Beranda HUKRIM Dr Marthen H Toelle : Pengelolaan Administrasi di Kejari Salatiga ‘Amburadul’

Dr Marthen H Toelle : Pengelolaan Administrasi di Kejari Salatiga ‘Amburadul’

250
0
Dr Marthen H Toelle SH MH, kuasa hukum terdakwa Sriyono alias Penjol.

KopiPagi | SALATIGA : Dr Marthen H Toelle SH MH, kuasa hukum terdakwa Sriyono alias Penjol (42) warga Warak, Kel Dukuh, Kec Sidomukti, Kota Salatiga hanya bisa tertawa dan heran dengan membaca surat dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Salatiga yang didalamnya diantaranya berisi masa penahanan kliennya itu.

Dalam Surat Pelimpahan Perkara Acara Pemeriksaan Biasa (APB) Nomor : 29/M.3.20.3/Eku.2/03/2021, dan menyebutkan point penahanan mulai dari penyidik, perpanjangan, JPU maupun Hakim sangatlah “amburadul”. Bahkan, masa penahanan yang disebutkan sangatlah ngawur dan tidak cermat.

“Terdakwa Sriyono alias Penjol disebutkan oleh Penyidikan ditahan tanggal 04-12-2020 s/d 23-12-2020, Perpanjangan tanggal 24-12-2020 s/d 01-02-2021. Kemudian penahanan oleh JPU tanggal 01-02-2020 s/d 20-02-2021, dan ke empat oleh Hakim tanggal 10-02-2020 s/d 11-03-2021. Selanjutnya dikeluarkan Hakim pada 20-03-2021,” kata Dr Marthen H Toelle SH MH kepada koranpagionline.com, Kamis (25/03/2021).

Menurut Marthen Toelle bahwa masa penahanan oleh JPU dan Hakim itu sangat tidak wajar dan aneh. Kasus Sriyono masuk bulan Desember 2020, namun penahanan oleh JPU disebutkan mulai tanggal 01-02-2020 sampai 20-02-2021. Ini kan ditahan selama 1 tahun lamanya. Begitu juga oleh Hakim, ditahan tanggal 10-02-2020 sampai 11-03-2021 dan ini juga sama kurang lebih satu tahun lamanya.

“Ini surat model apa dan penahanan model apa. Yang jelas, pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Salatiga tidak cermat dan gegabah. Apalagi, surat itu sudah ditandatangani Kajari Salatiga Moch Riza Wisnu Wardhana SH MH, tertanggal 19 Maret 2021. Harusnya, sebelum bertandatangan dilihat, dibaca dan dicek secara teliti dan surat ini ada kaitannya dengan masalah hukum. Sekali lagi saya tandaskan, Kejari Salatiga tidak cermat. Dan surat ini cacat hukum, ” katanya.

Lebih lanjut Marthen Toelle katakan, bahwa pihaknya akan mempertanyakan masalah surat ini dan masa penahanan oleh JPU dan Hakim yang dibuat ngawur dan asal-asalan ini. Hal ini tidak bisa dibiarkan, Kajari Salatiga harus bisa mengusut siapa yang membuat surat tersebut.

“Sekali lagi saya tegaskan, bahwa pengelolaan administrasi di Kejari Salatiga amburadul. Surat ini sebagai buktinya, jika tidak amburadul tidak mungkin surat ngawur ditandatangani Kajari Salatiga. Dan untuk kasus Sriyono alias Penjol ini, akan kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Salatiga pada 29 Maret 2021,” tandasnya. ***

Pewarta : Heru Santoso. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here