Terbaru

Jaksa Harus Mampu Kuasai Pidana Eksploitasi Seksual Komersil Anak

Kabandiklat Kejaksaan RI Setia Untung Arimuladi memukul gong tanda dibukanya pelatihan TOT penanggulangi tindak pidana eksploitasi seksual komersil anak

KopiOnline Jakarta – Pelatihan Training of Trainer (ToT) akan membantu jaksa penuntut umum (JPU) tidak hanya menguasai persidangan tapi kapasitas kemampuan keilmuan dalam menanggulangi tindak pidana eksploitasi komersial anak.

ADVETORIAL

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Pendidikan dan Latihan (Kabandiklat) Kejaksaan RI, Setia Untung Arimuladi, saat membuka Pelatihan Training of Trainer (ToT ) penguatan kapasitas Kejaksaan dalam menanggulangi tindak pidana eksploitasi seksual komersil anak di Aula Sasana Adi Karyya Badiklat Kejaksaan RI, Jakarta, Selasa ( 11/12/2018).

Peserta pelatihan TOT di Badiklat Kejaksaan RI

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini, hasil kerjasama antara Badiklat Kejaksaan RI dengan ECPAT (Ending Sexual Exploitation of Children). Pelatihan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang pentingnya penindakan terhadap pelaku tindak pidana eksploitasi seksual anak dalam perspektif hukum, khususnya Kejaksaan, dan meningkatkan pemahaman serta kapasitas jaksa dalam melakukan penuntutan terhadap pelaku tindak pidana eksploitasi seksual anak.

Pelatihan TOT ini diikuti sebanyak 46 peserta yang berasal dari Kejaksaan Agung, Kejati DKI Jakarta, Kejari se DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Kepulauan Riau, Jawa Timur dan Badan Diklat Kejaksaan.

“Pemilihan wilayah satuan kerja ini selain agar dapat  menangani kasus-kasus yang terjadi seputar tindak pidana kekerasan terhadap anak juga diharapkan nantinya dapat melaksanakan tupoksinya dengan menginformasikan ilmunya bagi penanganan perkara eksploitasi anak,” kata Untung, sapaan akrabnya.

Dalam Pelatihan ini, tambah Untung, akan disampaikan materi konvensi hak anak (KHA). “Bentuk-bentuk tindak eksploitasi seksual anak, kejahatan transnasional, hukum acara tindak pidana eksploitasi dan kekerasan seksual anak, restitusi terhadap korban, sharing praktik dalam perspektif dan bedah kasus eksploitasi seksual anak,” jelaasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Nasional ECPAT Indonesia, Ahmad Sofian, mengungkapkan, kegiatan ini merupakan suatu upaya kongkrit ECPAT Indonesia dalam rangka memberantas,  menanggulangi, mencegah dan menuntut bahkan memberikan perlindungan pada korban tidak pidana eksploitasi seksual anak.

“Menurut catatan dari Unicef Indonesia dan seluruh dunia ada lebih kurang satu juta anak setiap tahun yang menjadi korban eksploitasi seksual anak,” kata Sofian.

Dikatakan Sofian, dengan perkembnagn teknologi informasi yang disebut kejahatan seksual anak kadang-kadang menyulitkan dalam konteks dalam penuntutan penyidikan kasus-kasus tersebut.

Oleh karena itu, kejahatan seksual online menjadi fokus Interpol sejak tahun 2016 sama fokusnya kejahatan-kejahatan teroris dan kejahatan lintas negara lain. Kejahatan seksual anak ini suatu kejahatan lintas negara, dimana pelaku ada bisa di beberapa negara berbeda .

Kejahatan seksual anak, baik yang dilakukan warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang ada di Indonesia maupun di luar negeri Indonesia, angkanya bisa naik dari tahun ke tahun.

Sehingga, menurut Sofian, pelatihan ini dalam penuntutan dan perlindungan korban sangat penting dan strategis. Pelatihan ini tidak hanya di Indonesia saja, program ini sebetulnya ada di beberapa negara lainnya.

“Kami harap suatu saat nanti akan menghadirkan jaksa dari negara lain yang menjadi nara sumber pada kegiatan ini untuk pengalaman mereka dalam berkaitan dengan melindungi korban dan dalam rangka menuntut pelaku-pelaku kejahatan,“ tutup Sofian.

Sementara itu Ketua Harian MaPPI-UI, Dio Ashar Wicaksana, pelatihan ini  untuk pembekalan pada penegak hukum  agar lebih dalam  penanganan perkara tindak pidana  dapat bermanfaat bagi masyarakat dan korban pada khususnya.

“Kita juga memahami saat ini kebijakan hukum di Indonesia sudah mulai berkembang, tidak hanya fokus mengungkap tapi juga dan bagaimana melindungi korban-korban dari kejahatan eksploitasi anak. Semoga pelatihan ini ke depan dapat bermanfaat bagi jaksa dan kami sebagai masyarakat akan mendaptakan manfaat,“ pungkas Ashar. Syamsuri

Leave a comment