Beranda BIVEST Kementan Kebut Serapan KUR di Bandung Raya, Gayung pun Bersambut

Kementan Kebut Serapan KUR di Bandung Raya, Gayung pun Bersambut

44
0
Direktur Pembiayaan Ditjen PSP Kementan, Ir Indah Megawati bersama Staf Ahli Menpan, Rafly Fauzi saat mengunjungi stand hasil produkpertanian yang dipamerkan.

KopiOnline BANDUNG,- Ribuan calon kreditur yang terdiri dari pengusaha dan berbagai unsur petani, berbondong-bondong mendatangi lokasi pertemuan konsolidasi dalam rangka percepatan dan penyerapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang di gelar di Hotel Sunshine, Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu (08/03/2020).

Masyarakat di wilayah Bandung Raya khususnya para pengusaha UMKM, Koperasi, petani, peternak, pengrajin baik yang tergabung pada kelompok tani, Gapoktan dan HKTI antusias menyambut program KUR yang digulirkan pemerintah melalui Kementerian Pertanian. Terlebih, KUR kali ini digaungkan dengan istilah “tanpa ribet tanpa macet, petani makmur”.   

Para pengusaha UMKM, koperasi dan berbagai unsur petani secara simbolis menerima dana KUR.

Demikian halnya dengan suku bunga yang turun menjadi 6 persen setahun (sebelumnya 7 persen). Begitu halnya plafon maksimum KUR Mikro pun dilipatgandakan dari semula Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta per debitur. Dan yang paling fantastis, total plafon KUR juga ditingkatkan dari Rp 140 trilyun menjadi Rp 190 trilyun. Sementara anggaran KUR di sektor pertanian juga digenjot menjadi Rp 50 trilyun.

“Kami para petani dari berbagai unsur dan pengusaha di beberapa kabupaten dan kota di Jawa Barat, bukan saja siap mengawal penggelontoran KUR Rp 190 trilyun, tetapi sudah siap menyerap KUR yang di targetkan di wilayah kami,” tandas Ketua Pos Komando Pembiayaan Jawa Barat, Suryana kepada media ini, Senin dinihari (09/03/2020) di Hotel Sunshine Soreang.

Rasa optimis terhadap penyerapan KUR di Bandung Raya juga ditunjukkan tokoh muda yang digadang menjadi Kiai milenial, Abdul Azis yang menggalang para petani untuk memamerkan hasil produk pertanian. Hasil olahan produk petani itu di antaranya, abon ikan lele, keripik kulit ikan lele, bakso ikan lele, kopi dan cemilan lainnya.

“Para petani sudah mampu memproduksi hasil pertanian dengan berbagai kreasi, namun masih terbentur permodalan dan kesulitan dalam pemasaran,” ujar Abdul Azis saat memandu Direktur Pembiayaan Ditjen PSP Kementan, Ir. Indah Megawati, Staf Ahli Menpan, Rafly Fauzi, Dewan Pembina Pusat Komando Pembiayaan, Andi Jamaro dan pejabat perbankan plat merah.

Dorong Penyerapan KUR Sektor Hilir

Sementara itu, Kementerian Pertanian pada tahun anggaran (TA) 2020 mentargetkan pengikatan serapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di kalangan petani yang selama ini masih sangat rendah. Padahal KUR pertanian dinilai sangat produktif, terutama untuk komoditi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan.

Ir. Indah Megawati, MP, Direktur Pembiayaan Pertanian pada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian mengatakan, salah satu strategi peningkatan penyerapan KUR pertanian adalah dengan mendorong pemanfaatan di sektor hilir.

Tim percepatan dan penyerapan KUR ketika mengunjungi Ponpes Al Ittifaq Ciwedey sambil memanen Salada Bokor.

“Kami mendorong pemanfaatan KUR untuk pembelian alat pertanian,” ucapnya dalam acara Sosialisasi Percepatan dan Penyaluran KUR di Hotel Sunshine Soreang Kabupaten Bandung, Minggu (08/03/2020) sore.

Selama ini, kata Indah, pemanfaatan KUR pertanian memang masih terkonsentrasi di sektor hulu atau budidaya. Padahal KUR pertanian sektor hulu hanya sebatas KUR mikro dengan plafon Rp 5-50 juta.

Sektor hulu, kata Indah, selama ini dianggap lebih mudah diakses karena tidak memerlukan agunan. Padahal KUR dengan plafon besar pun sebenarnya akan mudah diakses jika digunakan untuk pembelian alat pertanian seperti traktor dan lainnya.

Tim percepatan KUR ketika diterima pengasuh Ponpes Al Ittifaq, KH Fuad Affandi.

“Plafon Rp 500 juta ke atas pun bisa diakses. Soalnya ada agunannya berupa alat pertanian yang dibeli. Selain itu bunganya tetap hanya enam persen,” kata Indah.

Indah menambahkan, selama ini pemanfaatan KUR untuk budidaya pun masih sering macet. Tak heran jika serapan KUR pertanian pun masih sangat rendah. Namun dengan adanya upaya percepatan dan penyerapan KUR yang digelar di sejumalh wilayah, dengan istilah nggak pakai ribet, nggak pakai macet, diyakini bakal mencapai target. Karena dalam setiap koordinasi percepatan, pihak Kementan bersinergi dengan pihak Perbankan berplat merah, Kelompok Tani, HKTI, Gapoktan dan para pengusaha. Seusai acara dilanjutkan kunjungan ke Pondok Pesantren berbasis Agro Bisnis Al Ittifaq di Ciwidey Kabupaten Bandung. PR/kop .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here