Terbaru

Dit Reskrimum PMJ : Lima Tower Kalibata City Terlibat Praktik Prostitusi

Foto : ist

KopiOnline Jakarta,- Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Metro Jaya (PMJ) mengungkap bahwa 5 dari 18 tower di kompleks Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, diduga terlibat tindak pidana prostitusi. Disebutkan, bisnis prostitusi online yang juga memanfaatkan media sosial semakin menjamur, dan tumbuh subur di Jakarta. Tak pelak, kondisi ini kian meresahkan warga Ibu Kota.

Sosiolog DR Musni Umar, menilai, pengelola apartemen hanya bekerja di area publik. Mereka tidak bisa mengakses hingga level unit atau privasi pemilik. Dengan demikian penanganan tindak pidana tidak bisa dibebankan kepada pengelola.

Menurut Musni, perlu kesadaran dan kepedulian penghuni untuk melaporkan hal-hal yang mencurigakan kepada pengelola. Kerjasama menjadi penting untuk memberantas prostitusi di aparteman. “Temuan kasus prostitusi menunjukkan kerjasama yang baik dari pengelola, penghuni dan kepolisian,” katanya di Jakarta, Rabu (08/08/2018).

Ia menyebutkan, kasus prostitusi yang terjadi di Apartemen kalibata City juga serupa dengan yang sempat terjadi di apartemen di wilayah Jakarta Barat, Kawasan Jalan Gajah Mada, dan Taman Sari. “Ini menunjukkan kelas menengah meningkat, yang dijadikan pasar. sehingga muncul kasus-kasus serupa,” terangnya.

Kemenkominfo
Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala menilai, bisnis prostitusi online tersebut sudah menjadi peringatan (warning) bagi aparat kepolisian. Dimana dengan mudahnya para pelaku menjalankan bisnis esek-esek itu.

“Saya kira begini bisnis prostitusi online sudah menjadi satu alarm bagi kepolisian dalam memberantasnya, karena semakin banyak saja bisnis itu,” ujar Adrianus di Jakarta, Rabu (08/08/2018).

Menurutnya, Jakarta dan sejumlah kota penyangga di sekitarnya kini sudah menjadi ladang subur dalam bisnis esek-esek tersebut. Apalagi, sang mucikari dengan mudahnya menggunakan media sosial dalam mempromosikan para pekerja seks komersial (PSK) tersebut.

“Ini jadi peringatan lho ke depannya,” tandas Adrianus yang juga komisioner Kompolnas itu.

Anak-anak
Untuk diketahui, Wakil Direskrimum (Direktorat Reserse Kriminal Umum) Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indardi sempat mengumumkan hasil pengungkapan kasus prostitusi anak dan dewasa Kalibata City, di Polda Metro Jaya, Rabu (08/08/2018).

“Dugaannya, lima dari 18 atau hampir sepertiga dari total tower di Apartemen Kalibata City digunakan untuk praktik prostitusi,” kata Ade.

Informasi tersebut didapat saat tim khusus dari Sub Direktorat Renakta Direskrimum Polda Metro Jaya melakukan penindakan terhadap aksi prostitusi di Tower Flamboyan Lantai 21 kamar milik AH di Apartemen Kalibata City pada pukul 23.00WIB 2 Agustus 2018. Dalam penindakan itu, petugas mengamankan 32 orang yang terdiri atas 17 pekerja seks komersial, dan 15 pengguna jasa.

“Penindakan di Apartemen Kalibata City berlangsung pada 2 Agustus pukul 11 malam, tetapi laporannya baru dibuat pada pukul 2.00 WIB dini hari di Polda Metro Jaya,” kata AKBP Azhar Nugroho yang memimpin operasi.

Dari 32 orang yang diamankan, petugas menemukan lima anak-anak yang masih di bawah umur, atau usianya kurang dari 18 tahun.

“Dua anak laki-laki di bawah umur yang diamankan petugas itu calon pelanggan, sementara sisanya perempuan pekerja seks usianya masih sekitar 16 tahun,” terang AKBP Ade saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Rabu.

Ia menambahkan, pekerja seks anak itu mengaku telah bekerja sekitar dua tahun. “Saat ini, korban, termasuk anak-anak yang diamankan telah dititipkan ke Rumah Perlindungan/Trauma Center (RPTC) milik Kementerian Sosial di Cipayung, Jakarta Timur,” tambahnya.

Modus Operandi

Dalam kesempatan itu, Ade menerangkan modus operandi dari praktik prostitusi di Kalibata City pada 2 Agustus itu adalah dengan menyediakan tempat untuk pencabulan dan persetubuhan untuk mendapat keuntungan.

Pasca penindakan, pihak Dit Reksrimum Polda Metro Jaya menetapkan satu orang perempuan berinisial R, dan dua orang laki-laki dengan inisial T alias O, dan SBR sebagai tersangka.

“Mereka (tersangka) adalah agen marketing properti yang sesuai fakta di lapangan, ada puluhan unit yang mereka pasarkan di Apartemen Kalibata City. Tersangka ini menyediakan fasilitas yang memudahkan seseorang melakukan perbuatan cabul,” kata Ade.

Modus dari praktik prostitusi tersebut diawali dengan penawaran jasa “booking out” (BO) atau pemesanan pekerja seks komersial melalui aplikasi pengirim pesan BeeTalk dan WeChat oleh tersangka SBR. Menurut informasi dari Ade, SBR kerap berpura-pura sebagai perempuan untuk menarik pelanggan.

“SBR juga mengirimkan foto-foto dari pekerja seks komersial yang ditawarkan, berikut tarif dari harga Rp500 ribu sampai Rp1 juta,” terang Ade.

Di saat pelanggan berminat, ia diminta oleh SBR untuk datang ke Tower Flamboyan Lt.21 Kamar AH di Apartemen Kalibata City. Saat itu, SBR mempertemukan pelanggan dengan pekerja seks yang dikehendaki. Jika transaksi selesai, SBR sebagai mucikari mendapat upah sebesar Rp50 ribu sekali transaksi.

“Petugas melakukan pengintaian (terhadap praktik prostitusi) di Tower Flamboyan selama dua minggu,” jelas AKBP Azhar selepas jumpa pers.

Dalam penindakan 2 Agustus itu, Azhar menambahkan, pihak kepolisian telah menyita uang Rp1 juta dari G dan KH, kunci kamar AH dari A, tiga unit telepon seluler dari tersangka SBR, A, T alias O, dan bukti transfer, serta kondom bekas dari G dan KH. kop/lap6

Leave a comment