Terbaru

Karantina 4 Hari di RSUD Perdagangan, Warga PDP Belum Ditangani Dokter

MRI (19) warga Nagori Siantar Estate Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun, kembali dijemput Tim Gugus Tugas Penanganan dan Pencegahan (GTPP) Covid-19 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun

KopiOnline. SIMALUNGUN,- Pasca evakuasi yang dilakukan Tim Gugus Tugas Penanganan dan Pencegahan (GTPP) Covid-19 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simlungun kepada MRI (19) warga Nagori Siantar Estate Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun, sejak dijemput Selasa (19/05/2020) sampai dengan Jumat (22/05/2020) sama sekali belum ditangani oleh tim dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Perdagangan.

Hal itu disampaikan Minus alias MRI kepada KopiOnline, Jumat (22/05/2020) sekira pukul 11.40 WIB.

“Sehat wak, belum ada diperiksa wak,” kata MRI melalui WA saat dikonfirmasi terkait dengan tindakan, penanganan dan pemeriksaan dari dokter.

Sebelumnya, jawaban yang sama yaitu ‘belum ada penanganan ataupun pemeriksaan’ dari dokter di RSUD Perdagangan juga sudah disampaikan MRI melalui WA pada Kamis (21/05/2020).

“Ia wak aman, belum ada dokternya, datangpun gak meriksa cuman nyapa aja,” kata MRI melalui WA.

Sebagai informasi kekinian, pantauan awak media di lokasi tidak tetlihat status waspada khusus. Pasalnya, keluarga dari MRI hingga saat ini masi tinggal di rumah itu tanpa ada pengawasan atau isolasi sebagai mana Standar Operasional Prosedur (SOP) Covid-19.

“Kondisinya sama saja seperti saat evakuasi, tidak ada pengawasan khusus terhadap rumah dan keluarga,” kata warga sekitar.

Dalam pemberitaan KopiOnline sebelumnya, upaya penjemputan atau evakuasi yang dilakukan Tim GTPP Covid-19 Pemkab Simalungun dinilai keluarga dan sejumlah warga Siantar Estate terkesan tidak profesional dan dinilai sebagai upaya untuk menghabiskan anggaran Covid-19 yang sudah di kucurkan,” tulis MRS salah satu warga di Group WA.

Menurutnya Pemkab Simalungun tidak profesional dalam melaksanakan GTPP karena menjemput warga yang sudah pulang dari karantina selama 14 hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Perdagangan, pada hal sebelumnya status PDP atas nama MRI sudah dinyatakan sehat oleh RSUD Perdagangan sendiri.

Lanjutnya, Pemkab Simalungun terkesan memaksakan kehendak untuk menghabiskan anggaran negara yang tertera di anggaran GTPP Covid-19.

Terkait dengan upaya penjemputan itu, masyarakat Siangar Estate merasa ketakutan, karena dinilai RSUD Pedagangan sangat ceroboh mengeluarkan atau memulangkan warga yang PDP sebelum keluar hasil akhir dari pemeriksaan laboratorium.

“Kita sangat takut sekarang, sebab warga PDP itu sudah berbaur dan berinteraksi selama ini di tengah masyarakat,”kata MRI.

Pernyataan yang sama juga disampaikan Babe warga Siantar Estate. Ia mengatakan bahwa prosedur penjemputan MRI tidak sesuai prosedur karena di rumah warga yang disebut terpapar Covid-19 tidak dikasi police line dan keluarga tidak di isolasi,” katanya kepada, Redaksi KopiOnline, pada Rabu (20/05/2020)

Sebagai informasi, personil Polres Simalungun yang dipimpin Kapolsek Bangun AKP B Manurung SH bersama tim GTPP Pemkab Simalungun melakukan penjemputan kepada MRI yang disebut terpapar Covid-19, walau sempat mendapat perlawanan.

Atas sikap perlawanan dari keluarga MRI, salah satu warga yang melihat dan mendengar negosiasi persuasif menyebutkan bahwa Pangulu menyarankan supaya yang bersangkutan untuk mau di bawa Tim GTPP.

“Sudahlah maulah di bawa, keluargamu aku jamin dan bila perlu Siantar Estate ini akan di Lockdown (Tutup),” kata Babe mengutip ungkapan Pangulu Nagori Siantar Estate M Rusdi pada Selasa (19/05/202).

Sebagai informasi, sebelumnya MRI hanya mengalami demam sejak pulang dari Kota Medan pada Rabu (01/04/2020) lalu. Terkait dengan gejala demam itu, MRI berobat atau memeriksakan kesehatannya ke Puskesmas Rambung Merah pada (07/04/2020) dan setelah dilakukan Rapid Test, diketahui hasil reaktif.

Dengan hasil reaktif, pihak Puskesmas Rambung Merah melakukan karantina kepada MRI di RSUD Pedagangan selama 14 hari. Ironisnya, setelah menjalani karantina, pada Selasa (21/04/2020), RSUD Perdagangan memulangkan MRI dengan catatan sehat.

Sayang, napas lega dari status PDP Covid-19, napas MRI kembali tersesak dengan status Positiv Covid-19, pacakeluarnya hasil laboratorium pada Senin (18/05/202) lalu.

Dari hasil Polymerase Chain Reactive (PCR) yang dilakukan oleh lembaga laboratorium Jakarta pada Senin (18/05/2020) dengan hasil positiv a/n MRI kembali masuk ke RSUD Perdagangan, pada Selasa (19/05/2020) sekira pukul 11.30 WIB.

MRI dijemput atau dievakuasi oleh tim GTPP Pemkab Simalungun yang dihadiri oleh Kapolsek Bangun AKP B Manurung SH, Camat Kecamatan Siantar Daniel Silalahi, Danramil 08 Bangun Kapten Arh P Siagian, Kapus Rambung Merah Sahat Sidauruk, Pangulu Siantar Estate M Ruadi, Kanit Unit III Ipda S Simbolon, Kanit Intel Ipda B Nainggolan dan Kanit Sabhara Ipda TRP Silaban.

MRI dibawa tim GTPP dengan mobil ambulance BK 1389 T ke RSUD Perdagangan.

Terkait dengan penjemputan warga yang tadinya dinyatakan sehat oleh RSUD Perdagangan, Pangulu Nagori Siantar Estate M Rusdi mengatakan. Isolasi kepada pihak keluarga MRI masih kordinasi dengan Puakesmas.

“Sudah di kordinasikan dengan pihak Puskesmas,” katanya dengan singkat melalui WA.

Status Waspada Khusus

Terkait dengan sataus waspada khusus yang ditetapkan Pangulu Nagori Siantar Estate, sejumlah jalan masuk ke Huta Melati ditutup. Status waspada khusus itu dituliskan dalam pengumuman Nomor:140/38/12.08.01.2007/2020, dengan dasar karena salah seorang warga Huta Melati positiv Covid-19. .

Dengan status waspada khusus, akses jalan melalui jalan Farel Pasaribu dan gang Belacan ditutup.

Masyarakat hanya dapat menggunakan satu akses jalan yaitu jalan Jasa Putra menuju jalan Hok Salamuddin,

Sehingga protokol posko Covid-19, yaitu mengukur suhu, wajib menggunakan hand sanizer bagi setiap warga yang keluar masuk. Son/Kop

Redaktur: nilson pakpahan

Leave a comment