Terbaru

Kejaksaan Tunda Eksekusi Baiq Nuril yang Divonis 6 Bulan Penjara

Kapuspenkum Kejagung Mukri

KopiOnline Jakarta,- Kejaksaan Agung (Kejagung) angkat bicara soal putusan Mahkamah Agung (MA) terhadap Baiq Nuril yang dianggap publik merupakan korban pelecehan seksual.

Baiq Nuril divonis 6 bulan penjara dan denda Rp500 juta lantaran dianggap melanggar Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena menyebarkan percakapan asusila Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapus Penkum) Kejaksaan Agung (Kejagung), Dr Mukri, meluruskan pemberitaan yang bergulir di media, baik cetak maupun elektronik. Pasalnya pemberitaan tersebut seakan-akan menggambarkan bahwa Baiq Nuril merupakan korban.

Mukri mengatakan, dari pemberitaan yang bergulir seolah-olah Nuril ini dianggap sebagai korban pelecehan seksual dalam kasus pelanggaran atau tindak pidana UU ITE  yang ditangani oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram.

“Padahal, sesungguhnya kasus tersebut adalah atas nama terdakwa Nuril itu posisinya sebagai terdakwa dalam kasus pelanggaran ITE pasal 127 ayat 1 jo pasal 45 UU ITE,” katanya di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (19/11/2018).

Dia menjelaskan Baiq Nuril telah melakukan suatu tindak pidana melakukan suatu pendistribusian atau mentrasmisikan membuat dapat diaksesnya suatu berita elektronik yang berkaitan dengan keasusilaan, atas dasar tersebut maka yang besangkutan disidangkan di Pengadilan Negeri Mataram. Namun yang bersangkutan diputus bebas murni.

Melihat vonis bebas murini tersebut, kata Mukri, berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) Kejaksaan, maka jaksa penuntut umum (JPU) berkewajiban untuk mengajukan kasasi sebagai upaya hukum ke Mahkamah Agung.

“Sebagaimana kita ketahui pula putusan kasasi itu sudah kita terima 2 atau 3 hari lalu yang menyatakan bahwa terdakwa Nuril  telah terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam paal 127 ayat 1 UU ITE,” jelasnya.

Baiq Nuril, lanjut Mukri, dituntut 6 Bulan dengan denda 500 juta subsider 3 bulan oleh jaksa penuntut umum dan tuntutan ini dikabulkan majelis hakim tingkat kasasi yang dilayangkan jaksa penuntut umum.

“Tuntutan kita dikabulkan oleh majelis hakim ditingkat kasasi dengan putusan yang sama yaitu dengan menghukum terdakwa nuril dengan hukuman penjara selama 6 bulan dan denda 500 jt subsider 3 bulan kurungan,” tegasnya.

Terhadap putusan ini, kata Mukri, tentu secara normatif menjadi suatu kewenangangn kepada jaksa untuk melakukan eksekusi sebagaimana diatur didalam KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidabna).

“Kita kejaksaan melakukan putusan yang sudah mempunyai keputusan hukum tetap,” ujarnya.

Tetapi, lanjut Mukri, melihat aspirasi yang berkembang di masyarakat terhadap persepsi keadilan dan ini  bukan saja berkembang nuansa kearifan lokal tetapi sudah menjadi suatu nuansa secara nasional , Kejaksaan akan melakukan atau akan menunda menangguhkan untuk dilakukan eksekusi.

“Melihat aspirasi yang berkembang di masyarakat terkait persepsi keadilan maka eksekusi terhadap Nuril yang sudah dianggap bersalah eksekusinya kita tunda. Secara kebetulan pada hari ini (Senin, 19/11/2018) pula kita terima surat permohonan penangguhan eksekusi dari tim penasehat hukum terdakwa,” turupnya.

Baiq Nuril adalah seorang staf tata usaha (TU) di SMAN 7 Mataram yang berdasarkan putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) divonis 6 bulan penjara dan denda Rp500 juta lantaran dianggap melanggar Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik karena menyebarkan percakapan asusila Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram.

Kasus ini bermula saat Baiq Nuril bertugas di SMAN 7 Mataram dan kerap mendapatkan perlakuan pelecehan dari Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram Muslim.

Muslim sering menghubunginya dan meminta Nuril mendengarkan pengalamannya berhubungan seksual dengan wanita lain yang bukan istrinya sendiri.

Baiq Nuril yang merasa tidak nyaman dan demi membuktikan tidak terlibat hubungan gelap, dia merekam pembicaraannya. Atas dasar ini kemudian Muslim melaporkannya kepada penegak hukum. Syamsuri

 

Leave a comment