Beranda U T A M A Mantan Salesman Kaligrafi, Kini Tekuni Bisnis “Kopi Kenthir”

Mantan Salesman Kaligrafi, Kini Tekuni Bisnis “Kopi Kenthir”

521
0
Sriyanto menujukkan piagam perhargaan sebagai penyeduh kopi terbaik di Kabupaten Semarang.

KopiPagi UNGARAN : Berawal dari kerja sebagai salesman di wilayah Aceh tepatnya daerah Gayo selama dua tahun dan tiap hari selalu melihat orang mengolah kopi dan minum kopi, akhirnya membuat Sriyanto tertantang untuk menggeluti usaha pengolahan kopi, selanjutnya tahun 2008 pulang dari Aceh dan di desanya memulai membuka usaha pengolahan kopi yang diberi nama “Kopi Kenthir” (Kenthel tur Ireng).

Sriyanto menunjukkan cara memasak kopi menjadi minuman

Untuk menuju tempat usaha pengolahan Kopi Kenthir milik Sriyanto (46) warga Dusun Jeruk Legi RT 05 RW 06, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang itu, harus menempuh perjalanan kurang lebih 2 KM melalui jalan menanjak dan berliku dari jalan raya Jambu – Magelang. Ditemui koranpagionline.com di rumahnya, Sriyanto menceritakan kisahnya dalam dunia “perkopian” atau memulainya usaha pengolahan kopi. Sebelum mengawali usaha pengolahan kopi, bapak tiga orang anak ini selalu terngiang akan slogan mantan Gubernur Jateng Bibit Waluyo yaitu “bali ndeso, mbangun deso”. Slogan inilah setiap hari selalu menempal dalam benaknya.

“Slogan mantan Gubernur Jateng Bibit Waluyo itulah yang memberikan dukungan agar saya cepat pulang ke desa/rumah dan harus bisa ikut ‘cawe-cawe’ dalam mbangun deso. Kemudian, beberapa bulan sebelum pulang kenal dengan salah satu pejabat di Provinsi Aceh dan ditantang untuk mengolah kopi dan membuat minuman kopi. Dari tantangan itu, ternyata pejabat tersebut memuji saya jika minuman kopi buatannya lain dari minuman kopi lainnya,” terang Sriyanto kepada koranpagionline.com ketika ditemui di rumahnya, Senin (27/07/2020) sore.

Suami dari Mursidah Hasan ini, akhirnya tahun 2008 pulang dari Aceh sekaligus keluar dari pekerjaan sebagai salesman. Dan sampai di rumah mencoba mengolah kopi untuk diminum dengan cara tradisionil. Ternyata, hasil olahannya banyak disukai orang. Lalu, tahun 2014 menamai usahnya dengan nama “Executive Taste”.

Dari nama tersebut kemudian mencoba untuk mencoba mendaftarkan ke HAKI di Jakarta. Ternyata, oleh salah seorang konsultan dikatakan nama itu tidak akan lolos dan diminta merubahnya. Saat itu juga, saya langsung menyebut kata “Kenthir” untuk nama kopi hasil olahannya sendiri itu. Konsultan itu langsung menyetujuinya dan langsung didaftarkan ke HAKI. Kopi ‘Kenthir’ ini merupakan perpaduan tiga jenis yaitu Arabica, Rusta dan Esselsa. Dan arti darei Kenthir adalah “Kenthel tur Ireng”.

“Modalnya saya nekat saja dan niat lepas dari salesman. Saya lalu ingat pesan pejabat di Aceh itu dengan memotifasi saya jika akhirnya harus ‘balik kampung’. Pesannya, “Jika Mau Usaha Harus Berani Beda dengan Yang Lain” serta dengan model ATM (Amati, Tiru-tiru dan Modifikasi). Dan ternyata pesan itu dapat benar-benar terwujud,” katanya.

