Terbaru

Perkuat Pancasila, Presiden Joko Widodo Bisa Pasangkan Mahfud MD Atau …

KopiOnline Jakarta,- Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei memprihatinkan dimana jumlah warga yang pro terhadap NKRI dan Pancasila terus menurun hingga 10 persen sejak 2005. Penurunan itu berimbas pada naiknya dukungan terhadap NKRI syariah mencapai 9 persen.
Berdasarkan hasil survei LSI Denny JA, persentase warga responden yang pro Pancasila hanya 75,3 persen, padahal pada 2005 angkanya masih berkisar 85,2 persen.
Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, menyampaikan penurunan dukungan terhadap Pancasila ini harus disikapi serius oleh Presiden Joko Widodo. Jokowi sudah membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan selanjutnya harus mencari figur calon wakil presiden seorang negawaran yang bisa merangkul semua pihak, dan menjaga keberagaman.
“Kalau isu Pancasila ini dinilai kuat, maka bisa saja Pak Mahfud MD dipilih jadi cawapres,” kata Ardian, saat merilis hasil survei tersebut, di Jakarta, Selasa, (17/07/2018).
Dia menyampaikan, secara personal Mahfud memiliki kelebihan karena berpengalaman sebagai menteri, sebagai anggota DPR, dan sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Selain itu, Mahfud juga dinilai mampu merangkul kelompok Islam untuk meningkatkan elektabilitas Jokowi.
“Kalau Mahfud MD secara figur sudah bagus. Ditambah isu yang kuat maka bisa mendapat perhatian di pemerintahan dan masyarakat jika Mahfud yang dipilih jadi pendamping Jokowi,” ujarnya.
Survei LSI Denny JA itu dilakukan pada 28 Juni-5 Juli 2018 dan melibatkan 1.200 responden dengan wawancara tatap muka menggunakan metode multistage random sampling.
Terkait menurunnya dukungan pada NKRI dan Pancasila, Ardian menyampaikan ada beberapa pemicu, di antaranya adalah isu ekonomi dan munculnya paham alternatif yang menyebar intensif melalui kelompok diskusi, organisasi, dan media sosial.
“Alasan lainnya karena Pancasila yang tidak tersosialisasi dengan baik,” ungkapnya.
Menurut Ardian, pada Pilpres 2019 masih mungkin terjadi praktik politik identitas seperti yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Selain itu, dia mengingatkan agar semua pihak mengantisipasi penyebaran fitnah untuk menurunkan kredibilitas figur tertentu.
“Masyarakat nanti akan melihat yang bisa mewakili suara Muslim, tidak harus jadi negara Islam, tapi nilai-nilai muslim ini nantinya juga kuat,” kata dia.
Mahfud MD, TGB & Airlangga
Presiden Joko Widodo menyebutkan sejumlah nama masuk ke dalam bursa calon wakil presiden pendampingnya pada Pemilihan Presiden 2019. Saat dijumpai seusai menghadiri acara bela negara Garda Pemuda Nasdem di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (16/07/2018), Jokowi mengonfirmasi beberapa nama yang disebut para jurnalis.
Beberapa nama yang dimaksud, yakni mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Madji, dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto.
Awalnya, para jurnalis meminta tanggapan Jokowi soal sosok Mahfud. Jokowi menjawab, “Sangat bagus, sangat bagus.”
Jokowi ditanya lagi, apakah nama Mahfud masuk ke dalam bursa cawapresnya, Jokowi menjawab, “Masuk, masuk.”
Kemudian jurnalis bertanya, apakah TGB masuk ke dalam pertimbangannya sebagai cawapres. Jokowi kembali menjawab, “Masuk, masuk.”
Demikian pula saat jurnalis bertanya apakah Airlangga juga masuk ke dalam bursa cawapresnya. Jokowi menjawab sambil tersenyum, “Oh, iya masuk.”
Kebetulan, saat itu, Airlangga tepat berada di samping Jokowi. Mendengar pernyataan Jokowi itu, Airlangga tertawa.
Saat ini, Jokowi masih menggodok siapa yang akan mendampinginya untuk maju dalam pertarungan perebutan kursi RI 1 2019 mendatang.
“Sekali lagi saya sampaikan, masih digodok, biar matang. Kalau matang, nanti enak. Belum matang dikeluarkan, gimana sih,” ujar Jokowi.
Tanggapan Mahfud MD

?????????????????????????????????????????????????????????

