Terbaru

BKGS Gelar Webinar, Angkat Tema “Gereja di Salatiga Menyongsong New Normal”

Ketua DPRD Kota Salatiga Dance Ishak Palit MSi, saat menjadi nara sumber “seminar online (webinar)” BKGS ;

KopiOnline SALATIGA,- “Gereja di Salatiga Menyongsong New Normal”, tema yang diangkat dalam seminar online (webinar) yang digelar oleh Badan Kerjasama Gereja-Gereja di Salatiga (BKGS), Rabu (03/06/2020). Dalam webinar ini, diikuti sebanyak 73 peserta dari para pendeta gereja-gereja di Salatiga. Intinya, webinar ini sebagai “obat rindu” jemaat gereja di Salatiga untuk dapat melaksanakan ibadah langsung di gereja-gereja.

Ketua DPRD Kota Salatiga Dance Ishak Palit MSi menyatakan, bahwa diakui jika jemaat gereja-gereja di Kota Salatiga ini rindu akan beribadah langsung bersama di tempat ibadah atau gedung gereja. Pasalnya, dengan ibadah online sekarang ini, tidak semua gereja di Salatiga dapat melaksanakannya. Di Salatiga ini ada tidak kurang 90 gereja dan tersebar di empat kecamatan di Salatiga ini. Namun, untuk segera dapat menggelar pelaksanaan ibadah bersama-sama jemaat di dalam gedung gereja, masih harus banyak pertimbangan yang menjadi acuannya.

“Sepanjang di Kota Salatiga ini R-Nol atau R-Naught (metrik krusial mewakili berapa banyak orang yang rata-rata terinfeksi oleh virus yaitu Covid-19) belum berada dibawah satu, maka belum diijinkan untuk pelaksanaan penerapan ‘New Normal’. Sampai sekarang ini, di Salatiga R-Nol atau R-Naught-nya masih berada di angka 1,7 ini berarti pelaksanaan New Normal belum bisa dilakukan. Namun, jika R-Nol nya itu sudah berada dibawah 1, hal ini dapat dilaksanakan New Normal. Dan, menggelar ibadah di gereja dapat pula dilaksanakan, sehingga kerinduan beribadah bersama jemaat itu akan terobati,” kata Dance Palit kepada koranpagionline.com, disela mengikuti webinar BKGS dari ruang kerjanya, Rabu (03/06/2020).

Ditambahkan, jika dipaksakan segera melaksanakan New Normal di Salatiga ini, ada ketakutan yang muncul di masyarakat. Yaitu, munculnya klaster baru penularan Covid-19 selain Klaster Blondo Celong dan Klaster Cempaka. Pasalnya, Kota Salatiga sekarang ini menghadapi puncaknya dan harapannya penyebaran atau wabah Covid-19 ini akan segera berakhir atau selesai tuntas. Sekarang ini, pelaksanaan New Normal adalah menyangkut keselamatan manusia. Jika masih banyak warga yang terjangkit Covid-19, maka pelaksanaan New Normal belum dapat dilaksanakan.

“Khususnya untuk di Salatiga ini, masih sangat beresiko jika memaksakan kehendak melakanakan New Normal. Selain masih tingginya warga terjangkit Covid-19, juga pelaksanaan New Normal ini harus meminta ijin dari pemerintah pusat. Juga, bagaimana Pemkot Salatiga ini mempersiapkan New Normal apakah sudah benar-benar siap. Ini yang harus menjadi bahan perenungan, pemikiran serta kajian yang mendalam sebelum benar-benar melaksanakan New Normal,” terang politisi PDI Perjuangan.

Ketua BKGS Purwanto MPd, saat memberikan paparannya.

Meski, nantinya tidak lama lagi pelaksanaan New Normal dan para jemaat gereja dapat beribadah bersama di dalam gedung gerejanya masing-masing, maka yang harus dilakukan diantaranya pengawasan ketat terkait dengan penerapan protokol kesehatan bagi seluruh jemaat yang beribadah. Diantaranya, jemaat wajib memakai masker, mencuci tangan sebelum masuk ibadah serta harus berjaga jarak di dalam gereja.

“Apakah seluruh gereja di Salatiga sudah benar-benar siap melaksanakan ibadah secara fisik atau langsung dengan mentaati akan protokol kesehatan ?. Ini yang harus dipikirkan ‘matang’ sebelum membuka ibadah langsung di gereja,” katanya.

Disamping itu, yang terpenting dan utama adalah bagaimana memberikan edukasi kepada seluruh jemaat gereja. Terkait dengan ‘social distancing dan physycal distancing’ dan sebagainya. Pihaknya berpendapat, apabila dalam tempo minimal 14 hari ke depan dan harapannya jumlah pasien positif  Covid-19 di Salatiga semakin turun dan tidak ada ledakan baru, maka New Normal itulah adalah jalan sangat terbaik yang harus dilakukan.

