Terbaru

Kapal Tenggelam di Danau Toba, Belasan Orang ditemukan 180 Lebih hilang

KopiOnline Jakarta,- Lebih dari 180 penumpang Kapal Motor Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba Sumatera Utara, dilaporkan hilang. Adapun sejumlah jenazah dan korban selamat telah ditemukan.

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Irjen Pol Budi Setiyadi, sebagaimana dikutip Kantor Staf Kepresidenan (KSP), mengatakan regu pencari pada Rabu (20/06/2018) telah mendapatkan sebanyak 21 penumpang.

“Tiga orang perempuan meninggal dunia, dan 18 orang penumpang berhasil diselamatkan,” paparnya.

“Jumlah penumpang sebenarnya belum bisa dipastikan, karena ini kapal rakyat yang tak ada manifesnya. Transaksi pembelian tiketnya pun masih dilakukan secara manual,” ungkap Budi Setiyadi yang berada di posko lokasi pencarian korban di Sumatera Utara.

Berdasarkan data Posko Terpadu Kapal Motor Sinar Bangun, Kepala Kantor SAR Medan, Budiawan, sudah menerima laporan terbaru dan untuk korban sebanyak 192 orang.

“Korban yang masih dicari tim SAR gabungan terus berkembang. Hingga pukul 11.25 WIB, korban yang harus dicari 192 orang,” katanya kepada wartawan, Rabu (20/06/2018)

Sebelumnya, sebagaimana dicuitkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Rabu (20/06/2018), sebanyak 166 korban hilang, 18 selamat, dan dua orang dipastikan meninggal dunia.

Segenap korban merupakan para penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba pada Senin (18/06/2018) sekira pukul 17.15 WIB saat berlayar dari Pelabuhan Simanindo menuju Pelabuhan Tiga Ras di Kabupaten Samosir

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Muhammad Syaugi, mengatakan pihaknya telah mengerahkan 70 personel yang dapat menyelam di kedalaman tertentu.

“Dalamnya Danau Toba ini adalah 300 sampai 500 meter. Di dalam sudah diselami sampai kedalaman 50 meter, itu masih belum ditemukan apa-apa karena cukup gelap di dalam. Airnya keruh dan dingin sekali,” papar Syaugi.

Dia tidak menjelaskan apakah fokus area pencarian diperlebar. Yang jelas, menurutnya, keberadaan korban telah berpencar di Danau Toba.

“Dari situasi korban yang kita temukan, dia sudah bergeser antara tiga sampai lima kilometer dari titik koordinat awal kapal tenggelam,” ujarnya

Menurut otoritas setempat, kapal penumpang itu kelebihan kapasitas. Bahkan, kepolisian setempat menyatakan kapal kayu itu berlayar tanpa manifes dan standar keselamatan yang rendah.

Salah satu korban yang belum ditemukan adalah Jornelin Purba, asal Haranggaol, Simalungun. Marganda, sepupu Jornelin, menyebut saudaranya itu menumpang Kapal Motor Sinar Bangun untuk berwisata ke Pulau Samosir.

Menurut informasi yang ia peroleh, meski belum sahih, setir kapal patah saat ombak bergulir keras dan menyebabkan kapal terbalik.

“Sampai saat ini dari sore kemarin, adik belum ada kabar sama sekali. Keluarga masih di Tigaras untuk menunggu kabar,” tuturnya.

Insiden ini merupakan satu dari empat kecelakaan kapal penumpang di tiga daerah berbeda dalam satu pekan terakhir setidaknya terjadi. Akar masalahnya bermula dari pengawasan terhadap angkutan laut yang dinilai longgar sehingga prosedur keselamatan kerap diabaikan.

Soal prosedur keselamatan ini dialami Dameria Ompusunggu. Februari lalu Dameria melobi awak kapal di Pelabuhan Muara, Tapanuli Utara, agar mobilnya diizinkan masuk ke kapal penyeberangan menuju Labugoti, Toba Samosir. Saat itu kapal telah sesak, penuh penumpang dan kendaraan bermotor.