Dalam memulai usahanya itu, Sriyanto nekat mengajukan pinjaman uang ke BRI pada program KUR dan pengajuan kreditnya akhirnya disetujui. Namun, ternyata hanya disetujui sebesar Rp 3 juta dan ini sebagai modal awalnya memulai bisnis olahan kopi.

“Modal Rp 3 juta lalu saya buat membeli kopi semuanya. Kemudian kopi mentah itu saya olah sendiri secara tradisionil dan saya jual kopi bubuk itu di Kota Semarang setiap harinya. Kopi yang beli dari para petani dari Dusun Jeruk Legi ini melaluim kelompok tani. Dari sinilah, ternyata kopi hasil olahan saya banyak diminati. Rata-rata ke Semarang hanya menjual 2 kilogram saja, karena memang itu merupakan hasil sekali gorengan dan saya lakukan sendiri dalam menggoreng,” tuturnya.

Menurut aktifis Banser ini dikatakan, bahwa dalam menggoreng kopi secara manual, hanya bisa menghasilkan 1,5 kilogram (Kg). Dalam sehari pagi sampai sore, dapat menggoreng sebanyak 8 kali, namun efeknya tangan kanannya lama kelamaan tidak kuat bahkan saat istirahat tangannya sulit untuk digerakkan.

Dengan kondisi tangan yang sakit, akhirnya memutar otak dan mendapatkan ide untuk membuat alat sendiri. Dan, ide alat gorengan yang dibuatnya sendiri itu, terwujud dengan membuat alat dari tukang las di kampungnya. Dari alat ini, hasil olahannya semakin hari semakin meningkat.

“Awalnya, kopi olahan saya itu saya jual per kilogramnya sebesar Rp 140.000. Saat itu, hanya saya jual di Kota Semarang dan uang hasil penjualan kopi itu, sama sekali tidak pernah saya gunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Setelah itu hasil olahan kopi itu saya pertahankan bahkan saya tingkatkan,” katanya.

Sriyanto menujukkan produk kopi olahannya

Sriyanto juga mengaku jika awalnya hasil olahan kopinya itu jika dibuat minuman rasanya mengandung sepet. Ternyata, ini pengaruh dari alat penggorengan yang tidak tahan panas. Untuk menghilangkan rasa sepet akhirnya alat gorengnya diberi penutup dan dapat menahan panas. Kemudian apinya dikecilkan, sehingga nampak “kentir-kentir” atau apinya kecil dan panasnya lama.

“Dari sinilah, nama Kenthir itu menginspirasi saya untuk memberikannya kepada kopi hasil olahan saya dan akhirnya sampai sekarang dengan nama “Kopi Kenthir (Kenthel tur Ireng)”. Pemasaran Kopi Kenthir ini, kini sampai Kota Semarang, Magelang, Temanggung, Kudus, Pati, Jepara, Kabupaten Semarang sendiri. Bahkan, kini mulai banyak permintaan dari Bandung, Jakarta bahkan luar Jawa,” kata lelaki yang juga sebagai pemijat terapi.

Selain itu, setelah kopinya mulai dikenal, mulai dilirik dinas terkait di Pemkab Semarang. Kemudian, diikutkan mengikuti pameran dan mewakili Kabupaten Semarang. Diantaranya di Batang, Kota Semarang serta Soropadan Temanggung maupun daerah lain. Khususnya saat pameran di Soropadan selama 4 hari, Kopi Kenthir ini berhasil mendulang sebesar Rp 7 juta.

“Sekarang ini, Kopi Kenthir saya jual per kilogramnya seharga Rp 200.000. Selain melayani permintaan atau pemesanan Kopi Kenthir, juga melayani pembelian kopi bubuk tanpa merk Kenthir. Untuk ciri khas Kopi Kenthir yaitu cara penyajiannya yang lain daripada yang lain. Yang jelas, sangat berbeda dengan olahan kopi lain dan rasanya pun sangat berbeda,” tandasnya. Kop.

Pewarta :

Heru Santoso

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here