Terbaru

Dr. Abdul Azis Khafia : Politik Santun Hasilkan Politisi Rasa Negarawan

KopiOnline Jakarta,- Diskusi Publik yang bertemakan “Membangun Budaya Politik Santun Dalam Rangka Memperkuat Pertahanan Negara” didukung nara sumber antara lain, Marsekal TNI (Purn.) Ir. Muhammad Johansyah, M.Eng.,M.A. (Dosen, Peneliti Keamanan Internasional), Dr. Abdul Rivai Ras, MM, M.S, M.Si, (Dosen Kajian Stratejik dan Global UI dan Fouder BRORIVAI Center, Dr. Abdul Aziz Khafia, S. Si, M.Si. (Anggota DPD RI / MPR RI) dan Deny Charter (Direktur Lembaga Survey INDEX POLITICA) serta dipandu  Modenator Nur Budi Hariyanto, M.Si.

Aristoteles mengakui bahwa Demokrasi bukan sebuah sistem yang ideal, tetapi merupakan sistem yang paling dapat dijalankan dalam sebuah Negara. Aristoteles bahkan menyebut bahwa demokrasi rentan terhadap budaya anarkisme. Plato juga mengkritisi demokrasi dengan menyebut bahwa ada kelemahan demokrasi yaitu orang-orang mengejar kemerdekaan dan kebebasan tidak terbatas. Akibatnya, munculah kekerasan, kekacauan, tidak bermoral dan ketidaksopanan. Demikian Dr. Abdul Azis (Anggota DPD-Rl/MPR RI) mengawali pemaparannya dalam Diskusi Publik yang digelar di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan Jakarta Selatan, Selasa (18/12/2018).

Dari urian diatas, Dr. Abdul Azis hanya ingin menggambarkan sisi lemah demokrasi langsung dari formulatornya. Uraian diatas jika ditarik dalam konteks Indonesia, itu kini sedang berlangsung. kebebasan yang tak terbatas membuat akar dan simpul sosial budaya asli Indonesia tercerabut. Politik era ini nyatanya menimbulkan kegelisahan, bahkan jika tidak segera disadari akan memunculkan integrasi nasional.

Pemilu 2014 mewariskan ketidak kerukunan sosial, diperparah dengan Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Dua kontestasi politik tersebut bukanlah watak politik bangsa Indonesia. Akar budaya politik Indonesia bisa dilacak dari jejak sejarah, yaitu mengutamakan moralitas, kesantunan, keadaban dan musyawarah. Seperti misalnya, di Aceh ada istilah Gampong, di Padang ada Wali Nagari. Ada sebuah nilai-nilai yang mendasari setiap orang untuk berpolitik.

Pemilu Umum 2019 sudah kini sedang berproses dan pelaksanaannya sudah i ambang pintu. Kita melihat dinamika politik yang tidak hanya dikalangan elit, tetapi juga dinamikanya terasa hingga lapisan masyarakat terbawah. Terakhir, kasus tewasnya warga Madura karena status di media sosial tentang Pilpres.

Polmark, belum lama meliris basil Survey tentang Potensi Pemilu menyebabkan keretakan dan kerenggangan hubungan sosial masyarakat. Dalam Pilgub DKI Jakarta, menyebabkan 5,7 % pencmanan rusak, ini meningkat dari Pemilu 2014 sebesar 4,3 %. Angka ini akan terus membesar seiring dengan Pilpres dan Pileg 2019, gaungnya terasa bahkan dikhawatirkan membuat masyarakat terbelah. Faktornya sangat banyak, salah satunya Politik Hoax yang dijadikan senjata.

Belakangan kita lebih sering membuat Gimick yang menyebabkan perdebatan di tengah masyarakat yang dikelola dan dipelihara oleh elit Politik. Padahal masyarakat lebih membutuhkan misalnya solusi-solusi konkit dari para kontestan politik. Misalnya, bagaimana cara menurunkan ketergantungan impor, mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan, membuat neraca perdagangan menjadi surplus, APBN yang sehat untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan lain-lain.

Sebagai akibat senangnya elite memélihara “Gimick tak sehat” membuat akar rumput pun menjadi begitu gaduh, terutama di Medsos (media sosial). lnilah yang saya bilang, pentingnya elit politik bertindak dan mengembangkan cara demokrasi yang punya garis moral yang tinggi. Padahal masyarakat lebih membutuhkan semisal, solusi konkrit dari para kontestan politik. Misalnya, bagaimana cara menurunkan ketergantungan impor. Mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan, membuat neraca perdagangan menjadi surplus, APBN yang sehat untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan lainnya.

Zuhud Politik

Dalam konteks Islam, zuhud itu pola hidup yang sederahana, banyak tokoh bangsa yang terdahulu begitu zuhud dalam berpolitik atau memiliki kesalehan politik. Sebut saja Muhammad Hatta, H. Agus Salim, M Natsir, dan HOS Cokroaminoto. Mereka adalah contoh politisi santun yang berkontribusi terhadap Bangsa, Negara dan Umat. Sikap kenegarawanan mereka terlihat jelas. Mereka sibuk berkarya dan beljuang. Dan sikap Zuhud Politik inilah yang sangat relevan yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh politisi saat ini. Itu terlihat misalnya, saat Muhammad Hatta berseberangan dengan Presiden Seokarno, Hatta memilih tidak berkonfrontasi dengan Soekarno agar kondisi bangsa tak bergejolak.

Kita juga bisa beguru kepada Muhammad Natsir, mantan Menteri Pendana Menteri era Soekarno yang menolak Pemberiaan Royal Impala, dan memilih tinggal di Pavillion temannya. Sikap-sikap zuhud dari tokoh tokoh tersebut justru memperkuat Bangsa Indonesia, Dari merekalah Bangsa ini hingga kini tetap berdiri. Sudah menjadi kewajiban kita kedepan untuk memunculkan Politisi Rasa Negarawan yang santun, bersih, beretika yang mampu memperkuat tali persaudaraan, kesatuan dan persatuan Bangsa. ded

Leave a comment