Beranda BIVEST Kembangkan Pertanian Hayati, Petir Ngaji Tani Bersama Petani Paguyangan

Kembangkan Pertanian Hayati, Petir Ngaji Tani Bersama Petani Paguyangan

230
0
Ngaji Tani Petir bersama petani Paguyangan Bumiayu Brebes.

KopiPagi BUMIAYU : Persatuan Desa Tani Nusantara (Petir) terus mengembangkan kesadaran pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan dan  berkelanjutan. Dalam rangka meningkatkan pengelolaan dan produktivitas, organisasi tersebut, turun langsung menggelar ngaji tani bersama kelompok-kelompok tani Brebes dan Banyumas di Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah, Minggu, (29/11/2020).

Pagelaran yang berlangsung di SMK Ma’arif NU 2 Paguyangan, Brebes tersebut menghadirkan Pembina Petir  Gus Rochim Pati, Ketua Umum Petir KH. Nur Budi Hariyanto, S.Tete Marthadilaga, Sigit Setiawan, direktur produksen pupuk cair hayati Biokonversi Johny Tarigan. Hadir pula kelompok-kelompok tani dari berbagai kluster pertanian dan peternakan dan perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Brebes.

Berbagai keluh kesah disampaikan para petani, baik petani padi, kelengkeng, sayur mayur dan holtikultura, budidaya ikan lele, peternak dan petani khusus organik. Mayoritas dalam pengelelolaan pertanian dan peternakan, masih terkendala kurang memadainya kebutuhan sarana dan prasarana pertanian (saprotan) dan sarana dan prasarana produksi (saprodi).  Sedangkan untuk pertanian organik masih terbentur dengan pemasaran hasil tani.

Di samping itu, para petani juga menanyakan program kredit usaha tani (KUR) untuk meringankan beban pembiayaan pengelolaan produksi pertanian. Selama ini, mereka merasa kesulitan dan belum memahami pola program KUR yang dicanangkan pemerintah. ‘’Kami masih belum faham tata cara mengajukan KUR,’’ ujar Tohuro, seorang penggerak pertanian organik.

Ketua Pembina Petir Gus Rochim Pati menjawab berbagai keluhan tersebut dengan menguraikan pengelolaan pertanian yang difasilitasi pemerintah, termasuk program KUR tersebut. Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah membangun kesadaran dan kemauan untuk menjadi petani.  ‘’Petani harus yakin bahwa pertanian ini merupakan jihad pangan penyelamatan negeri,’’ ujarnya berapi-api.

Menurut Gus Rochim, jihad pangan perlu dilakukan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan mejadikan Indonesia lumbung pangan dunia 2045. Agar berkelanjutan demi anak cucu, maka sedikit demi sedikit pengelolaan pertanian dengan tujuan besar tersebut harus memperhatikan kelestarian daya dukung tanah dan lingkungan pertanian.’’Oleh karena itu, pertanian hayati ini perlu terus dikembangkan,’’ tandas koordinator lapangan Gugus Tugas Pemuka Agama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu.

Pertanian yang dikembangkan dengan pola hayati tersebut, lanjut Gus Rochim, perlu dikembangkan karena menjadi tren global. Jika produktivitas meningkat, sementara pasar ekspor menerapkan persyaratan organic dan hayati, maka pertanian Indonesia telah siap untuk memenuhinya. ‘’Jadi, pertanian hayati, back to nature, salah satunya dengan pemupukan biokoversi ini yang harus dilakukan,’’ ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Petir Nur Budi Hariyanto menguraikan fasilitasi KUR yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Di samping landasan hukum yang telah dipersiapkan dengan baik, pola fasilitsi terus dilakukan berdasarkan evaluasi puluhan tahun dan proyeksi pengembangan ke depan.

Pagu KUR terus diperbesar untuk mendukung korporasi pertanian  sebagai salah satu pilihan pengembangan produktivitas dan kesejahteraan petani. Pola offtaker sebagai bapak angkat dan mitra  petani diperlukan untuk melakukan pendampingan pertanian, mulai dari fasiitasi perolehan pemmbiayaan hingga pemasaran hasil  pertanian yang seringkali menjadi kendala bagi petani. ‘’Pola penyaluran KUR dengan skema offtakaer ini untuk mempermudah aksesi petani berdasarkan feasibilitas pertanianya,’’ terangnya.

Seperti yang dikeluhkan para petani, persoalan yang dihadapi diantaranya adalah kesulitan modal dan kebingungan pemasaran hasil pertanian. Dengan adanya offtaker yang menjamin pasar, petani tidak khawatir lagi terhadap serapan hasil pertanianya. ‘’Karerna itu, pola KUR dan korporasi pertanian ini  diharapkan  menjadi pola yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian dan mencapai ketahanan pangan,’’ tandasnya. * Kop.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here