Terbaru

Renggut 832 Nyawa, Begini Penyebab Terjadi Gempa Besar di Donggala – Palu

Korban gempa Donggala - Palu yang terus bertambah. Foto : Antara

KopiOnline Jakarta,- Bumi katulistiwa rawan gempa. Dalam empat bulan terakhir, gempa besar melanda dua wilayah Indonesia, yakni Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Palu hingga Donggala, Sumatera Barat. Sesar Palu Koro disebut sebagai penyebabnya.

Gempa besar baru saja terjadi di Palu dan Donggala yang disebabkan oleh sesar Palu Koro. Menurut BMKG, gempa sebesar 7,7 SR (Skala Richter) disebabkan oleh deformasi dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar (Slike-Slip).

Laporan terbaru dari BNPB pada hari Minggu (30/09/2018) siang menyatakakan bahwa korban meninggal telah mencapai 832 orang.

Korban meninggal terdiri dari Palu sebanyak 821 orang sedangkan gempa dari Donggala 11 orang. Kebanyakan korban ditemukan meninggal karena tertimpa bangunan roboh dan diterjang tsunami

Gempa yang terjadi pada Jumat, 28 September 2018, jam 17.02 WIB di lokasi 0.18 LS dan 119.85 BT (26 kilometer dari Utara Donggala Sulawesi Tengah) merupakan gempa dangkal dengan kedalaman 10 kilometer.

Berdasarkan kedalamannya, gempa bumi terbagi menjadi tiga yaitu gempa bumi dalam (kedalaman lebih dari 300 km), gempa bumi menengah (60-300 km), dan gempa bumi dangkal (kurang dari 60 km).

Gempa bumi dalam biasanya tidak terlalu bahaya dan gempa bumi menengah akan menimbukan kerusakan ringan.

Sementara gempa bumi dangkal (seperti gempa Palu) merupakan gempa bumi yang biasanya menimbulkan kerusakan yang besar.

Ilmuwan yang tergabung dalam USGS menjelaskan dalam situs resminya bahwa kebanyakan gempa bumi terjadi karena pergerakan atau tumbukan antara lempengan bumi.

Berikut pembagian penyebab gempa besar karena pergerakan/tumbukan lempengan bumi:

  1. Normal Fault (Sesar Normal)

Normal Fault terjadi apabila dua lempengan bergerak secara relatif antara satu dengan yang lain. Pergerakan yang ada menimbulkan patahan jatuh ke bawah. Biasanya gempa ini banyak terjadi di masa lalu dan menghasilkan sebuah tebing yang ada pada saat in

  1. Reverse Fault (Sesar terbalik)

Peristiwa Reverse Fault merupakan kebalikan dari Normal Fault. Saat lempengan saling bergerak dan bertubrukan satu sama lain, lempengan dengan kekuatan tertinggi akan mendorong secara vertikal ke atas. Sama seperti sesar normal, sesar terbalik juga menghasilkan patahan.

  1. Strike Slip Fault (Sesar mendatar

Ketika dua peristiwa di atas menghasilkan patahan, gerakan Strike Slip Fault atau sesar mendatar tak menghasilkan patahan vertikal.

Lempengan akan bergerak secara mendatar dan berdampingan. Berbeda dengan gerakan sesar yang bergerak vertikal seperti di atas, sesar mendatar akan bergerak secara horisontal.

Lapisan batuan di bawah permukaan belum bergerak naik atau turun di kedua sisi sesar. Gempa palu merupakan jenis ini.

Gempa besar bermacam-macam kekuatannya. Gempa bumi yang disebabkan karena Normal Fault (sesar normal) umumnya lebih kecil dari 7 SR.

Untuk setiap peningkatan unit magnitudo, ada peningkatan sekitar 30 kali lipat energi yang dilepaskan.

Misal gempa bumi berkekuatan 6.0 SR melepaskan 30 kali lipat energi daripada gempa berkekuatan 5.0 SR. Sementara gempa 7.0 SR berkekuatan 900 (30×30) kali lipat dari gempa berkekuatan 5.0 SR.

Jika kamu pernah merasakan gempa 5.0 SR, bisa kamu bayangkan betapa kuatnya gempa Palu.

Sementara gempa 8,6 SR akan melepaskan jumlah yang sama dengan 10.000 bom atom Perang Dunia II. Kop/Hit/ant.

Leave a comment