“Harusnya tidak boleh masuk, tapi kami memaksa. Sudah jauh-jauh datang dari Jakarta, masa tidak berhasil pulang kampung,” ujarnya, Selasa (19/06/2018).

Selama perjalanan di perairan Danau Toba itu, kata Dameria, keluarganya tak mendapatkan jatah kursi karena telah lebih dulu diduduki penumpang lain.

Menurutnya, karena melebihi kapasitas bangku, banyak penumpang terpaksa duduk di geladak bawah kapal.

“Tidak ada life jacket. Beberapa kali saya menyeberang ke Samosir, tidak pernah ada,” tuturnya.

Adapun, Mei lalu Dameria juga menumpang kapal cepat (speedboat) kala menyusuri Sungai Musi di Palembang. Ia mengaku tak melihat atau ditawari pelampung.

Jantungnya berdegub kencang saat ombak di sungai itu meninggi dan angin berhembus kencang.

“Pelampung memang tidak pernah disediakan. Penumpang juga tidak pernah peduli,” ucapnya mengulang perkataan kru kapal.

Saat ini dia kapok menumpang kapal yang tak menyediakan pelampung. Rentetan kecelakaan kapal yang menewaskan puluhan orang dalam satu bulan terakhir membuatnya berpikir dua kali

Tak ada sanksi?

Pengamat pelayaran dari lembaga National Maritime Institute, Siswanto Rusdi, menyebut Kementerian Perhubungan sebenarnya memiliki regulasi yang mengatur syarat, izin, dan standar keamanan kapal kecil di bawah 500 gross ton (GT).

Regulasi itu adalah Surat Keputusan Jenderal Perhubungan Laut No. Um.008/9/20/DJPL-12 tentang Pemberlakuan Standar dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia atau Standar Kapal Non Konvensi (SKNK).

Standar itu memuat detail material bahan, konstruksi, kelistrikan, hingga alat keselamatan yang harus tersedia di dalam kapal.

Namun, menurut Siswanto, syahbandar atau otoritas tertinggi di pelabuhan kerap mengabaikan pelaksanaan aturan itu.

“Syahbandar umumnya fokus ke kapal yang berbobot 500 GT ke atas atau kapal penyeberangan yang berbahan besi, yang lebih besar dibandingkan kapal tradisional,” ucapnya.

Siswanto merujuk pada tiga kecelakaan kapal selama Juni ini menimpa kapal penumpang di bawah 500 GT.

KM Cikal tenggelam di Banggai, Sulawesi Tengah pada 12 Juni. Pada hari yang sama, KM Arista karam di perairan Makassar. Setidaknya 17 penumpang tewas dalam kejadian itu.

Sehari setelahnya, kapal cepat Albert pecah lambung di Selat Bangka dan menyebabkan tiga penumpang tewas.

“Di kapal besar, ada berbagai prosedur dan alat keselamatan ketika kapal mengalami insiden. Kapal tradisional tidak ada. Syahbandar harus mengingatkan ini,” kata Siswanto.

Kepala Humas Ditjen Perhubungan Laut, Gus Rional, mengatakan, jika Syahbandar mengawasi secara rinci setiap kapal yang hendak berlayar, potensi kecelakaan dapat berkurang.

“Tidak boleh melebihi kapasitas dan harus ada perlengkapan keselamatan, minimal life jacket.”

“Kalau kapasitas berlebihan atau tidak tersedia pelampung, kapal bisa tidak diizinkan berangkat, syahbandar tidak memberikan surat persetujuan berlayar,” ujar Gus.

Setelah rentetan kecelakaan pelayaran, Gus mengakui, “untuk kapal tradisional, pengawasannya perlu diperketat.”

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Soerjanto Tjahjono, menganggap pelayaran kapal tradisional di pelabuhan kecil memang sering luput dari pantauan pemerintah.

