Terbaru

Selamatkan Warga, Pasukan TNI di Pos Mbua Diserbu Gerombolan KKSB

KopiOnline Papua,- Puluhan pekerja proyek pembangunan jembatan di wilayah Kabupaten Nduga Papua, dibantai Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) atau dulu disebut Organisasi Papua Merdeka/OPM), Sabtu (01/12/2018) kemarin. Aparat keamanan diturunkan untuk mengevakuasi para korban dan memburu Gerombolan pengacau keamanan pimpinan Egianus Kogoya ini.

Seperti diberitakan, KKSB secara keji menghabisi nyawa  31 orang karyawan PT Istaka Karya yang sedang bekerja membuat jembatan untuk jalan trans Papua. Aksi brutal tersebut dipicu oleh salah seorang pekerja proyek jembatan yang memotret KKSB saat upacara. Kemarahan itu kian memuncak setelah mengetahui para pekerja tersebut merupakan warga pendatang. Kelompok sparatis inipun bergegas emburu para pekerja.

Mendengar hal itu, puluhan warga pendatang ketakutan dan berlari menyelamatkan diri ke Pos TNI terdekat di Mbua. Pos TNI ini memiliki kekuatan 21 personel TNI dari Yonif 755/Yalet dipimpin oleh Danpos Letda Inf M. Rizal.

KKSB rupanya tidak gentar dan tetap berupaya mengejar warga pendatang yang berlindung di Pos TNI Mbua. Mereka menggunakan warga pribumi (warga asli Papua simpatisan KKSB) sebagai tameng yang bergerak di barisan depan.  Selanjutnya KKSB beserta simpatisannya terus berusaha merangsek maju dan menyerbu pos TNI.

Salah satu prajurit Pos Mbua yang diwawancarai menuturkan, “Waktu itu tanggal 1 Desember 2018, jam menunjukkan pukul 18.30 wit ketika KKSB dan warga simpatisan mulai menyerang pos TNI. Mereka menyerang dengan menembaki dan memanah ke arah pos kami.”
Suasana saat itu sudah gelap sehingga Danpos Letda Inf M. Rizal dihadapkan pada pilihan yang sulit untuk tetap bertahan di pos atau mundur meninggalkan pos. Danpos kemudian ingat akan penekanan Pimpinan TNI bahwa dimanapun bertugas mereka tidak boleh melanggar HAM.

Mengingat hal itu maka apabila anggota TNI di Pos Mbua saat itu bertahan dengan membalas tembakan ke arah kerumunan massa KKSB yang menyerbu Pos, konsekuensinya akan jatuh puluhan bahkan ratusan warga pribumi yang dijadikan tameng oleh KKSB. Hal ini jelas akan melanggar HAM karena tidak semua warga yang ikut menyerbu pos TNI membawa senjata. Lagipula sulit untuk bisa menentukan mana sasaran bersenjata atau tidak bersenjata pada situasi gelap malam seperti itu.

Saat situasi kritis itu, Danpos memutuskan pasukan untuk mundur meninggalkan pos sambil tetap melindungi warga pendatang yang akan dibunuh KKSB. Pos terpaksa ditinggalkan agar tidak meresikokan keselamatan warga sipil dari kedua belah pihak. Pemunduran ini dilakukan secara heroik dibawah hujan tembakan KKSB dan panah warga.

Selama pemunduran itu puluhan KKSB dan ratusan simpatisannya tetap mengejar sambil terus menembak dan memanah anggota TNI dan warga dilindungi aparat.

Salah satu dari tembakan itu mengenai Serda Handoko di bagian wajah. Sementara satu tembakan lainnya mengenai Pratu Sugeng Suyono di bagian tangan. Keduanya masih sadar saat itu dan dibantu oleh rekan-rekannya untuk tetap bergerak menjauhi kejaran KKSB.

Pasukan TNI bersama warga berusaha terus berjalan menembus gelapnya hutan Papua untuk bisa mencapai tempat yang aman kearah Wamena.

Selama perjalanan luka Serda Handoko banyak mengeluarkan darah sehingga akhirnya ia gugur kehabisan darah. Rekan-rekannya memutuskan untuk meninggalkan jenazah Serda Handoko di perjalanan agar sisa pasukan bisa bergerak lebih cepat mengingat KKSB dan warga simpatisannya terus mengejar di belakang mereka.

Setelah berjalan selama 2 hari 3 malam menembus hutan, akhirnya pada tanggal 4 Desember 2018 pukul 11.11 WIT pasukan TNI beserta warga pendatang yang sudah kelelahan itu bertemu dengan pasukan dari Satgas Penegakan Hukum Nemangkawi yang dipimpin oleh AKP Zacharia Asgar.

Kepada pasukan Satgas Nemangkawi, anggota TNI Yonif 755/Yalet memberitahukan bahwa di belakang mereka ada puluhan KKSB bersenjata dan ratusan warga simpatisan sedang mengejar mereka.

Mengetahui informasi tersebut, AKP Zacharia Asgar memerintahkan kepada pasukannya untuk membuat perimeter pengamanan. Tidak lama kemudian terdengar bunyi letusan tembakan sebanyak dua kali dari sisi kanan gunung yang ditembakkan oleh KKSB ke arah rombongan aparat tetapi tidak mengenai sasaran.

Aparat keamanan kemudian berusaha mengejar ke arah suara tembakan tersebut, namun KKSB dan warga simpatisannya ternyata sudah mundur dan melarikan diri masuk ke hutan.

Setelah situasi aman, pasukan melakukan penyisiran untuk mencari jenazah Serda Handoko. Setelah ditemukan, jenazah prajurit TNI itu beserta sisa pasukan TNI dan warga pendatang dievakuasi ke Wamena. Pratu Sugeng Suyono dievakuasi ke rumah sakit di Wamena untuk mendapatkan perawatan kesehatan.

