Terbaru

Industrialisasi Kopyah dan Revolusi Budaya Masyarakat Kota Gresik

KopiOnline Gresik,– Tidak berlebihan kiranya kalau geliat industri kopyah di kota Gresik sepadan dengan revolusi industri yang terjadi di Eropa. Revolusi industri di Eropa telah menghasilkan tatanan budaya baru masyarakat di kawasan Eropa begitu juga yang terjadi di kota Gresik. Untuk itu digelarlah acara Kopyahnesia di kantor DPRD Gresik, Sabtu (26/08/2018).

Menurut Syaikhu Busiri yang menorehkan pengalamannya bahwa awal kemunculan industri ini dipicu ketika Presiden Soekarno mengenakan kopyah di kancah sidang PBB yang waktu itu sempat dilarang pihak keamanan. Presiden lalu mengatakan,  “Ini identitas bangsa saya seperti juga bangsa Afrika dengan pakaian adat mereka dan kamu tidak berhak melarang saya” begitu kira-kira yang disampaikan.

Sejak saat itu Presiden Soekarno selalu memperkenalkan kopyah sebagai identitas bangsa Indonesia. Maka dimulailah era industri kopyah kota Gresik yang merupakan satu-satunya penghasil kopyah di nusantara ini. Hal ini terjadi di awal tahun 70an dan hampir di setiap kampung di gresik berdiri industri kopyah kelas rumahan sampai skala besar.

Dulu ada kotak kemasan kopyah grosir dengan cap “Songkok Nasional” yang bisa dibeli juragan-juragan gurem tanpa perlu mengurus hak paten. Saya pikir hal ini bisa jadi bukti kalau kopyah memang sudah menjadi identitas bangsa Indonesia sejak dulu.

Sejak dipakainya kopyah oleh Bung Karno pesanan dari berbagai penjuru nusantara membanjiri pengrajin kopyah di kota ini. Tak pelak kebutuhan tenaga kerja di sektor industri padat karya ini membumbung tinggi sampai para juragan mengerahkan seluruh anggota keluarga untuk membantu proses produksi.

Shaiku menceritakan, ia masih ingat ketika masih kelas 4 SD pernah ikut terlibat di bagian penyikatan kopyah agar bersih sebelum dikirim (biasa disebut “nyikati”). Lalu melipat (istilahnya “ningkemi”) dan membungkus dengan katung plastik sebelum dimasukkan kotak (“ngotaki”).

Semua pekerjaan ini disebut “ngisoran” karena selalu dikerjakan di lantai (ngisor). Berbeda dengan bagian “ngerakit” yang bertugas menjahit dari bahan setengah jadi menjadi barang jadi. Sementara ibu-ibu dan remaja putri dikerahkan di bagian “ngesum” yakni menjahit dengan tangan untuk menutup bagian bawah kopyah. Jadi hampir semua anggota keluarga terlibat termasuk sepupu dan lain-lain.

Di sinilah awal terbentuknya budaya baru dalam masyarakat Gresik. Dengan kesibukan yang melibatkan seluruh keluarga, otomatis pemenuhan kebutuhan harian menjadi terbengkalai maka saat itu mulailah muncul warung makan dan warung kopi di sudut-sudut kampung kota Gresik.

Dengan pesanan yang membludak tentu saja industri kopyah menjadi andalan karena harga jual yang tinggi dan memasok tabungan masyarakat menjadi tambun. Pendapatan tinggi masyarakat Gresik dirasakan di semua lapisan umur baik dewasa maupun anak-anak. Inilah yang membuat masyarakat Gresik tidak tergiur lowongan kerja karyawan baik Petrokimia maupun Semen Gresik sehingga sebagian besar karyawan dari pabrik tersebut diisi oleh orang-orang dari luar kota.

Pendapatan yang tinggi turut mengerek selera masyarakat. Saat itu remaja Gresik sudah lumrah mengenakan fashion branded. Dan dimulailah era kopi enak di Gresik.

Mereka menuntut warung-warung kopi menyajikan kopi terbaik dengan rasa terenak karena harga tidak lagi jadi masalah. Menjamurlah warung-warung kopi di hampir setiap sudut kampung sebagai sarana melepas penat dan cangkrukan setelah seharian bekerja. Setiap sore sudah jamak terlihat masyarakat Gresik bersarung dan berkopyah cangkruk di warung menikmati kopi enak, ngobrol-ngobrol sambil menunggu waktu magrib untuk sholat berjamaah. Pemandangan yang sungguh menyejukkan dan tak terlupakan.

Dengan sarana berkumpul di warung kopi maka terjadilah komunikasi antar juragan kopyah, muncullah bursa bahan baku kopyah yang beromzet jutaan di warung kopi. Bursa inilah yang mengukuhkan dan menelurkan banyak warung kopi di kota seribu warung ini. Dengan surutnya usaha kopyah maka warung-warung saat ini menjadi bursa apa saja, mulai dari Gadget, sepeda motor, mobil, tanah dan lain-lain.

Inilah revolusi budaya yang dipicu industrialisasi kopyah di kota Gresik. Masyarrakat yang suka njajan, konsumtif, kreatif, suka berkumpul, cangkruk, berselera tinggi, sangat sosial, enterpreuner sejati, pengusaha handal dan lain sebagainya. Jadi, jangan heran jika biaya hidup di Gresik bisa lebih tinggi dibanding kota metropolitan Surabaya. kop

Narasumber : Syaikhu Busiri

Leave a comment