu/wali sangat keberatan. Dan diduga telah melanggar kode etik jurnalistik. Juga, jurnalis tersebut tidak mau menunjukkan jati dirinya baik namanya dan nama medianya. Apalagi dalam konfirmasi berita itu, juga mengaku sebagai temannya ‘Mas Ganjar’ dan sudah ngobrol dengan ‘Mas Ganjar’ terkait dengan seragam di SMKN 1 Bawen.

“Saat menelpon dan mengaku sebagai Pak Ganjar dan akan kita berikan penjelasannya ternyata langsung memutus telepon. Juga, ketika diundang oleh Pak Slamet Partono untuk klarifikasi tidak mau hadir. Anehnya, justru mau bertemu jika di rumah Ketua Panitia Pengadaan Seragam dan tidak mau ketemu di sekolahan. Yang lebih membuat kami kecewa adalah pemberitaan yang muncul banyak “diplintir” dan ini tidak sesuai dengan fakta yang terjadi sebenarnya. Kami menilai dengan menyebut nama “Mas Ganjar”, mungkin saja adalah Ganjar Pranowo Gubernur Jateng dan ini hanya untuk menakut-nakuti,” jelas BW Heru Santoso, yang kesehariannya sebagai wartawan media online koranpagionline.com.

Ditambahkan BW Heru Santoso, bahwa langkah Paguyuban Ortu/Wali peserta didik baru SMK Negeri 1 Bawen dalam pengadaan seragam sekolah ini sama sekali tidak melanggar ketentuan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 45 tahun 2014. Pengadaan seragam sekolah diusahakan sendiri oleh orang tua atau wali peserta didik, yang mana caranya dengan jalan memberikan mandat kepada paguyuban orang tua untuk memenuhi kebutuhan pengadaan seragam sekolah.

Setelah pengadaan seragam ini dihentikan, banyak orangtua yang mempertanyakan serta mendesak panitia pengadaan seragam sekolah maupun paguyuban ortu/wali untuk segera melanjutkannya. Pasalnya, seragam sekolah itu dinilainya sebagai identitas anak sekolah/pelajar di sekolah tertentu. Selain itu, orangtua juga tidak mau jika anak-anaknya mendatangi sekolah atau SMKN 1 Bawen masih memakai seragam dari SMP asalnya. Disamping itu, untuk pengadaan seragam sekolah mulai dari pemesanan, pengukuran serta pembayaran bersifat sukarela dan tidak memaksa. Orang tua peserta didik baru jika akan membeli sendiri seragam sekolah bagi putra-putrinya di luar paguyuban tetap diperbolehkan dan dipersilahkan.

“Seragam sekolah peserta didik baru beserta kelengkapannya di SMK Negeri 1 Bawen, Kabupaten Semarang adalah seragam OSIS, seragam Pramuka, seragam Identitas, jas almamater, seragam Olahraga, kaos LDK, dasi OSIS dan Identitas, topi OSIS, ikat pinggang. Lalu baret dan PIN baret, atribut semua seragam, seragam praktek jurusan atau jas laborat, serta sepatu vantofel. Namun, jika ortu/wali peserta didik baru tidak memerlukan atau membutuhkan semuanya dan hanya jenis tertentu saja tetap kita layani dan diijinkan. Mungkin saja, peserta didik baru itu sudah mendapatkan dari kakak-kakaknya ataupun saudaranya. Sekali lagi, ortu/wali peserta didik baru tidak harus memesan atau membeli semua jenis itu,” tandas Heru Santoso, orangtua peserta didik baru dari jurusan Perhotelan. ***

Pewarta : Heru Santoso.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here