Beranda Food Estate Tunggu Panen Padi : Petani Balige Tanam Jahe & Jagung di Lahan...

Tunggu Panen Padi : Petani Balige Tanam Jahe & Jagung di Lahan Pegunungan

85
0
Warga Masyarakat Petani Nensi Siahaan bersama Anita Manullang melakukan kegiatan bertanam jahe disamping tanaman Jagung di Desa Aek Bolon Balige. Fhoto Julius P. Siahasn, Selasa (26/01/2021).

KopiPagi Toba :  Kerja keras membanting tulang, memeras keringat hingga menguras tenaga dalam rutinitas sebagai petani, takkan sia-sia bila saat panen. Itulah yang dilakukan sehari-harinya warga masyarakat petani Pajaja (padi, jagung dan jahe) di Balige, Kabupaten Toba Provinsi Sumatera Utara. Kini tinggal menghitung hari bakal memanen apa yang telah ditanamnya.

Di atas lahan pegunungan, berbukit dan terjal, rata-rata lahan pertanian berbentuk terasering. Di atas lahan inilah para petani bercocok tanam padi, jagung dan jahe. Tentunya masa tanam pun disesuaikan dengan musim yang kadang sulit diterka karena iklim yang sulit diprediksi. Namun berbekal dengan insting bertani, para warga betani tetap gigih ,menjalankan pekerjaannya sebagai petani.

Seperti apa yang diungkapan masyarakat petani di Desa Aek Bolon Jae Balige, Nensi Siahaan dan Anita Manulang. Mereka bahu membahu menggarap sawah dan ladang untuk ditanami Jahe dan jagung. Sedangkan untuk menambah bisa juga ditanam tumpangsari dengan tanaman lainnya seperti sayuran.

Menurut Nensi Siahaan sebenarnya pekerjaan yang lolos dari dampak pandemi Cocid-19 tak lain hanya bertani. Bertani itu tidak ada matinya sampai kapanpun dan tidak mengenal krisis. Karena lahan pertanian sebagai ujung tombak ketahanan pangan nasional dan bahkan dunia.

“Bertani itu sehat dan umumnya para petani jarang yang terkena virus Corona atau terpapar Covid-19. Karena kami setiap hari beraktivitas di sawah dan ladang tanpa mengenal lelah. Sengatan matahari pun itu sudah tak hirau, demi hasil panen kami,” tandas Nensi.

Untuk tanaman padi, kata Anita Manulang, karena kondisi wilayah di lahan terasering maka bertanam padi hanya bisa panen 3 kali  dalam 2 tahun. Namun demikian. Ia masih bisa tanam system tumpangsari di lahan jagung maupun jahe.

“Tanaman padi yang menerima hasil satu kali telah mendapat 20 – 25 kaleng per satu rantai. Hingga kadang tidak menentu hasil tanam kita. Oleh karena itu, guna menunggu hari dan bulan bertanam padi, disamping itu kita melakukan tanaman jahe atau jagung di atas lahan yang berbeda,” ujarnya.  ***

Pewarta : Julius P. Siahaan.

Editor      : Mastete

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here