Sementara itu, Walikota Salatiga Yuliyanto SE MM menyatakan, bahwa Pemkot Salatiga dalam menghadapi mewabahnya Covid-19 sekarang ini tidak diam semata namun telah melakukan berbagai langkah demi menurunnya penyebaran Covid-19 di Kota Salatiga. Jika memang harus segera melaksanakan New Normal dan pemerintah pusat mengijinkannya maka akan dilakukan kajian mendalam maupun survey lapangan secara langsung.

“Sebelum pelaksanaan New Normal benar-benar dibuka di seluruh wilayah di Indonesia ini, maka lebih baiknya pihak BKGS melakuan inventarisir gereja-gereja mana yang telah siap menggelar ibadah secara langsung. Bahkan, apakah seluruh gereja di Salatiga sudah seluruhnya siap mematuhi protokol kesehatan dengan ketat. Jika memang ada yang belum siap, lebih baik tetap mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap beribadah di rumah atau online,” ujar Yuliyanto, dalam paparannya dalam webinar.

Bimas Kristen Kemenag Kota Salatiga Dwi Kuncoro mengatakan, bahwa adanya surat edaran dari Menteri Agama (Menag) RI, itu semua tidak serta merta dapat diterapkan atau dilaksanakan di semua daerah. Dan apakah masing-masing daerah itu, tingkat penyebaran Covid-19 sama, ini yang harus menjadi bahan pertimbangan dan kajian mendalam.

“Paling tidak, harus dilihat dulu angka penyebaran Covid-19 masih tinggi ataukah rendah, atau apakah benar-benar sudah menurun. Intinya, surat edaran Menag RI itu masih harus disinkronkan dengan situasi dan kondisi riil di masing-masing daerah di Indonesia ini. Untuk Kota Salatiga, nampaknya belum dapat segera melaksanakan New Normal, jika melihat kondisi nyata sekarang ini,” terang Dwi Kuncoro.

Jemaat Gereja Sudah Rindu Ibadah di Gereja

Sementara itu, Ketua BKGS Purwanto MPd menyatakan, bahwa diakui para jemaat gereja-gereja di Salatiga ini sangat merindukan akan ibadah langsung di gereja. Dan jika memang sudah diijinkan melaksanakan ibadah tersebut maka mau tidak mau harus siap untuk melaksanakan ‘ibadah yang legal’. Artinya, harus menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Memang, selama ibadah di rumah, tidak semua gereja dapat menggelar ibadah secara online karena berbagai pertimbangan yang ada.

“Untuk melaksanakan ibadah langsung di masa pandemi Covid-19 sekarang ini, memang diakui banyak pertimbangannya. Disamping di Salatiga masih marak wabah Covid-19 juga belum resminya akan pelaksanaan New Normal. Namun, kabar gembira datang dari Bapak Yuliyanto Walikota Salatiga bahwa BKGS ini diberikan kesempatan untuk membuat dan menyampaikan surat resmi kepada Walikota Salatiga terkait dengan pelaksanaan ibadah langsung di gereja. Dari sini, Pemkot Salatiga akan melakukan kajian dan survey lapangan secara langsung, apakah layak atau tidak jika gereja menggelar ibadah secara langsung,” jelas Purwanto kepada koranpagionline.com.

Menurutnya, bahwa sebanyak 90 gereja di Kota Salatiga ini dalam menyelenggarakan ibadah online maupun ibadah secara langsung adalah tidak bisa disamakan. Perbedaannya ada pada fasilitas untuk ibadah online. Begitu juga, jika harus menggelar ibadah di gereja, apakah semua gereja sudah benar-benar siap melaksanakan protokol kesehatan saat di gereja. Karena dengan hadirnya jemaat gereja dan harus patuh protokol kesehatan, hal ini harus menjadi bahan pemikiran dan pertimbangan dalam menggelar ibadah secara langsung di dalam gedung gereja.

“Jika memang diijinkan dapat melaksanakan ibadah langsung di gereja, hal ini merupakan kebahagiaan tersendiri. Namun, semua itu kembali pada situasi dan kondisi sekarang ini. Harapan kami, Pemkot Salatiga dapat mengijinkan ada gereja yang sudah dapat menggelar ibadah secara langsung di gereja dan siap melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat,” katanya.

Dalam seminar online atau webinar ini, sebagai nara sumber masing-masing Walikota Salatiga Yuliyanto SE MM, Ketua DPRD Dance Ishak Palit MSi, dan Bimas Kristen Kemenag Kota Salatiga Dwi Kuncoro. Dengan moderator DR Bambang Ismanto (Dosen FKIP UKSW Salatiga yang juga pengurus BKGS). Para peserta tidak kurang ada 73 peserta yang merupakan para pendeta dari berbagai gereja di Kota Salatiga. Heru Santoso.

Leave a comment