Mahfud MD enggan berkomentar banyak mengenai kesiapannya mendampingi Joko Widodo dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.
“Saya serahkan kepada Presiden Jokowi dan partai politik,” katanya di Kedai Kopi Kok Tong, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Selasa.
Menurut mantan Ketua MK itu, dia tidak berkapasitas untuk berkomentar dan urun bicara mengenai usulan dirinya untuk menjadi calon wakil presiden Jokowi.
“Konstitusinya begitu, jadi saya pasif di situ,” kata Mahfud MD.
Meski demikian, Mahfud menegaskan, sebagai bagian dari Eksponen 98, dia memiliki hubungan batin dan empati dengan yang lainnya.
Saat itu, Mahfud bergerak dari Kota Yogyakarta dan Jawa Tengah lalu bertemu dalam wadah Eksponen Reformasi 98. Jadi, menurut dia, usulan itu merupakan hak Eksponen 98 dan sifatnya tidak monolitik.
Adanya perbedaan, lanjut Mahfud, merupakan contoh bagus di era demokrasi. “Namun, ketika sudah diputus, semuanya harus bersatu, itu namanya demokrasi,” katanya.
Tanggapan TGB
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) mengapresiasi namanya masuk dalam bursa calon wakil presiden dari berbagai lembaga survei.
Saat ditanya kesiapannya jika ditunjuk menjadi cawapres bagi Joko Widodo, TGB akan merasa terhormat.
Menurut dia, posisi jabatan apapun pada dasarnya harus dianggap sebagai pengabdian kepada masyarakat luas.
“Saya pikir, suatu kehormatan yang luar biasa bagi siapapun. Terlepas dari kesadaran, keterbatasan, kemampuan secara individu. Tetapi siapapun anak bangsa, jangankan dalam posisi itu, dalam posisi apapun yang bisa bekerja untuk republik yang kita cintai ini, seperti saya misalnya masih sebagai gubernur, ya tentu itu suatu kehormatan,” ujar TGB di kantor Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jakarta, Rabu (11/07/2018).
Ia mengapresiasi pandangan dari lembaga survei serta pengamat politik yang memasukan namanya sebagai salah satu cawapres potensial pada Pilpres 2019.
Namun, ia mengaku, tak mau berspekulasi berlebihan terkait pencalonannya.
Menurut dia, Jokowi pasti memiliki sejumlah pertimbangan tertentu dalam menentukan pendampingnya.
“Secara proses akademik boleh, secara pertimbangan ilmiah boleh, perkembangan elektoral boleh, tetapi pada akhirnya kriteria apa yang seperti bagaimana, ya tentu yang mengetahui paling tepat, paling persis itu Bapak Presiden (Jokowi),” ujar dia.
“Kalau arti bursa (cawapres) yang di berita itu, kan saya baca berita juga. Jadi saya baca juga tulisan teman-teman (wartawan), misalnya mengutip pendapat siapa. Ya, kalau pemberitaan ada nama kita, dalam konteks positif, ya disyukuri sajalah,” pungkasnya.
Hingga saat ini, TGB masih menjabat anggota Majelis Tinggi dan Ketua DPD Partai Demokrat NTB. Sementara Demokrat belum memutuskan dukungan dalam Pilpres 2019.
Airlangga Pasrah
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto memasrahkan pilihan cawapres kepada Presiden Joko Widodo.
Hal itu disampaikan Airlangga saat ditanya apakah ia optimistis namanya masuk ke dalam lima kandidat cawapres Jokowi.
Diketahui, sebagian kader Golkar berharap Airlangga bisa mendamping Jokowi sebagai cawapres di Pilpres 2019.
“Tentunya kami serahkan kepada Pak Presiden karena antarparpol yang paling penting adalah mekanisme. Salah satu mekanisme adalah menyerahkan pada Pak Presiden. Dan setelah itu tentunya ada komunikasi lanjutan,” kata Airlangga di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/07/2018).
Ia menambahkan, Golkar tak mengajukan kadernya maupun tokoh di luar partai politik untuk dipertimbangkan sebagai cawapres oleh Jokowi.
Golkar menyerahkan sepenuhnya kepada Jokowi untuk menentukan cawapresnya, baik itu dari dalam maupun di luar tokoh partai politik.
“Kalau di luar partai, kan, pertimbangan dari Pak Presiden. Jadi kalau dari partai, kan, tidak mengajukan nama,” lanjut dia.
Jokowi sebelumnya meminta publik bersabar menanti pengumuman siapa yang akan dijadikan calon wakil presiden pendampingnya pada Pemilihan Presiden 2019 yang akan datang.
“Mbok sabaaarrr dulu, kan paling tinggal seminggu, dua minggu, tiga minggu lagi,” ujar Jokowi saat diwawancarai di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/7/2018).
Menurut Jokowi, saat ini ada lima nama kandidat calon wakil presiden yang masuk pertimbangan.
Lima nama itu merupakan pengerucutan dari 10 nama yang sebelumnya masuk pertimbangan.
Ia menolak menyebut kelima nama tersebut.
Jokowi masih menggodok siapa yang nantinya dari lima nama itu akan mendampinginya bertarung di Pilpres 2019.
“Masih dalam proses penggodokan. Yang namanya digodok, ya pasti nunggu biar matang. Kalau lagi digodok belum matang, kemudian dikeluarkan, itu namanya menjadi setengah matang. Biar matang dulu. Kalau sudah matang, kami sampaikan pada saat yang tepat,” ujar dia. kop/tbn/met
/

Leave a comment