Beranda HUKRIM Terpapar Radikalisme : Dilarang ke Suriah, Mahasiswa IPB Nyaris Bunuh Orangtua

Terpapar Radikalisme : Dilarang ke Suriah, Mahasiswa IPB Nyaris Bunuh Orangtua

6141
0
Ken Setiawan

KopiPagi | JAKATA : Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center mengaku mendapatkan laporan dari masyarakat yang cukup histeris, pasalnya pelaku merupakan keponakan Polisi yang menjabat Wakapolres  dan tantenya adalah polwan dengan pangkat Kombes berdinas di Mabes Polri ini hampir membunuh orang tuanya karena dilarang berangkat ke Suriah.

Sebut saja Putra ( Nama Samaran) awalnya adalah anak yang taat dan penurut pada orang tua, rajin ibadah dan suka membantu teman yg membutuhkan.

Awal kecurigaan keluarga karena terjadi penyimpangan perilaku menurut kawan kawan saat berada di kampus IPB Bogor sering dialog frontal memojokan, menyalahkan pemerintah dan aparat, semua yang di lakukan oleh pemerintah dan aparat salah.

Ketika pulang ke rumah, Putra sampai mengecat dinding rumahnya yang semula putih lalu diganti dengan warna cat hitam dan ditengahnya ditulis kalimat tauhid.

Ketika minta dana dan tidak dikasih selalu marah marah, dan tidak tidak segan melempar perabot rumah tangga,

Bahkan ketika kedua orang tuanya sedang sholat berjamaah dirumah sempat di tendang dan di pukul oleh Abdullah sampai lebam lebam dan memar karena tidak dikasih dana untuk keluar negeri dengan alasan jihad. Sempat ambil senjata tajam tapi berhasil orang tuanya.

Karena curiga, saat Putra kembali kuliah di Bogor, kedua orang tuanya menggeledah kamarnya dan ditemukan surat wasiat pamitan kalau Putra hendak berangkat ke Suriah untuk berjihad.

Akhirnya keluarga menghubungi Hotline NII Crisis Center di 0898-5151-228 dan minta untuk berdialog dengan Putra agar bisa kembali normal seperti sedia kala.

Melalui tahapan identifikasi, investigasi dan rehabilitasi akhirnya Putra menyadari kesalahan dan mulai berubah kembali walaupun belum seratus persen, terus diadakan dialog dan memberikan kegiatan agar tidak berfikir kembali radikal.

Menurut Ken, pola perekrutan radikal kini dilakukan secara acak, siapapun berpotensi direkrut.

Dulu ketika Ken bergabung di Negara Islam Indonesia, keluarga TNI – POLRI sangat di jauhi karena rentan dengan keamanan, kini asal di yakinkan bisa berbohong dan meninggalkan keluarga maka akan menjadi target dan direkrut juga.

Ini tantangan berat pemerintah, sebab menurut Ken, persoalan terorisme tidak akan bisa hilang bila akar permasalahnya intoleransi dan radikalisme di biarkan.

Intoleransi bagi Ken adalah pintu gerbang radikalisme dan terorisme, ketika seseorang tidak menerima perbedaan, yang benar hanya dia dan kelompoknya saja sementara kelompok lain salah, bahkan surga diklaim hanya diri dan kelompoknya sementara yang lain di cap masuk neraka.

Penindakan teroris penting, tapi bila pencegahan tidak dilakukan secara terstruktur, sistematif dan masif, maka persoalan terorisme tidak pernah hilang dan tetap akan dapat subur dinegeri ini. Tutup Ken.

Ken Setiawan membenarkan bahwa ada anak dari Kapolda terpapar radikalisme di lingkungan kampus. Dalam hal ini, Ken mengaku tidak menyalahkan pihak manapun termasuk orang tua dari si anak.

Pasalnya, kampus merupakan tempat pusat ide dimana setiap akademisi dapat mengekspresikan ide-idenya.

“Karena ketika di kampus, kampus itu kan pusat ide. Orang bisa mengekspresikan idenya, ketika ide-ide (radikal) itu diterima, ide itu akan berkembang disana.

Bahkan Ken pernah mendapatkan laporan anak rektor salah satu kampus di wilayah Jakarta positif terpapar radikalisme. Artinya radikalisme atas nama agama bisa menimpa siapa saja. *Kop.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here