Berkaca pada kejadian ini, ada nilai-nilai ketauladanan dan pengorbanan para prajurit TNI di Pos Mbua yang dapat dijadikan contoh bagi para prajurit TNI lainnya. Danpos Mbua telah mampu meminimalisir jatuhnya korban dari pihak warga sipil simpatisan KKSB yang dimanfaatkan sebagai tameng oleh KKSB saat menyerbu Pos TNI.

Apabila Danpos Letda Inf M. Rizal salah mengambil keputusan saat itu, maka tidak menutup kemungkinan akan jatuh banyak sekali korban warga sipil dari kedua belah pihak.

Seluruh anggota TNI di Pos MBua beserta warga sipil pendatang yang berlindung didalamnya juga akan menjadi sasaran serbuan KKSB beserta simpatisannya yang berjumlah ratusan orang dengan senjata campuran.

Keputusan pasukan mundur dari pos Mbua untuk meminimalisir korban sipil adalah sebuah keputusan yang tepat, sehingga korban sia-sia dari warga sipil dapat dihindari. Ini menjadi satu catatan penting dan positif bagi TNI menjelang peringatan Hari HAM sedunia pada tanggal 10 Desember nanti.

Sasaran Anggota TNI, Warga Sipil Jadi Korban

Meski Kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogeya pihaknya bertanggung jawab atas insiden tertembaknya 31 pekerja jembatan Kali Aworak, dan Kali Yigi, diakui sasarannya adalah anggota TNI dari Seni Tempur (SIPUR). ” Jadi yang ditembak itu bukan warga sipil, mereka adalah TNI “.

Pernyataan ini disampaikan KKB melalui akun Facebook Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB). Dan di-posting seperti yang beritakan detikcom, pada Rabu (05/12/2018) kemarin.

Pemne Kogeya Komandan Operasi KODAP III Nduga, dalam pernyataannya bila serangan kami bukan warga sipil mereka adalah TNI,” begitu bunyi awalan tulisan itu seperti dilihat detikcom pada Kamis (06/12/2018) siang tadi.

Panglima Daerah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Makodap III Ndugama Egianus Kogeya menyatakan  bertanggung jawab terhadap penyerangan SIPUR pekerja jembatan Kali Aworak, Kali Yigi dan Pos TNI Distrik Mbua melalui komandan operasinya.

Disebutkan, operasi di Kali Aworak, Kali Yigi dengan sasaran operasi Anggota SIPUR Jembatan Kali Aworak, Kali Yigi Pos TNI Distrik Mbua, dilakukan sejak 2 Desember di bawah pimpinan komandan operasi Pemne Kogeya. Sebanyak 24 orang disebutkan tewas dalam serangan itu.

Masih dalam tulisan di akun Facebook itu, TPNPB KODAP III Ndugama mengaku penyerangan telah lama mengidentifikasi pekerja jalan sebelum serangan terjadi.  Lebih dari tiga bulan mereka memantau.

“Lebih dari tiga bulan kami lakukan pemantauan dan patroli terhadap pekerja Jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos Mbua, kami sudah secara lengkap mempelajari pekerja di Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI Distrik Mbua adalah satu kesatuan. Pos Mbua adalah pos resmi sebagai pos kontrol dan yang bekerja di Kali Aworak dan Kali Yigi adalah murni anggota TNI (SIPUR)” jelas Pemne Kogeya.

Sehingga mereka tidak salah sasaran dan bisa membedakan antara pekerja sipil dan TNI. “Sasaran serangan kami tidak salah. Kami tahu mana pekerja sipil atau tukang biasa dan mana pekerja anggota TNI (SIPUR). Walaupun mereka berpakaian sipil atau preman. Kami juga siap bertanggung jawab terhadap penyerangan Pos TNI Distrik Mbua,” sebut Pemne.

Namun sejauh ini KKB tidak bisa mengelak bila pernyataannya itu ada ketidak benarannya dan terbantah dengan tewasnya pekerja Trans Papua ini atas nama Muhammad Agus (25) warga sipil asal Bugis Makassar dan beberapa jenazah yang dalam persiapan evakuasi.

Sementara Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII Cenderawasih Kolonel M Aidi, saat dikonfirmasi pemberita soal kebenaran akun Facebook itu, menepis anggapan bahwa korban bukan sipil. Aidi menjelaskan dua alasan.

“Yang korban itu kan sebagian meninggal, sebagian hidup. Kalau memang dia mengatakan bahwa itu TNI, ya silakan aja diperiksa, ada yang hidup di situ, jelas datanya, TNI kan jelas datanya, silakan diperiksa. Kemudian itu disebutkan karyawan Istaka Karya, cek aja ke Istaka Karya, kenapa menduga-duga gitu lo. Orangnya kan masih hidup. Itu logika pertama,” ujarnya saat dihubungi detikcom yang dikutif JNN, Kamis (06/12/2018)  petang tadi.

Aidi juga berbicara soal alasan kelompok bersenjata menyerang di jalur Trans Papua. “Logika kedua, kan disebutkan di situ bahwa karena dia tahu yang mengerjakan jalan Trans Papua adalah TNI, logikanya kalau TNI mengerjakan jalan, apa pantas dibantai? Padahal untuk menyejahterakan mereka,” ujarnya.

Namun Aidi, tidak menampik kebenaran akun Facebook itu milik kelompok Egianus Kogeya. Aidi memastikannya. “Ya pasti dari mereka, dan mungkin mereka salah satu pelakunya,” tegasnya. dtk/jnn/kop

Leave a comment