Terbaru

Kisah Pilu Siti Aisyah, Sudah 15 Tahun Menderita Lumpuh Total dan Sulit Bicara

Siti Aisyah saat ditunggui sang ibu di kamar tidurnya. (Foto : Heru Santoso).

KopiPagi UNGARAN : Siti Aisyah (15) warga Dusun Deres, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, seorang gadis remaja yang harusnya tumbuh layaknya gadis remaja lain seusianya. Namun anak pasangan Ramlan (55) – Saelah (48) ini sejak lahir menderita kelumpuhan. Kini, bocah remaja ini hanya bisa berbaring dan tiduran di tempat tidur di rumahnya.

Saelah (48), ibu Siti Aisyah menuturkan, bahwa anak gadisnya itu mengalami kelumpuhan sejak usia 4 bulan. Selain lumpuh total, gadis remaja ini juga sulit untuk berbicara. Yang membuatnya semakin menderita adalah sejak beberapa bulan ini, kulit dari anak kandungnya itu mengelupas dari kaki hingga kepala.

“Jujur saja, saya saat hamil tidak mengalami sakit apa-apa dan setiap kontrol kehamilan selalu dikatakan sehat. Untuk kelahiran anak saya itu juga normal. Mulai sakit itu, sejak anak saya itu usia empat bulan dan saat itu dari acara hajatan pernikahan. Di hajatan itu, saat akan makan, tahu-tahu anak saya pingsan padahal tidak ada gejala apa-apa. Tahu-tahu pingsan,” ujar Saelah saat ditemui di rumahnya di Dusun Deres, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Kamis (30/07/2020).

Mengetahui anaknya pingsan, sang ibu langsung bingung dan membawanya ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis. Perawatan medis dijalaninya hingga kurang lebih dua tahun dengan rawat jalan. Karena, tidak ada biaya akhirnya perawatan medis dihentikan serta perawatan di dokter syaraf pun berhenti. Kemudian, dirinya melakukan pengobatan alternatif.

“Sejak sakit lumpuh itu, anak saya selalu saha berbaring dan tiduran saja. Dan hanya sekali meninggalkan kasurnya. Tidak jarang, saya bawa Aisyah untuk kena sinar matahari dan saya lakukan setelah mandi pagi. Kadang malah mengagetkan, tahu-tahu tubuhnya kaku dan juga langsung lemas. Ini yang membuat saya dan bapaknya selalu kebingungan menghadapinya,” jelasnya.

Diceritakan juga, untuk masalah makan, anaknya itu hanya mau makan bubur siap saji atau sachet serta air putih yang diberi gula. Pasalnya, jika dipaksa makanan lain selain bubur, pasti perutnya kembung bahkan membesar. Dan untuk penyakit kulit yang muncul sejak beberapa bulan ini, dirinya tidak tahu sebabnya.

Saelah menambahkan, bahwa sejak pusarnya mengeluarkan cairan justru itu menjalar ke seluruh tubuh anaknya itu dan terasa gatal-gatal. Bahkan, kulitnya mengeras dan mengelupas. Saat periksa di bidan, hanya diberikan salep dan sempat mengering. Namun, beberapa hari kemudian nongol dan justru menjalar.

“Untuk masalah bantuan, sudah kami terima dari PKH dan posyandu. Karena, saya secara rutin membawa anak saya ini ke Posyandu di kampung. Bahkan, bantuan dari Dinas Sosial juga sudah saya terima. Harapan saya, anak saya ini dapat segera sembuh dari sakitnya karena sudah berupaya maksimal dalam memeriksakan baik medis maupun non medis seperti pengobatan alternatif. Yang jelas, kami ingin anak kami ini diberikan kesembuhan dan dapat segera melakukan apapun seperti gadis susianya,” ujar Saelah yang telah keluar dari pabrik tekstil di Ungaran, Kab Semarang.

Ditambahkan, bahwa suatu kali pernah anaknya itu dibawa ke salah seorang dukun. Dukun tersebut saat melihat anak saya dan menyatakan bahwa Siti Aisyah itu kesehariannya selalu diikuti oleh seorang nenek tua yang rambutnya sudah putih semua. Dan apa yang dikatakan sang dukun itu, dirinya juga pernah sekali melihatnya dan sangat kaget.

“Sekarang ini, kami untuk dapat bertahan hidup dengan merawat anak yang lumpuh ini, hanya mengandalkan dari pendapatan sang suami yang kerjanya serabutan. Selain itu, suami jualan kayu bakar yang dicarinya dari kebun. Itu saja harganya tidak seberapa, per bongkok kayu bakar dijual seharga Rp 12.500. Harapan kami dan dalam doa kami, agar anak saya ini segera diberikan kesembuhan dan kami juga ingin anak saya ini tumbuh seperti anak seusianya,” tandasnya Saelah didampingi suaminya Ramlan. Kop.

Pewarta : Heru Santoso
Editor : Mastete.

Leave a comment