Terbaru

Kejati DKI Jakarta Kembali Terima Berkas Perkara Hoaks Ratna Sarumpaet

KopiOnline Jakarta,– Setelah sempat dikembalikan, Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, Kamis (10/01/2019), kembali menerima berkas perkara penyebaran berita bohong (Hoaks) atas nama tersangka Ratna Sarumpaet (RS) dari penyidik Polda Metro Jaya.

ADVETORIAL

“Benar tim jaksa telah menerima kembali pelimpahan berkas perkara Hoaks atas nama tersangka RS dari penyidik Polda Metro Jaya. Ini bukan sesuatu yang luar biasa. Ini bagian dari penyidik melengkapi petunjuk jaksa,” kata Dr Mukri, Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung (Kejagung), kepada wartawam di Jakarta, Kamis (10/01/2019). 

Dia menjelaskan tugas tim jaksa penuntut umum setelah menerima pelimpahan berkas perkara dari penyidik yakni melakukan penelitian berkas perkara tersebut untuk melihat apakah berkas perkara tersebut sudah memnuhi unsur formil dan materil atau tidak.

“Saat ini berkas perkara masih diteliti tim jaksa, kita lihat saja nanti apa hasilnya,” jelasnya. 

Menurutnya, jika dalam penelitian tim jaksa melihat berkas perkara sudah penuhi unsur formil dan materil maka akan dikeluarkan penetapan surat P21 atau menyatakan berkas sudah lengkap.

Namun jika tim jaksa penuntut umum menilai berkas perkara belum penuhi unsur formil dan materil maka berkas perkara akan dikembalikan kembali ke penyidik dengan petunjuk.

“Jika memenuhi akan langsung di P21, tapi jika belum terpenuhi tidak menutup kemungkinan kita kembalikan kembali dengan petunjuk,” ujarnya.

Disinggung jika nantinya hasil penelitian tim jaksa penuntut umum menyatakan berkas belum lengkap, apakah bisa antar tim penyidik Polda Metro Jaya duduk bareng dengan tim jaksa penuntut umum untuk membahas petunjuk jaksa yang harus dipenuhi, Mukri menegaskan hal tersebut dapat dialkukan, pasalnya kejaksaan memiliki ruang konsultasi penyidikan.

“Bisa dikoordinasikan. Kita fleksibel. Duduk bersama antara penyidik dan penuntut agar petunjuk jaksa penuntut umum (JPU) bisa dipenuhi penyidik. Agar tidak bolak balik terus berkasnya,” tutupnya.

Sementara Kepala Unit Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKP Nico Purba mengatakan tim penyidik telah melengkapi berkas perkara sesuai dengan petunjuk tim jaksa penuntut umum, bahkan, kata Nico, dalam berkas perkara tersebut terdapat 20 poin yang diperbaiki.

Namun Nico enggan menyebutkan poin-poin apa saja yang diperbaiki. “Materinya tidak bisa disampaikan, tapi secara formil maupun materil ada 20 poin tambahan,” katanya.  

Disinggung soal apakah ada penambahan saksi dalam berkas perkara yang dikirim ke Kejati DKI, Nico menjelaskan sesuai dengan petunjuk jaksa penuntut umum maka penyidik melakukan pemeriksaan  saksi tambahan yakni Rocky Gerung.

“Atas petunjuk jaksa yang kita panggil ada Rocky Gerung untuk saksi tambahan,” jelasnya. 

Dia berharap berkas perkara yang telah dilengkapi sesuai dengan petunjuk jaksa penuntut umum dapat dinyatakan berkas perkara lengkap atau memenuhi unsur formil dan materil atau P21. 

Sebelumnya, Kejaksaan telah menunjuk 9 jaksa penuntut umum (JPU) yang untuk mengikuti perkembangan perkara kasus pembohongan publik (hoaks) atas nama tersangka Ratna Sarumpaet. Terkait dengan penugasan kesembilan jaksa tersebut, Kejati DKI Jakarta telah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) No: B/20576/X/Res.1.24/2018/Datro dari penuidik Polda Metro Jaya.

Kesembilan jaksa itu adalah Yuniar Sinar Pamungkas SH.MH, Payaman SH.MH, Hartawan SH, Rahimah SH, Reza Murdani SH.MH, Agus Bahtiarsyah SH, Sru Astuti SH, Agus Harmaini SH dan Rianiuly Naretta SH.

“Mereka para jaksa ini bahu membahu mempelajari berkas perkara RS sebelum dinyatakan lengkap (P21) dan selanjutnya dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan sesuai hukum yang berlaku,”katanya.

Kasus posisi perkara tersebut bermula pada 2 Oktober 2018 sekira pukul 15.00 Wib, satu tim dari unit 1 Subdit 4/Umum Ditreskrimum Polda Metro Jaya melaksanakan penyelidikan atas info berita penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet, aktifis Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga anggota tim sukses calon Presiden Prabowo Subianto, yang sudah tersebar di media sosial.

Dari hasil penyelidikan diperoleh fakta tertanggal dilaporkan penganiayaan (21 September 2018), ternyata Ratna Sarumpaet sedang melaksanakan operasi kecantikan di RS Khusus Bedah Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusar.Sehingga berita penganiayaan tersebut dapat disimpulkan berota bohong dan apabila disebarkan atau disiarkan dapat menimbulkan kebencian atau keonaran di masyarakat.

Berdasarkan SPDP dari penyidik, tersangka Ratna Sarumpaet diduga melakukan tindak pidana penyebaran berita bohong (hoaks) melanggar pasal 28 ayat (2) jo pasal 45A ayat (2) Undang-Undang RI No 19tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang RI No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Syamsuri

Leave a comment