Beranda NASIONAL Peringati Hardiknas : Soewardi Soeryaningrat Bapak Pendidikan Nasional

Peringati Hardiknas : Soewardi Soeryaningrat Bapak Pendidikan Nasional

196
0

By : Zoel Nasti

KopiPagi PASBAR : Setiap tanggal 2 Mei seluruh masyarakat Indonesia di seluruh Nusantara bahkan yang berada di luar negeri memperingatinya, yakni sebagai Hari Pendidikan Nasional. Kita yakin mungkin masih ada generasi bangsa ini yang belum mengetahui mengapa setiap tanggal 2 Mei, bukan tanggal-tanggal lain saja diperingati untuk memperingati arti pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia. 

Tanggal 2 Mei dipilih adalah sebagai penghormatan dan penghargaan kita kepada Putra terbaik bangsa ini yang telah mengabadikan dirinya bukan saja untuk merebut kemerdekaan tapi juga menciptakan sistim pendidikan nasional seperti bagaimana terlahir anak-anak bangsa yang memiliki disiplin nasional dan toleransi serta bertanggung jawab dalam memajukan bangsa Indonesia.

Zoel Nasti

Dialah Bapak Pendidikan Indonesia, Soewardi Soeryaningrat yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, penggagas dan pendiri Pendidikan Nasional melalui Perguruan Taman Siswa. Soewardi Soeryaningrat berpendapat bahwa perjuangan untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara ini, tidak semata-mata dilakukan hanya mengangkat senjata, Ki Hajar Dewantara ingin masyarakat Indonesia yang terbelakang, dan buta huruf di dalam cengkeraman penjajahan Belanda, membutuhkan keahlian, penerangan, ilmu, dan moral agama melalui pendidikan nasional.

Hasrat itu atau harapan Ki Hajar Dewantara tersebut bukan hanya sekedar sebagai lembaga pendidikan yang bergerak dalam membangun sekolah-sekolah saja, tetapi juga bagaimana membangun melalui lembaga yang khas nasional yakni menumbuhkan generasi cinta tanah air, yang berbudaya, yang beragama, hingga selain terbebas dari penjajahan juga mampu membentengi usaha dalam mengembangkan hidup kehidupan seluruh masyarakat Indonesia ke depan.

Usaha dalam pengembangan pendidikan dan kebudayaan yang berbalut etika moral agama ini, dimaksud untuk bagaimana berkembangnya suatu bangsa yang selaras dalam kemerdekaan dan kedaulatannya serta kewibawaan Indonesia di mata dunia, hingga tegak dan berdirinya bangsa Indonesia mampu sejajar di tengah-tengah bangsa lain di dunia ini.

Inilah salah satu ajaran Ki Hajar Dewantara yang dituangkannya melalui sistim Among dalam pendidikan nasional di Perguruan Taman Siswa yang selalu ikut berperan dan terus mendorong serta mendasari nilai-nilai perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia melalui usaha pendidikan dan pengajaran dalam membentengi kebudayaan nasional dengan tetap mengedepankan etika moral agama.

Raden Mas Soewardi Soeryaningrat lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di sebelah timur pura Paku Alam Yogyakarta dari seorang ibu yang kuat agamanya yaitu keturunan langsung Sunan Kalijogo, sedangkan ayahnya Pangeran Soeryaningrat keturunan Sultan Hamengku Buwana II. Sejak kecil Soewardi selalu bergaul dan bermain dengan anak-anak yang bukan keturunan bangsawan. Ki Hajar Dewantara tergolong anak yang keras hati dan selalu memancing pertengkaran dengan anak-anak Belanda.

Setamat dari Europeesche Lagere School (ELS) sekolah setingkat SD, Ki Hajar Dewantara melanjutkan pelajarannya ke School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA). Di sekolah inilah ia banyak bergaul dari berbagai kalangan dan berbagai pemuda dari bermacam suku bangsa yang datang dari penjuru kepulauan nusantara ini. Pergaulan ini menyebabkan pemikirannya berkembang luas, demikian juga dalam berpakaian Ki Hajar Dewantara pun selalu bangga dengan selalu memakai dan menonjolkan pakaian tradisional yakni sarung, jas dan peci.

