Terbaru

Diungkap PMJ, Lahan Samsat Jaktim Nyaris Dikuasai Mafia Tanah

KopiOnline Jakarta,– Polda Metro Jaya (PMJ) menangkap mafia tanah yang memalsukan dokumen dalam kepemilikan sebidang tanah milik Pemprov DKI Jakarta di Jakarta Timur. Tersangkanya, Sudarto memanfaatkan 7 pelaku lainnya yang berpura-pura sebagai ahli waris tanah tersebut.

Dijelaskan Wakil Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indardi, objek perkara adalah sebidang tanah di Jakarta Timur yang saat ini dimanfaatkan sebagai gedung Samsat Jakarta Timur. Pemprov DKI Jakarta mempunyai hak kepemilikan tanah tersebut melalui pembebasan tanah milik Johnny Harry Soetantyo di Cipinang Cempedak, Jakarta Timur pada April 1985.

Kemudian tanah itu dibuatkan sertifikat atas nama Pemprov DKI Jakarta pada 24 September 1992 dan dibangun kantor Samsat Jaktim. Namun belakangan, muncul gugatan dari para tersangka yang mengatas namakan ahli waris.

“Mereka sempat menang dengan dasar gugatan mereka adalah sertifikat hak milik yang diduga palsu dan sudah dinyatakan palsu oleh teman-teman BPN, Kanwil DKI, sudah ada tulisannya seperti ini. Sertifkat ini tidak diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Jaktim. Inilah yang dijadikan dasar gugatan kemudian ada akta jual-beli antara–katanya para ahli waris dengan pemilik yang lama–ini yang dijadikan dasar gugatan dan sempat menang,” jelas AKBP Ade di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (05/09/2018).

Pemprov kemudian mengajukan banding atas putusan itu. Para penggugat juga dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan pemalsuan dokumen dalam gugatan di PN Jakarta Timur. Sengketa tanah di pengadilan masih berproses karena Pemprov DKI mengajukan banding.

“Kemudian dengan adanya laporan polisi yang kami terima, maka kami memproses kasus ini dan mengungkap bahwa tersangka S bersama-sama tujuh tersangka lainnya yang mengaku ahli waris pemilik tanah ini, itu mereka menggunakan sertifikat palsu, kemudian menguasakan kepada kuasa hukum bersama dengan sertifikat palsu dijadikan dasar untuk mengajukan gugatan tahun 2014 di Pengadilan Negeri Jakarta Timur,” papar AKBP Ade.

Dalam perjalanan penyelidikan, polisi menemukan adanya dokumen-dokumen yang diduga palsu. Salah satunya, ditemukan adanya dokumen di mana para tersangka–yang mengaku sebagai ahli waris–seolah-olah telah bertransaksi dengan pemilik tanah pertama yaitu Johnny.

“Jadi ini upaya mereka dengan membuat sertifikat palsu, akta jual beli palsu seolah-olah mereka terjadi transaksi dengan pemilik lama. Dijadikan dasar gugatan, mengunggat Pemprov DKI Jakarta Rpn 340 miliar,” ujar AKBP Ade.

Dari hasil penyidikan teurngkap, tersangka utama yakni Sudarto memanfaatkan 7 tersangka yakni M, DS, IR, YM, ID, INS dan I. Ketujuh tersangka adalah ahli waris Ukar, yang disebut-sebut telah bertransaksi dengan Johnny.

Sudarto kemudian membujuk ketujuh tersangka untuk mengajukan gugatan terhadap tanah yang saat ini dibangun kantor Samsat Jaktim. Sudarto mengiming-imingi ketujuh tersangka dengan janji diberi bagian sebesar 25 persen bila memenangkan gugatan Rp 340 miliar tersebut.

“Awalnya tersangka S ini mendatangi tujuh ahli waris ini. Tersangka S mengaku kenal baik dengan hapal dari para tujuh ahli waris ini yaitu saudara Ukar. Dia menyampaikan kepada ahli waris ‘apakah kalian ingin, ini tanah orang tua kalian mau kita ambil lagi’. Nah tolong dibantu diproses lah dokumen-dokumen palsu itu sehingga terbit sertifikat palsu, dengan janji dari tersangka S,” ujar dia.

Mereka menyetujui permintaan S ini hingga akhirnya memenangkan gugatan. Namun Pemprov DKI Jakarta melihat ada keanehan dalam dokumen yang diserahkan oleh para ahli waris itu.

“Akan dibagi 25 persen. Ini kan aneh. Artinya kita menetapkan para ahli waris sebagai tersangka berdasarkan juga keterangan itu. Kalau memang tanah ini tanah orang tuanya tentunya tidak mau menerima 25 persen, tapi diiming-imingi oleh tersangka S bahwa ya saya bantu kalau berhasil nanti kamu akan saya kasih 25 persen untuk para ahli waris. Ini jadi pertanyaan besar,” papar AKBP Ade.

Pada kenyataannya, ketujuh ahli waris itu tak mempunyai kaitan dengan pemilik awal tanah tersebut. Mereka hanya memalsukan dokumen agar terlihat asli dan menang di PN Jaktim.

Sementara itu, polisi saat ini masih mendalami keterlibatan pihak lain dalam kasus ini. Polisi juga masih mendalami alasan PN Jaktim memenangkan gugatan para tersangka.

Para tersangka ditangkap pada Selasa (23/08/2018) lalu. Mereka dijerat dengan pasal 263, 264 dan 266 KUHP dengan ancaman hukuman penjara 6 tahun. mastete

Leave a comment