Terbaru

Ditelusuri, Korupsi Investasi Pertamina di BMG Australia Rp 568 M

KopiOnline Jakarta,– Dalam rangka pengembalian kerugian negara, tim penyidik tindak pidana khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) kini tengah menelusuri aset milik para tersangka kasus dugaan korupsi investasi PT Pertamina di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009 yang merugikan negara Rp 568 miliar.

“Perkaranya kan panjang. Terus terang saja tujuan utama pengembalian kerugian negara. Berdasarkan laporan Direktur Penyidikan sedang fokus menelusuri tentang aset untuk pengembalian kerugian negara,” kata Adi Toegarisman, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung, M Adi Toegarisman,  di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (26/10).

Namun, kata Adi, hingga kini belum dapat dipublikasi proses penelusuran aset milik para tersangka. Pasalnya, penelusuran aset bukanlah pekerjaan yang mudah. Artinya memerlukan cukup waktu. “Tidak gampang untuk menelusuri itu aset,” tandasnya.

Disinggung soal apakah selama ini ada niat baik dari para tersangka untuk mengembalikan kerugian negara, Adi menegaskan, hingga kini belum ada niat baik para tersangka untuk mengembalikan kerugian negara. “Sampai sekarang kita dalam proses belum ada hal itu. Langkah kami menuju ke itu recovery. Itu kan langkah hukum,” tutur Adi.

Selain melakukan penelusuran aset, lanjut Adi, penyidik juga telah melimpahkan berkas perkara untuk dua tersangka ke penuntut umum dan telah dinyatakan lengkap serta telah dilimpahkan ke pengadilan untuk dipersidangkan.

“Dua sudah dilimpahkan ke jaksa penuntut umum untuk disidangkan. Kita nunggu penetapan hakim kita bacakan dakwaan,” tutup Adi.

Seperti diketahui, tim penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung menjebloskan mantan Direktur Utama PT Pertamina (persero), Karen Galaila Agustiawan, ke balik jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu, Jakarta Timur. Bekas orang nomor satu di PT Pertamina (persero) itu ditahan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Bundar Kejaksaan Agung terkait kasus ini.

Penahanan terhadap Karen Galaila Agustiawan untuk kepentingan proses penyidikan. Penahanan dilakukan dengan alasan subjektif dan objektif yakni ada kekhawatiran tersangka melarikan diri, mempengaruhi saksi -saksi dan merusak barang bikti serta ancaman hukuman lebih dari lima tahun.

Sebelumnya, penyidik juga telah menjebloskan dua orang tersangka lain kasus ini. Dua tersangka itu yakni Direktur Keuangan PT Pertamina, Frederik Siahaan dan mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) Bayu Kristanto.

Penahanan berdasarkan surat perintah penahanan Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-20/F.2/Fd.1/08/2018 tanggal 30 Agustus  2018.  Sedang satu tersangka lain, Chief Legal Councel and Compliance, Genades Panjaitan hingga kini belum dilakukan penahanan dan masih bebas berkeliaran.

Para terrsangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kasus itu berawal pada 2009 PT Pertamina (Persero) telah melakukan kegiatan akuisisi (Investasi Non Rutin) berupa pembelian sebagian asset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaanya ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan Investasi yang tidak sesuai dengan Pedoman Investasi dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya Feasibility Study (Kajian Kelayakan) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris.

Akibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah 31,492,851 dolar AS serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah 26,808,244 dolar AS tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada PT. Pertamina (Persero) dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak Nasional yang mengakibatkan adanya Kerugian Keuangan Negara cq. PT. Pertamina (Persero) sebesar 31,492,851 dolar AS dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp568.066.000.000 sebagaimana perhitungan Akuntan Publik. syamsuri

 

Leave a comment