Beranda NASIONAL Ken Setiawan : Doktrin Radikal Anggap Presiden Dzalim Seperti Firaun

Ken Setiawan : Doktrin Radikal Anggap Presiden Dzalim Seperti Firaun

100
0
Ken Setiawan. Foto : Ist.

KopiPagi | JAKARTA : Perkembangan radikalisme dalam era globalisasi lewat media sosial semakin meningkat ditambah dengan berkembang pesatnya teknologi yang membuat gerakan radikal muncul secara masif di dunia nyata maupun dunia maya.

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan mengatakan bahwa media sosial merupakan peluang bagi kelompok radikalisme disaat pandemi untuk melakukan propaganda dan perekrutan melalui internet.

Salah satu cara ampuh untuk membuat orang menjadi radikal dan militan terhadap suatu kelompok adalah diberikan lawan atau musuh, kalau tidak ada musuh maka ciptakan musuh, ibarat orang agar mau diajak berkelahi ya harus punya musuh, jadi mereka itu membuat propaganda dengan membenturkan sesuatu dengan agama supaya orang benci kepada aparat dan pemerintah termasuk presiden.

“Aparat dimusuhi oleh kelompok radikal karena aparat yang menangkap anggota dan pimpinan mereka. Aparat dianggap menghalang-halangi perjuangan atau jihad mereka. Bahkan, aparat dituduh telah memadamkan cahaya Tuhan, maka membunuh aparat dianggap jihad yang utama, makanya beberapa kasus terorisme yang disasar adalah aparat,” tandas Ken.

Lebih lanjut, Ken Setiawan katakan bahwa situasi dilematis memang bagi kelompok radikalisme untuk menerima kenyataan bahwa saat ini adalah kondisi yang tidak menguntungkan. Sebab, iklim demokrasi dianggap haram dan Pancasila juga dianggap taghut atau berhala. Sedangkan mereka tidak ada pilihan lain kecuali tetap tinggal dan ikut di negara demokrasi ini.

Disaat galau inilah mereka menumpahkan kemarahan dan kekesalan terhadap apapat dan pemimpin yang dianggap taghut dan dzalim di media sosial.

“Mereka berusaha meyakinkan kepada anggotanya bahwa kondisi hari ini adalah sama seperti kondisi umat dan nabi Musa dibawah tekanan Firaun yang dzalim. Presiden kita dianggap Firaun masa kini,” jelas Ken.

Mereka juga, lanjut Ken, selalu menghakimi orang yang berseberangan dengan mereka dengan sebutan munafik, murtad, anti Islam, komunis, bahkan bila memuji kinerja aparat dan pemerintah dianggap penjilat. Pokoknya, tidak ada baiknya sama sekali.

Group group di medsos mereka manfaatkan untuk propaganda, mulai facebook, whatsapp telegram dan lsinnya termasuk mereka juga membuat website website baru untuk mengcounter berita-berita tentang pemerintah. Pokoknya, semua yang dilakukan aparat dan pemerintah tidak ada benarnya alias salah. Tidak sedikit pula berita yang dibumbui dengan informasi hoax dan ujaran kebencian untuk meyakinkan para anggotanya.

“Tidak sedikit orang yang biasanya berteman akrab, gara-gara pendapatnya berbeda kini saling blokir dan putus pertemanan hanya karena berita hoax,” ujar Ken.

Walaupun mereka sebenarnya takut juga dengan sanksi dari berita hoax yaitu undang-undang informasi dan transaksi elektronik (ITE), karena beberapa tokoh dan anggota mereka tertangkap aparat karena beberapa kasus terkait UU ITE dan ujaran kebencian.

Dalam kondisi galau tersebut mereka sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Sebab, mau memberontak secara frontal bagi mereka sudah yakin akan kalah. Sedang untuk menunggu Pemilu tahun berikutnya belum tentu jagoan mereka menang. Jadi media sosial mereka manfaatkan untuk menumpahkan kemarahan mereka.

Menurut Ken, Presiden kita memang belum sempurna, masih ada kekurangan, termasuk masih ada indikasi oknum aparat dan pejabat yang tidak baik. Namun demikian, kritis boleh itu boleh dan sah-sah saja tetapi jangan sampai mengarah tiindakan makar.

Ken Setiawan menekankan bahwa krtitis itu bukan berarti harus memberontak dan menyamakan presiden dengar Firaun serta menganggap hari ini sebagai masa jahiliyah. Justru era demokrasi ini adalah kesempatan dan peluang untuk kelompok radikal bisa bebas dan tumbuh subur, karena kalau di luar negara demokrasi mereka dilarang. Demikian Ken Setiawan menyampaikan kepada KopiPagi, Senin (04/01/2021). *Kop.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here