Dari pergaulannya inilah mulai tumbuh kesadarannya dan mengerti apa arti dan makna nasional sebagai satu bangsa dan cita-cita. Meskipun Soewardi tidak sempat menamatkan pendidikannya di STOVIA karena beasiswanya dicabut, ia aktif dan menekuni dunia kewartawanan dan pada tahun 1912 atas permintaan Douwes Dekker pemimpin harian DE EXPRES di Bandung Soewardi pindah ke Bandung.

Di dunia jurnalistik inilah Soewardi dapat mencurahkan semua isi hatinya sebagai alat perjuangan kebebasan alam yang merdeka. Tulisan Suwardi Soeryaningrat yang pertama berjudul “Kemerdekaan Indonesia”. Tulisannya ini menggambarkan semangat yang menyala menuju Indonesia yang merdeka.

Bersama De Expres akhirnya tercipta persahabatan tiga serangkai, yaitu Soewardi Soeryaningrat yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker yang kita kenal sebagai Dr.Setiabudi dan dr.Tjipto Mangunkusumo.

Wartawan senior ZoelNasti

Melalui ketiga tokoh yang tak asing bagi bangsa Indonesia ini akhirnya pada tanggal 6 September 1912 mendirikan Indische Partij, cikal bakal lahirnya partai politik yang bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan tanah air, serta mempersiapkan bangsa ini agar dapat berdiri sendiri “Indie voor Indiers” atau “Hindia untuk bangsa Hindia “

Suwardi Soeryaningrat melalui tulisannya yang berjudul Las ik eens Nederlander Was atau “Andaikan aku seorang Belanda” mampu menghebohkan parlemen Belanda. (inti tulisan andaikan aku seorang Belanda adalah bentuk protes Suwardi atas perayaan kemerdekaan Belanda yang seharusnya tidak mengikutsertakan rakyat Hindia sebutan lain bagi pribumi pada masa itu) .

“… Andaikata akoe seorang Belanda, akoe tidak akan merajakan perajaan itoe di dalam negeri jang sedang kami djadjah. Pertama, kami haroes memberikan kemerdekaan kepada rakjat jang kami djadjah, kemoedian baroe memperingati kemerdekaan kami sendiri…  “

(akhirnya Soewardi bersyukur bahwa dia tidak dilahirkan sebagai seorang Belanda). Akibat dari tulisan itu akhirnya Surat Kabar di seluruh wilayah Hindia Belanda mendapat pengawasan ketat dan dilarang menyiarkan berita-berita yang dianggap merugikan pemerintah masa itu dan akhirnya Suwardi Soeryaningrat di tahan. Dan akhirnya sesuai perkembangan selanjutnya, berdasarkan putusan pengadilan tiga serangkai tersebut dijatuhi hukuman pengasingan atau dibuang ke negeri Belanda.

Berangkat dari pengalamannya dan tingginya perasaan kebangsaan yang ada di diri Suwardi Soeryaningrat, maka dari pergaulannya selama di pengasingan bersama mahasiswa dan masyarakat Hindia, lama kelamaan menyadarkan mereka akan pentingnya makna kemerdekaan.

Tidak adanya kesibukan yang berarti selama di negeri pembuangan akhirnya timbul pemikiran untuk merubah taktik perjuangan melalui bidang pendidikan dan pengajaran, Soewardi kemudian mengikuti Pendidikan Sekolah Guru (Lager Onderwijs) di negeri pengasingan.

Perkembangan pikiran dan diiringi jiwa Nasionalis akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak terjajah untuk memperjuangkan kemerdekaan, bukan hanya melalui angkat senjata maka mulailah ia membulatkan tekat bahwa perjuangan melumpuhkan kekuatan musuh juga harus di awali pendidikan.

Melalui dunia pendidikan inilah akhirnya Suwardi banyak mengenal tokoh-tokoh pergerakan dan pendidikan yang mengilhaminya untuk menerapkan pendidikan yang tepat bagi bangsanya kelak, hingga apa yang sedang bergejolak di pikirannya dan pengalaman itulah menjadi sistim pendidikan yang akan diterapkan di tanah air.

