Beranda HUKRIM Ini Cerita Ibu Korban (Dedi) Pembunuhan Sadis di Pekon Karta Tanggamus

Ini Cerita Ibu Korban (Dedi) Pembunuhan Sadis di Pekon Karta Tanggamus

4022
0
Pasutri Inah (49) dan Juned menceritakan kejadian pembunuhan Dedi, anaknya.

KopiPagi | TANGGAMUS : Peristiwa berdarah yang merenggut jiwa Dedi alias Aceng di Pekon Karta wilayah hukum Kanbupaten Tanggamus Provinsi Lampunag, hingga kini belum terungkap dan menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Pihak Polres masih mengumpulkan informasi dan memeriksa beberapa saksi guna menguak dugaan pembunuhan ini.  

Saat itu jurnalis koranpagionline.com menyambangi kediaman Dedi alias Aceng, korban pembunuhan sadis. Usai meminta izin dan mengutarakan niat dari kedatangan, akhirnya pihak keluarga memberikan izin untuk bertemu langsung kepada Ibu kandung almarhum Dedi yakni Ibu Inah (49) dengan didampingi sang suami Juned serta Rohili yang merupakan petani sekaligus tetangga rumah Juned di perkebunan.

Dedi merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara. Dua orang kakak Dedi diketahui merantau dan tinggal di Jakarta, sedangkan adik bungsu Dedi (Hendra), saat kejadian sedang bersama ayahnya menginap di kebun.

Inah dengan suara sedikit serak nan lemah menceritakan ikhwal peristiwa berdarah yang merenggut jiwa putra ini. Kejadian bermula, saat itu di dalam rumah ini selain dirinya dan Dedi ada perempuan yang merupakan ipar (istri dari adik Dedi)  serta 2 orang cucu Inah malam itu, karena ayah dan adik bungsu Dedi (Hendra) menginap di kebun.

Siang itu Dedi tidak menunjukkan perubahan sedikitpun dam masih terlihat normal seperti dengan aktifitas kesehariannya. Dedi bersama temannya disibukkan kegiatan membuat perangkap ikan terbuat dari bambu yang biasa disebut masyarakat bubu (alat tradisional). Ketika menjelang malam Dedi terlihat ngobrol dengan temannya yang masih tetangga dekat rumahnya hingga malam. Bagi Inah ini adalah aktifitas normal dalam pergaulan anak-anak muda seperti biasanya.

Namun setelah waktu mendekati subuh, Inah mulai terasa gelisah, kemudian ia terbangun dan menengok anak-anaknya. Namun ia tak mendekat hanya melihat dari pintu kamar saja, lalu Inah menengok jam dinding yang menunjukan pukul 03.30 wib. Dirasa sebentar lagi subuh, ia langsung menuju dapur. Saat berada di dapur inilah Inah sempat melihat grendel pintu belakang dalam posisi tak terkunci. Ia bergumam di hatinya pasti Dedi lupa menguncinya semalam.

“Setelah dari dapur itu, ibu (Inah) ini nengok lagi anak (Dedi) di kamarnya. Usai itu ibu masuk balik ke kamar ibu lagi. Nunggu Subuh inilah perasaan ini gelisah dan gak enak lagi, lalu ibu coba tidur dengan setengah sadar. Tepat pukul 04.00 wib saya terbangun karena dengar suara cukup keras dari grendel pintu di dapur seperti ada orang yang membuka pintu. Langsung ibu pergi ke dapur dan melihat posisi pintu sudah terbuka serta mendengar langkah kaki berlari,” ingat Inah.

Tanpa rasa curiga sedikit pun Inah kemudian menutup pintu lalu berjalan menuju ke kamar Dedi. Sesampainya di kamar Inah melihat ada darah dan menyangka korban saat itu mengalami mimisan dari hidung. Melihat hal itu Inah menyentuh kepala korban seraya memanggil Dedi (Nak) berulang kali. Inah pun mengucap kalimat tauhid “Laillahaiallah Allahuakbar” alangkah terkejutnya Inah saat memegang kepala korban dan melihat luka di leher Dedi dalam kondisi robek atau bolong.

“Ibu langsung menjerit sekeras-kerasnya, berusaha meminta pertolongan tetangga maupun warga disini. Ibu saat mengucap kalimat Laillahaiallah Allahuakbar, Aceng (Dedi) masih bernapas ibu sempat lihat dia masih menghadapi sakratul mautnya kondisinya seperti orang cegukan,” lirihnya.

Tak banyak yang Inah harapkan dalam hal ini, ia mengaku sudah ikhlas dan ridho atas kejadian yang menimpanya. Bagi pelaku yang hingga kini masih dalam penyelidikan kepolisian Polres Tanggamus, apabila tertangkap agar diberikan hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku di negeri ini.

Sementara itu, menurrut Juned, ayah korban, selain ia dan istrinya, Hendra (adik korban) dan ke-enam teman Dedi juga diperiksa oleh pihak kepolisian. Namun Hendra dan ke-enam teman korban sampai saat ini belum pulang ke rumah mereka masih di Polres Tanggamus guna memberikan keterangan.

“Ibunya ini (Inah) mau saya bawa berobat dulu. Sebab, sangat terguncang, almarhum Dedi sudah tiada, ditambah adiknya (Hendra) masih berada di Polres Tanggamus. Saya mohon doanya supaya ini segera selesai, kasihan lihat ibunya begini,’ ‘tandas Juned.  *Yan/Kop.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here