Beranda JAGAT Makna Kunjungan Menlu AS ke Indonesia, Bicara Pilkada & Dialog Agama

Makna Kunjungan Menlu AS ke Indonesia, Bicara Pilkada & Dialog Agama

10
0

KopiPagi JAKARTA : Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) akan berkunjung ke Indonesia. Ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan yang dijadwalkan pada 25-30 Oktober ke sejumlah negara seperti India, Sri Lanka, dan Maladewa.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Morgan Ortagus mengatakan dalam kunjungan ke Indonesia, Menteri Pompeo akan bertemu dengan koleganya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Menteri Pompeo, kata Ortagus ingin menegaskan visi mengenai wilayah Indo-Pacific yang bebas dan terbuka. Menteri Retno membenarkan rencana kunjungan ini, persiapan kedatangan orang penting Amerika itu masih dalam pembahasan.

Pompeo juga akan hadir dalam acara yang digelar oleh Gerakan Pemuda Ansor, organisasi sayap kepemudaan Nahdlatul Ulama, ormas terbesar di Indonesia. Dalam acara itu akan ada dialog tentang agama dan peradaban. Termasuk juga membahas masalah Pilkada dan terorisme.

Amerika Serikat kata Menteri Retno merupakan salah satu mitra penting Indonesia. `”Saya yakin pembicaraan bilateral saya dengan Mike Pompeo akan berjalan dengan baik. Bisa memperkokoh hubungan bilateral dengan Amerika Serikat,” ujar Menteri Retno.

Pengamat Hubungan Internasional Hikmahanto Juwana mengatakan kunjungan Pompeo ke Indonesia bahkan di tengah pandemi Covid-19 menjelang Pilpres AS mengundang banyak pertanyaan.

Dia menilai kunjungan tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan kekhawatiran AS terhadap Indonesia yang dianggap terlalu dekat dengan China.

Apalagi kata dia, belakangan ini China sangat agresif di Laut China Selatan. “Bahkan China dengan kekuatan ekonomi dan penemuan vaksin telah mengembangkan pengaruh ke negara-negara kawasan,” jelas Hikmahanto kepada Anadolu Agency, Jumat.

Agresivitas ekonomi China bahkan menurut buku putih Departemen Pertahanan AS kata dia, memungkinkan Negara Tirai Bambu itu meminta sejumlah negara untuk membangun pangkalan militer, termasuk Indonesia.

AS menurut Hikmahanto, berharap Indonesia berada di belakang Washington. “Permintaan AS untuk mendaratkan pesawat tempur mata- mata beberapa waktu lalu dapat dikatakan demikian,” kata dia.

Karena inilah, pengambil kebijakan di Indonesia harus bisa menjaga politik luar negeri bebas aktif terhadap China, Amerika Serikat, maupun negara mana pun, kata Hikmahanto.

Pandangan yang sama disampaikan pengamat hubungan internasional Dewi Fortuna Anwar. Menurut dia selain ada hubungan kemitraan strategis dengan Indonesia, kunjungan Menteri Pompeo berkaitan rivalitas mereka dengan China saat ini.

Dia menilai Washington ingin agar Jakarta memiliki pandangan yang sama mengenai China. Namun karena kebijakan politik yang bebas aktif, Indonesia harus memberikan pemahaman kepada Amerika Serikat, ujar dia.

Indonesia kata dia juga harus menegaskan kepada Amerika Serikat agar tidak menarik negara-negara ASEAN dalam rivalitasnya dengan China. “Kita harapkan, AS dan China sama-sama menghormati otonomi strategis dan peran sentral ASEAN dalam mencegah konflik,” jelas Dewi.

Dia menilai akan lebih menguntungkan untuk AS jika mendukung ASEAN yang bersatu secara politik, ekonomi, dan sosial sehingga bermanfaat bagi promotor perdamaian regional. Hal lain yang harus disampaikan Indonesia yakni menagih janji Presiden AS Donald Trump yang akan melakukan investasi berkualitas di Asia Tenggara, ujar Dewi.

Apalagi kata dia, saat ini Indonesia lebih banyak bekerja sama dalam bidang keamanan dan pertahanan dibandingkan ekonomi dan investasi. “Hubungan dengan AS hendaknya jangan hanya fokus pada masalah keamanan saja. Kita perlu memberikan penjelasan kalau AS ingin banyak berperan dia harus memperluas janji Trump,” kata dia.

“Hubungan dengan China kan lebih banyak ke ekonomi, terutama bidang investasi infrastruktur. Jadi seandainya ada kekhawatiran dari AS bahwa Indonesia dekat dengan China, tentu harus ada upaya Amerika Serikat untuk memperluas pengaruhnya pada bidang ekonomi,” tambah dia.

Anggota Komisi I DPR Willy Aditya mengatakan lawatan Pompeo menjadi kesempatan Indonesia menyampaikan pesan diplomasinya. Indonesia sebagai negara yang dipandang strategis baik oleh China maupun AS, penting untuk menyampaikan posisi dan pandangannya terhadap isu-isu global.

“Kunjungan ini bisa kita pakai untuk menekankan pesan-pesan diplomasi kita di sejumlah isu seperti Palestina, ketegangan laut Cina Selatan dan lainnya,” kata dia.

Menurut dia eskalasi di Laut Cina Selatan harus disudahi dengan perdamaian dan hubungan yang lebih produktif. “Bahkan kita sebagai negara berdaulat pun kita dicurigai ketika berhubungan dengan negara lawan di antara yang berseteru. Ini sudah tidak benar dan tidak menghargai kedaulatan negara,” jelas dia.

Dia mengingatkan Indonesia untuk tidak terseret kepentingan Amerika Serikat dalam kunjungan Pompeo itu. “Kita punya misi politik luar negeri dan diplomasi tersendiri yang perlu kita perjuangkan. Misi-misi itulah yang harus pemerintah sampaikan kepada Pompeo,” kata Willy.

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan organisasinya ingin mengenalkan Indonesia lebih baik lagi pada dunia. Dia ingin membahas masalah hak asasi manusia, keberagaman, dan toleransi dengan Pompeo dalam dialog mendatang.

Ansor juga ingin mengenalkan prinsip-prinsip bersama atau kalimatun sawa dalam bernegara, seperti Pancasila. “Kami ingin kenalkan Indonesia sebagai negara besar dengan prinsip-prinsip kenegaraan dan keagamaan yang melestarikan kedamaian dunia,” ujar dia.

“Kami bagian dari upaya pemerintah dalam berdiplomasi. Diplomasi kan tidak hanya oleh pemerintah. Tapi juga oleh masyarakat, people to government”. Dep/Kop.

Media Partner
www.depoktren.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here