Terbaru

Kejari Jaksel Tahan Mantan Dirut PT PLN Barubara dan PT Tansri Majid Energi

Khairil Wahyuni (KW), mantan Direktur Utama (Dirut) PT PLN Batubara, tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan batubara

KopiOnline Jakarta – Setelah sempat menghirup udara bebas, Khairil Wahyuni (KW), mantan Direktur Utama (Dirut) PT PLN Batubara, tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan batubara kembali dijebloskan ke tahanan saat penyerahan tahap II di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan.

Selain itu, tim jaksa penuntut umum juga melakukan penahanan terhadap Kokos Jiang (KJ), Direktur Utama (Dirut) PT Tansri Najid Energi (PT TME)l

“Benar setelah menerima tersangka dan barang buktinya dari penyidik pidana khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta (Tahap II), tim jaksa penuntut umum dari Kejari Jaksel langsung melakukan penahanan kepada kedua tersangka tersebut,” ujar Supardi, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jaksel, kepada wartawan, Sabtu (15/12/2018).

Supardi mengatakan, kedua tersangka ditahan di rumah tahanan (Rutan) Salemba cabang Kejari Jakarta Selatan. “Penahanan selama 20 hari ke depan terhitung sejak Kamis lalu (13/12/2018). Setelah itu bisa diperpanjang lagi,” ujarnya.

Lebih jauh dijelaskan Supardi bahwa penahanan didasarkan alasan obyektif dan subyektif. “Agar para tersangka tidak melarikan diri, menghilangkan barang-bukti atau mengulangi tindak pidana. Selain itu biar mempermudah proses pada tahap penuntutan,” katanya.

Dia menyebutkan berkas perkara kedua tersangka kemungkinan akan dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada awal Januari 2019. “Saat ini sedang disusun surat dakwaannya”.

Seperti diketahui dalam proses penyidikan di Kejati DKI Jakarta tersangka KW dan JK sempat ditangguhkan penahanannya setelah sempat ditahan pada awal Maret 2018 berdasarkan sempat melakukan penahanan surat perintah penahanan Nomor 463/O.1.1/Fd.1/03/2018 dan464/O.1.1/Fd.1/03/2018.

Adapun kasus dugaan korupsi yang membelit keduanya terkait kontrak kerja sama operasi usaha tambang antara PT PLNBB dengan PT TME dalam rangka pembelian cadangan batu bara pada 2012.

Awalnya PT PLNBB telah membayar uang muka Rp 447 miliar kepada PT TME untuk pelaksanaan eksplorasi. Namun dalam perjalanannya PT PLNBB belum mendapat keuntungan terkait uang itu karena proses eksploarsi tambang belum juga terlaksana, sebagaimana yang disepakati.

Dari hasil penyidikan diketahui juga pemberian uang Rp 447 miliar harusnya melalui prosedur RUPS. Namun pada praktiknya tidak dilakukan. Selain itu uang dikucurkan berdasarkan atas dokumen analisis laporan PT Sucofindo yang disertakan dalam kontrak. Tapi belakangan PT Sucofindo mencatat laporan tersebut sudah dimanipulasi. Syamsuri

Leave a comment