Terbaru

BNNP DKI : Pengelola Diskotek OC Tidak Terlibat Peredaran Narkoba

KopiOnline Jakarta,- Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta berhasil menjaring 52 orang pengunjung yang positif mengkomsumsi narkoba di Diskotik Old City (OC) di daerah Kota Tua Jakarta Barat, Minggu (21/10/2018) dinihari yang lalu. Namun sejauh ini pengelola diskotik tidak terlibat peredaran narkoba/

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta Brigjen Pol Johnypol Latupeirissa mengatakan bahwa dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan terhadap 52 orang pengunjung diskotek OC yang positif mengkonsumsi narkoba, pihaknya belum menemukan adanya indikasi keterlibatan pengelola dalam peredaran narkoba di dalam diskotek tersebut.

“Saya melihat management tidak terlibat tapi pengawasan tidak ketat, tidak dilakukan pengawasan dengan benar,” ujarnya saat ditemui TribunJakarta.com, Selasa (23/10/2018).

“Semestinya yang mau masuk dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu,” tambahnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, sebagian besar pengguna mengaku telah mengkonsumsi narkoba sebelum masuk ke diskotek Old City.

“Dari hasil wawancara, beberapa pengguna mengaku sudah pakai dari luar, baru dia masuk,” ucapnya di Hotel Fave, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Johny menambahkan, sebagian lainnya juga mengaku telah membawa narkoba dari luar dan baru mengkonsumsinya di dalam diskotek.

Ini dibuktikan dengan penemukan sejumlah barang bukti berupa pil ekstasi yang diletakan di atas sebuah speaker aktif.

“Terbukti saat operasi ada yang buang, tapi kami berhasil temukan, mengkin belum sempat mereka konsumsi, apalagi petugas datang membawa anjing pelacak,” kata Johny.

Dalam kesempatan ini, ia juga meminta kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta untuk mengimbau kepada para pelaku Tempat Hiburan Malam (THM) agar melakukan mengawasan ketat terhadap para pengunjung.

“Pengakuan dari pihak management tidak ada peredaran disitu, tapi nyatanya ada yang menggunakan, saran kami Disparbud segera mengimbau kepada seluruh TMH untuk lebih meningkatkan pengawasan,” ujar dia.

Bila Tak Terlibat Wajib Dibina

Sementara itu pemerhati tempat hiburan malam (THM), S. Tete Marthadilaga mengapresiasi kinerja Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta, dalam melakukan razia narkoba di tempat hiburan malam Diskotik Old City (OC) di Jl. Kali Besar Selatan, Tambora Jakarta Barat, Minggu (21/10) lalu.

Dalam razia narkoba dengan dilakukan test urine tersebut, ada 52 pengunjung positif menggunakan narkoba jenis ekstasi dan sabu. Mereka sesuai pemeriksaan langsung digelandang ke kantor BNNP DKI Jakarta di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, guna pemeriksaan lebih lanjut. Razia tersebut cukup efektif dan sesuai prosedur (SOP) dan tentunya harus lebih profesional.

S.Tete Marthadilaga

Terkait adanya desakan untuk menutup Diskotik OC, Pemprov DKI harus bertindak ekstra hati-hati dan jangan ada kesan main segel atau asal cabut izin usaha pariwisata. Disamping akan berdampak bertambahnya pengangguran, Pemda DKI selama ini belum mampu memberikan solusi bagi karyawan tempat hiburan malam yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun yang di rumahkan.

Namun demikian, lanjut Mas Tete, apabila tempat hiburan yang bersangkuitan terbukti mengedarkan narkoba, hal itu tidak bisa ditolelir lagi, tetapi apabila baru sebatas indikasi maka pemerintah DKI, dalam hal ini gubernur, harus bertindak bijak sehingga tidak merugikan pengusaha hiburan dan “mematikan” karyawan THM.

“Bila terbukti edarkan narkoba, ya tak bisa ditolelir lagi. Tapi bila tak terbukti edarkan narkoba, OC wajib dibina, ” ujar Tete, Selasa (23/10/2018).

Seperti diketahui ternyata pengelola OC adalah manajemen baru dan baru grand opening saat dilakukan razia. Jadi, tidak ada sangkut pautnya dengan manajemen sebelumnya. Sementara yang terbukti positif salahguna narkoba ( sesuai hasil test urine) semuanya pengunjung dan tidak melibatkan karyawan.

“Secara pribadi saya sangat mendukung pembrantasan salahguna narkoba. Bukan saja di THM jenis diskotik, tetapi perlu pengawasan ketat di tempat karaoke, hotel, rumah kost, apartemen dan bahkan di perumahan,” tandas Tete.

Peredaran dan salahguna narkoba di Tanah Air, khususnya di Ibukota Jakarta sudah mencapai titik nadir. Mengkomsumsi pil setan dan kristal putih ini tentu akan merusak generasi bangsa. Untuk itu seyogyanya dicarikan cara yang tepat dan efektif guna mencegah peredaran dan salahguna narkoba di tempat hiburan.

“Misalkan kalau memungkinkan, bisa saja digunakan alat deteksi atau petugas BNN dan Satuan Narkoba Polda ditempatkan disitu. Nah, bila perlu anjing pelacak di tempat di sekitar pintu masuk sesuai kebutuhan,” tuturnya.

Melihat bisnis THM khususnya diskotik belakangan ini yang hidup segan mati tak mau alias mati suri, akan berdampak luas khususnya masalah sosial dan PAD Pemprov DKI Jakarta, pemerhati THM ini ikut prihatin. Karena menghidupkan sebuah kota, terlebih membuat kota yang tak pernah tidur itu tidaklah mudah. Namun begitu tidak juga harus menerjang berbagai aturan yang ada.

Masyrakat sekarang ini semakin cerdas, terlebih di era canggihnya tehnologi informasi saat ini. Gerak gerik petugas mudah diawasi, begitu pula penyelenggaraan bisnis hiburan malam. Apabila ada pelanggaran ataupun penyimpangan yang dilakukan baik aparat di lapangan maupun pengusaha, secepatnya bisa diketahui.

“Sekarang ini wartawan sungguhan jumlahnya kalah banyak dan kalah cepat dengan ‘wartawan medsos’ yang nota bene kapan saja, dimana saja, klik langsung tayang,” kata Mas Tete berseloroh. tbn/kop

Sumber : tribun.com

Leave a comment