Terbaru

BMKG: Cuaca Ekstrim di Jakarta Saat ini, Sudah Diprediksi Sejak Tahun 1900

Polda Metro Jaya Sedang Mengevakuasi Masyarakat DKI Jakarta yang Terdampak Banjir. Foto : Ist.

KopiOnline JAKARTA,- Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan, fenomena cuaca ekstrem berupa intensitas hujan sangat tinggi secara terus menerus yang terjadi belakangan ini di Indonesia sudah diprediksi sejak tahun 1900 atau lebih 100 tahun lalu. 

Berdasarkan prediksi tersebut, terdapat pola cuaca ekstrem terjadi dalam siklus yang semakin pendek dan intensitas semakin tinggi. 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati – Foto Istimewa…

“Hal yang perlu dipahami, yaitu seluruh fenomena ini bukan kejadian yang kebetulan saja. Fenomena ini adalah fenomena yang terkait dengan data yang kami pantau selama sejak tahun 1900 bahkan 1860-an. Grafik kondisi perkembangan cuaca ekstrem sejak tahun 1900 sampai 2020,” kata Dwikorita Karnawati di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (25/02/2020).

Lebih jauh Dwikorita Karnawati menyebut, berdasarkan data dan analisa yang dilakukan BMKG, cuaca ekstrem pertama kali tercatat pada 1918, lalu selanjutnya didapati pada tahun 1950. Jadi, ada jeda waktu 32 tahun setelah cuaca ekstrem pertama terjadi. 

Setelah itu, kata Dwikorita Karnawati, cuaca ekstrem kembali terjadi pada 1979. Jeda waktu selanjutnya cukup pendek, yakni hanya 17 tahun ketika cuaca ekstrim selanjutnya terjadi pada tahun 1996. Enam tahun kemudian terjadi lagi pada 2002 atau enam tahun kemudian. Menyusul cuaca ekstrem pada 2007, kemudian 2008. 

Genamham banjir di ruas jakan DI Panjaitan arah dari Cawang menuju Halim Jakarta Timur, cukup parah hingga tidak bisa dilalui kendaraan.

Menurut data BMKG, cuaca ekstrim selanjutnya kembali terjadi dan hanya berjarak lima tahun yakni tahun 2013. Kemudian berjarak semakin pendek yakni cuaca ekstrem pada 2014 dan 2015. Dan yang teranyar terjadi pada tahun 2020 ini.

“Kesimpulannya apa? Kondisi ekstrem ini kejadian semakin sering dalam 30 tahun terakhir dan semakin pendek dalam 10 tahun terakhir,” ujar Dwikorita Karnawati. 

Beriringan dengan jangka waktu yang kian pendek, intensitas curah hujan juga semakin tinggi. Mulai dari 125,2 mm per hari pada 1918, naik jadi 198 mm per hari pada 1979, menjadi 216,2 mm per hari pada 1996. 

Intensitas curah hujan sempat turun pada 2002, dan kembali naik pada 2007 menjadi 203,7 mm per hari. Menyusul di cuaca ekstrem pada tahun-tahun berikutnya, intensitas curah hujan turun naik sampai mencapai titik tertinggi 277,5 mm per hari pada 2015. 

Seorang wanita ini demi menghindari genangan air tak masalah digendong penolongnya y7ang seorang laki-laki. Namun ada yang nyeletuk ” wah menang banyak tuh, bapak”.

Menurut Dwikorita Karnawati, siklus cuaca ekstrem ini tidak lepas dari perubahan iklim global dan lokal yang disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari peningkatan gas emisi rumah kaca, kurangnya penghijauan sampai kegiatan industri yang tak ramah lingkungan.

Menurut data yang dicatat pada 1865 sampai 2010, Dwikorita Karnawati mengatakan terjadi peningkatan suhu sampai 1,5 derajat celsius di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan sejak 2010 sampai 2019 kenaikan suhu tercatat hingga 1,13 derajat celsius, paling tinggi di Kepulauan Riau dan Banten.

“Penyebab utamanya dari hasil observasi dan analisa BMKG, ada korelasi signifikan dengan kandungan gas rumah kaca yang ada di wilayah Indonesia,” jelas Dwikorita.

Secara rinci, Dwikorita Karnawati menjelaskan, rekor terbaru gas emisi rumah kaca di Indonesia mencapai 407,8 ppm. Angka ini relatif lebih rendah di bawah rata-rata peningkatan gas emisi dunia.

Ada juga aksi tak terpuji tatkala sedang terjadi banjir, bukannya menolong korban banjir tetapi malah melakukan perusakan fasilitas umum dan lainnya.

Dwikorita Karnawati menyebut, perkara ini perlu segera ditanggulangi oleh pemerintah dan dia mengaku sudah mengkoordinasikan ini kepada pemerintah daerah terkait melalui Rapat Koordinasi Khusus.

Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur sebagian besar wilayah Jakarta sejak Senin (24/02/2020) malam hingga Selasa pagi. Akibatnya, dari data BPBD DKI Jakarta, sekitar 294 RW di Ibu Kota atau 10,34 persen  dari jumlah RW di Jakarta tergenang banjir.

BPBD DKI mencatat total pengungsi hingga Selasa siang mencapai 973 kepala keluarga dengan total 3.565 jiwa. Mereka berada di 40 titik pengungsian.

“Intensitas tertinggi terukur pada 25 Februari pukul 07.00 WIB di wilayah Kemayoran, 278 mm. Ini sudah melalui 150 mm, berarti merupakan intensitas hujan ekstrem,” jelas Dwikorita Karnawati. Otn/kop

Leave a comment