Latar belakang Suwardi sebagai penulis dan politikus hingga mampu membawanya jauh berpikir untuk tidak hanya sekedar mendidik segolongan anak-anak saja, tetapi ia akan berusaha mendidik generasi dalam jiwa kebangsaan Indonesia.

Suwardi Soeryaningrat telah membulatkan tekatnya, bahwa melalui Pendidikan adalah tonggak dasar perjuangan bukan hanya melepaskan diri dari cengkeraman penjajahan, tapi jenjang untuk meninggikan derajat rakyat Indonesia. Suwardi telah mantap dan mematangkan konsep pendidikan untuk bangsanya, yaitu dapat berdiri sendiri. Bebas dan Merdeka.

Makanya ia meletakkan dasar kemerdekaan tersebut sebagai azas pendidikan anak-anak Indonesia. Pendidikan Nasional yang dicita-cetakannya harus dapat mandiri, merdeka berarti hidup tak terperintah namun mampu mengaturnya dengan tertib, berdasarkan kekuatan bangsa sendiri. Merdeka batinnya, pemiķirannya, tenaganya menjadi keseimbangan dalam merdeka lahir dan batin. Itulah makanya Suwardi mencari keseimbangan dengan memperhatikan dasar kebudayaan.

Dalam kebudayaan ada etika yang bermoral agama yang mampu mengikuti pikiran dan perasaan hingga tidak timpang, di mana satu sama lain dapat saling mendukung, saling mengisi, berkembang dalam pertumbuhan yang wajar menurut kodrat alam, dengan demikian tercapailah maksud hidup sewajarnya tanpa ada tekanan oleh sesuatu yang dipaksakan. Kebebasan hidup sang anak lahir dan batin, menimbulkan kemampuan serta keberanian hidup dan percaya akan kekuatan diri sendiri.

Cita-Cita pendidikan Ki Hajar Dewantara inilah yang tumbuh menurut kodrat kemudian kita kenal dengan Sistim Among. Yaitu mengasuh dengan mempercayai anaķ-anak untuk bergerak tumbuh sesuai kodratnya atau bakatnya, dengan tetap mengikuti dan mempengaruhi agar anak dapat berjalan ke arah yang baik. Melalui sistim Among ini, diharapkan dengan kebebasannya anak dapat mengembangkan bakatnya dan sang anak selalu mencari jalan sendiri tanpa menunggu perintah.

Inilah salah satu cita-cita Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan Nasional itu, yakni menjadikan anak Indonesia kelak menjadi penegak keluhuran tanah air dan bangsa yang berdaulat, mandiri, berwibawa dan bersatu mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan nusa dan bangsa.

Kesimpulan : Lahirnya Pendidikan Nasional di Indonesia secara historis dan tak bisa dipungkiri adalah berdasarkan konsep-konsep jiwa nasionalis dan  pemikiran, serta pengalaman dari Ki Hajar Dewantara, terutama saat Ki Hajar Dewantara dibuang atau diasingkan ke negeri Belanda (1913-1919).

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan nasional adalah sistim pendidikan yang mampu menanamkan jiwa dan semangat kebangsaan, yang mampu memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, yang mampu mempertahankan kemerdekaan bangsanya, yang mampu mengisi kemerdekaan bangsanya melalui tujuan tujuan pendidikan yang tercermin dalam bagaimana anak bangsa menjadi manusia Indonesia yang taqwa, merdeka lahir batin, luhur akal budinya serta sehat jasmaninya hingga menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya.

Penutup :  Seiring dengan perkembangan yang terjadi pada penyelenggaraan Pendidikan Nasional saat ini, khususnya keluhuran budi pekerti dan nasionalisme yang mulai luntur dari jiwa anak didik sebagai generasi penerus bangsa, terutama peran moral yang berlandaskan agama semakin terkikis. Alangkah bagusnya bila Pendidikan Nasional di Sekolah kembali diberi wewenang untuk mengembangkan jiwa anak dengan sistim Among, ke kesatuan pendidikan nasional yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara “Mandiri, Bebas merdeka, tertib dan damai”.

Salam dan bahagia, 

Penulis Adalah :

– Koresponden KopiPagi (koranpagionline.com)

– Alumni Tamsis P.Siantar dan pernah belajar di Univ. Sarjana wiyata Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here