Beranda BIVEST Dampak PPKM Pengusaha Bioskop Berharap Pemerintah Berikan Intensif

Dampak PPKM Pengusaha Bioskop Berharap Pemerintah Berikan Intensif

42
0
Ketua Umum DPP GPBSI H. Djonny Syafruddin, SH

KopiPagi | JAKARTA : Dampak Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Jaringan  bioskop  CGV  telah  menghentikan  sementara  operasionalnya  mulai  12  Juli  2021. Disusul  bioskop  Cinepolis  menutup  seluruh  bioskopnya  di  63  lokasi  di  seluruh  Indonesia. Sementara  itu  jaringan  bioskop  terbesar  di  Indonesia,  Cinema  XXI  menutup  sementara seluruh  bioskopnya  pada  tanggal  16  Juli  2021.  

Demikian  juga  yang  dilakukan  bioskop bioskop  Independen  anggota  GPBSI,  seperti  Flix  Cinema,  New  Star  Cineplex,  Dakota Cinema,  Bioskop  Golden,  Bioskop  E-Plaza,  Bioskop  Gajah  Mada,  Bioskop  Surya  Yudha Cinema,  Bioskop  Rajawali,  Bioskop  BES  Cinema,  dan  lainnya  yang  juga  menutup kegiatan  operasionalnya.  Penutupan  sementara  seluruh  bioskop  tersebut  dilakukan sampai  dengan  berakhirnya  PPKM  Darurat  yang  ditetapkan  oleh  Pemerintah.   Ketua  Umum  DPP  GPBSI  H.  Djonny  Syafruddin,  SH  mengatakan,

“Bioskop  sejak  awal pandemi  selalu  taat  pada  setiap  peraturan  dan  kebijakan  baik  yang  dikeluarkan  oleh Pemerintah  Pusat,  Pemerintah  Daerah,  Pemerintah  Kota  maupun  Pemerintah Kabupaten.  Dimulai  ketika  bioskop  tutup  pada  bulan  Maret  2020,  lalu  sempat  buka kembali,  kemudian  harus  ditutup  lagi.  Terbukti,  sejak  dibuka  sampai  tutup  kembali  di masa  pandemi  ini,  bioskop  tidak  menjadi  cluster  baru  bagi  penyebaran  Covid-19, karena  bioskop  menerapkan  protokol  kesehatan  secara  ketat  dan  telah  dilakukan  uji laboratorium,” ujar Djonny Syafruddin dalam siaran persnya yang diterima penulisan

Djony menambahkan, upaya penutupan gedung bioskop dalam rangka membantu pemerintah untuk menekan penyebaran wabah Covid 19.

“Penutupan  bioskop  dilakukan  oleh  semua  bioskop  anggota  GPBSI,  sebagai  upaya membantu  program  pemerintah  untuk  menekan  jumlah  penyebaran,  serta memutus  mata  rantai  penyebaran  Covid-19.  Dengan  demikian,  para  pengelola bioskop  akan  mengupayakan  secara  maksimal  dengan  merencanakan  ulang  jadwal  film film  yang  akan  tayang  setelah  masa  PPKM  Darurat  berakhir”,  lanjut  Djonny.

Untuk itu, Djonny  berharap  di  beberapa  daerah  yang  tidak  ada  aturan  penutupan bioskop,  akan  dapat  membuka  kembali  bioskopnya  tanpa  harus  mengajukan  ijin  lagi pada  saat  keadaan  sudah  memungkinkan.

Kami  juga  mengharapkan  adanya  perhatian  pemerintah,  mengingat  besarnya  kerugian yang  dialami  oleh  bioskop  sejak  bioskop  mulai  tutup  Maret  2020  lalu,  karena  walaupun bioskop  tutup,  pemeliharaan  dan  perawatan  perangkat  harus  rutin  dilakukan. Demikian  juga  pembayaran  listrik  dan  pembayaran  gaji  karyawan,  walaupun  memang ada  sebagian  karyawan  yang  harus  dirumahkan,”  kata  Djonny.

Lebih  lanjut  Djonny  mengharapkan  adanya  perhatian  dan  bantuan  pemerintah  dalam bentuk  kebijakan  yang  pro  kepada  bioskop,  karena  selama  ini  belum  ada  bantuan pemerintah  terhadap  usaha  bioskop.  Perhatian  dan  bantuan  yang  diharapkan,  seperti :

(1)  Bantuan/insentif  pemerintah/pemerintah  daerah  terutama  untuk  keringanan biaya  listrik.  Karena  dua  komponen  biaya  terbesar  dalam  bisnis  bioskop  adalah biaya  karyawan/gaji  dan  biaya  listrik.  Untuk  menghindari  adanya  PHK  karyawan,   dapat  dibantu  oleh  Pemerintah  dalam  bentuk  keringanan  tarif  listrik  (rata-rata bioskop  dikenakan  tarif  B3).

(2)  Keringanan  dari  sisi  pajak  terutama  pengenaan  tarif  pajak  hiburan  yang  rata  di seluruh  daerah.  Hal  ini  akan  sangat  membantu  bioskop  pada  saat  pemulihan  usaha.

 (3)  Adanya  insentif  untuk  karyawan  bioskop.  Selama bioskop  tutup  maka  sebagian  besar karyawan  diliburkan.  Mereka  diberikan  upah  50%  dari  yang  biasanya  diterima,  bahkan  ada yang  tidak  diberikan  upah  selama  bioskop  tidak  beroperasi,  mengingat  beban  operasional yang  berat  bagi  pengusaha  bioskop.  Mereka  adalah  karyawan  bioskop  dan  cafe  bioskop yang  jumlahnya  sekitar  10.175  orang  di  seluruh  Indonesia.  Mereka  rata-rata  menerima upah  minimum  sesuai  wilayah  masing-masing (4)  Perlunya  kejelasan  keputusan  terkait  penutupan  bioskop  atau  pembukaan  kembali usaha  bioskop  secara  serentak,  baik  dari  pemerintah  pusat  maupun  pemerintah daerah.

 “Semoga  pemerintah  dan  pemerintah  daerah  memberikan  perhatian  kepada  usaha bioskop,  karena  bioskop  sebagai  hilir  industri  perfilman  telah  banyak  memberikan kontribusi  positif  dalam  mendukung  tumbuh  kembangnya  perfilman  nasional,  serta dalam  hal  peningkatan  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  melalui  Pajak  Hiburan”,  pungkas Djonny Syafruddin. *Buyil/Kop.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here