Beranda LIFE Inspirasi E-learning Perhutanan Sosial di Tengah Pandemi

Inspirasi E-learning Perhutanan Sosial di Tengah Pandemi

57
0

Oleh : Swary Utami Dewi *

KopiOnline JAKARTA , – Pernahkah terbayangkan para petani hutam dan pendamping bisa memasak dan bahkan menunggui istri melahirkan di Sulawesi saat mereka belajar? Pernahkah terbayangkan beberapa orang dari kelompok tani hutan dari pelosok di Kabupaten Bungo di Jambi keluar jauh dari desanya menempuh jalan berlubang dan berlumpur sepanjang 70 Km untuk belajar?

Swary Utami Dewi

Dan pernahkah terbayang beberapa petani di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, harus  mencari sinyal dan kemudian duduk di bawah langit biru untuk belajar? Pernahkah terbayangkan ribuan petani hutan dan pendamping belajar gratis selama empat hari menggunakan internet di masa Pandemi ini? Semua “keajaiban” ini ditemukan di gelaran Pelatihan Pendampingan Perhutanan Sosial yang telah mulai dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sejak akhir April 2020.

Pelatihan e-learning atau belajar jarak jauh online “Perhutanan Sosial” (PS) yang diselenggarakan oleh KLHK selama tiga minggu, sejak 27 April hingga 15 Mei 2020, telah mampu merangkul jumlah total sekitar 1.500 peserta. Peserta sendiri berasal dari petani hutan yang sudah mendapatkan legalitas PS, beserta pendamping, baik dari unsur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), bakti rimbawan maupun penyuluh kehutanan. Bisa dikatakan, sejauh ini belajar jarak jauh via zoom dan LMS ini relatif berjalan mulus. Kendala yang sesekali muncul, khususnya menyangkut hal-hal teknis seputar gangguan internet bisa diatasi dengan baik. Dalam waktu dekat, di bulan Juni akan digelar lagi pelatihan gratis serupa untuk 1.500 petani hutan dan pendamping lainnya.

Metode e-learning ini sendiri memang dirancang untuk menghadirkan pelatihan yang mudah, murah, efektif dan efisien, namun tetap bermutu, serta dapat menjangkau masyarakat sampai ke pelosok (misalnya Maluku dan Maluku Utara). Cara belajar jarak jauh ini juga berhasil menghadirkan sesuatu yang baru bagi petani dan sebagian pendamping dan tutor. Ternyata hanya dengan menggunakan perangkat smartphone ataupun laptop dan keberadaan koneksi internet, mereka dapat mengikuti pelatihan selama empat hari dan mendapatkan pengetahuan dari narasumber yang kompeten, tanpa harus beranjak dari tempat tinggalnya. Sesekali memang muncul masalah sinyal, tapi secara umum bisa diatasi. Pendeknya, semua menjadi terhubung, baik peserta, tutor, admin, maupun pelaksana kegiatan e-learning ini.

Pesertapun terkesan, merasa puas dan menyampaikan apresiasi terhadap e-leaning ini. Febriansya, seorang petani muda dari Kelompok Tani Hutan Desa Kelubi, Manggar, Kepulauan Bangka Belitung, menyatakan ia dan teman-temannya semula merasa was-was apakah bisa bergabung di pelatihan karena terbatasnya fasilitas serta koneksi internet yang kurang mendukung. Namun semua bisa teratasi. Febriansya dan rekan-rekan bisa bergabung dan mengikuti pelatihan dengan baik. Pemuda 27 tahun ini memberikan apresiasi terhadap e-learning ini yang dikemas untuk meningkatkan ketrampilan petani. Ia juga merasa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pasar produk Perhutanan Sosial.

Senada dengan Febriansya, beberapa peserta lainnya juga menyatakan hal yang sama. “Saya senang sekali. Di sini, saya mendapat pelatihan pemetaan. Jadi saya mulai tahu cara menggunakan Global Positioning System (GPS). Dan ini memang saya perlukan di kelompok, ” tutur Andi Samsualang, seorang petani dari Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Pendeknya, banyak peserta yang mengapresiasi terobosan e-learning ini.

Belajar dari kesuksesan e-learning Perhutanan Sosial ini, adakah hal-hal penting yang bisa dipelajari?  Utamanya, faktor-faktor apa yang mendukung kelancaran pelatihan ini? Terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada beberapa pembelajaran penting dari  e-learning ini. 

Pertama, adanya ide yang unik namun dikemas matang. E-learning ini memenuhi kriteria tersebut. Unik karena yang diselenggarakan adalah e-learning berdurasi empat hari bagi para petani hutan dan pendamping. Bahkan ada di antara mereka yang berdomisili jauh di pelosok. Dikemas matang karena pelatihan ini bukan sesuatu yang asal jadi. Ada serangkaian modul, bahan ajar, sistem teknologi, tutor dan tim penunjang lainnya. Ada proses persiapan, pelaksanaan dan evaluasi yang dijalankan.

Kedua, materi yang disajikan membumi. Materi ini sesuai dengan kebutuhan para pendamping dan petani hutan saat melakukan kegiatan paska mengantongi akses legal Perhutanan Sosial. Beberapa mata pelajaran yang terbilang berat, yakni Pengelolaan Pengetahuan dan Monitoring Evaluasi, dikemas secara cerdas dan sederhana sehingga bisa aplikatif saat diterapkan di lapangan.

Hal ketiga yang menjadi faktor keberhasilan adalah pendekatan. Pendekatan yang dilakukan tutor, admin dan penyelenggara mengedepankan empati dan humanis. Hubungan tutor dan peserta dibangun sehangat dan secair mungkin sehingga kecanggungan dan kekhawatiran peserta bisa diminimalisir. Semua bersikap suportif terhadap para peserta untuk tetap menjaga semangat belajar mereka.

Faktor ke-empat adalah adanya tim yang solid yang mampu bekerja padu dan saling dukung, mulai dari persiapan, pelaksanaan sampai evaluasi. Tim ini mencakup penyelenggara (penanggung jawab, admin dan sub-admin, serta staf) maupun tutor. Dalam e-leaning ini, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia serta Direktorat Jendral Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan telah menunjukkan kemampuan kerjasama lintas eselon yang baik.

Ringkasnya, sebagai salah satu tutor, saya mendapatkan pengetahuan dan banyak hal yang menyangkut pembelajaran orang dewasa. Saya belajar tentang daya juang petani dan pendamping yang tidak putus asa mendapatkan pengetahuan baru meski ada pandemi. Saya menyaksikan kerja solid tim pendukung yang bekerja tanpa lelah dan melayani dengan hati. Saya melihat kelihaian para tutor mengolah materi menjadi layak santap bagi petani hutan dan pendampingnya. Saya juga menyaksikan kolaborasi yang baik tiap orang maupun instansi.

Pandemi telah membuka kreativitas dan inovasi. Saya kira apa yang dilakukan KLHK layak ditiru dan dikembangkan oleh instansi pemerintah lain yang memerlukan pelatihan dan pendampingan dalam bidang lain, seperti nelayan, petani sawah, atau siapa saja yang memerlukan pendampingan untuk menjalankan program di tingkat tapak. Bravo KLHK. ***

Penulis Adalah :

Anggota TP2PS Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial, Anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here