Setelah insiden KM Sinar Bangun, KNKT sulit menemukan syahbandar yang bertanggung jawab di di Pelabuhan Tigaras.

“Banyak tempat terpencil yang sulit diawasi. Ini penyeberangan lokal. Yang seperti ini banyak sekali di berbagai daerah di Indonesia,” tuturnya.

Sebelumnya, KNKT menyatakan sebanyak 48% kecelakaan kapal laut terjadi akibat faktor sarana. Adapun, persentase faktor kesalahan manusia sebesar 40%.

Sementara itu, faktor alam seperti ombak tinggi dan angin kencang disebut KNKT hanya menjadi faktor sebesar 12% pada insiden kapal yang pernah terjadi di Indonesia

Polisi Tangkap Nakhoda Kapal

Sementara itu, aparat kepolisian sudah mengamankan nakhoda Kapal Motor Sinar Bangun bernama Situa Sagala. Ia diamankan di Markas Komando Polres Samosir. Namun, belum bisa dimintai keterangan lantaran masih mengalami trauma.

“Benar sudah kita amankan Situa Sagala,” kata Kapolres Samosir, AKBP Agus Darojat kepada wartawan, Rabu malam, (20/06/2018).

Situa Sagala diciduk polisi di rumahnya, di Desa Simarmata, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Senin, (18/06/2018). Situa diamankan beberapa jam setelah insiden Kapal Motor Sinar Bangun tenggelam.

“Dia kita amankan saat sedang bersama keluarganya di dalam rumahnya, yang bersangkutan tidak ada melawan saat kita amankan,” tutur Agus.

Meski sudah diamankan, polisi belum bisa menggali informasi dari Situa Sagala. Menurut dia, polisi ingin membiarkan diri terlebih dahulu sembari trauma yang dialami Situa hilang.

“Jadi saat kita amankan, posisinya dia trauma dan terlihat tidak kooperatif saat ditanya tentang kejadian kenapa kapal yang ia kemudikan bisa tenggelam. Tapi, setelah dia tidak trauma, pasti akan kita tanya,” kata Agus.

Terkait penetapan sang nakhoda sebagai tersangka, orang nomor satu di Polres Samosir ini belum bisa memastikannya. Ia menegaskan dalam penetapan tersangka juga mesti melalui tahapan.

“Bagaimana kita bisa menetapkan seseorang sebagai tersangka kalau yang bersangkutan saja belum kita mintai keterangan? Sabar dahulu, Situa Sagala masih trauma. Tidak bisa kita minta keterangan dari orang yang sedang trauma,” ucap perwira melati dua itu.

Sebelumnya, diketahui Situa Sagala yang merupakan nakhoda tidak mengemudikan kapal tersebut. Namun, ia meminjamkan kapal itu kepada seseorang, untuk dikemudikan dan membawa penumpang kapal itu.

Tapi, pihak kepolisian belum bisa membeberkan secara detail orang yang mengemudikan KM Sinar Bangun saat kejadian, apa masuk dalam korban selamat maupun korban yang masih dinyatakan hilang. Proses penyelidikan masih terus dilakukan pihak Polres Samosir yang berkoordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Polisi M. Iqbal mengatakan, hingga saat ini petugas masih terus mencari korban hilang lainnya. Pencarian melibatkan tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD Samosir, BPBD Simalungun dan Pemkab Samosir.   “Tim gabungan tersebut menggunakan 3 kapal kayu milik Organisasi Perkapalan Simanindo (OPS) dan KMP Sumut I,” kata Iqbal dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (19/06/2018).

Iqbal menyataka sejauh ini masih dilakukan penelusuran oleh tim gabungan. Saat ini tim baru menemukan barang-barang milik penumpang saja. Semisal, KTP atas nama Maya Oktavianti, 4 tas dan 1 jirigen oli, dll.   “Saat ini di pelabuhan penyeberangan Simanindo Kab. Samosir didirikan Posko Disaster Victim Identification (DVI) yang dipimpin oleh Kabid Dokkes Polda Sumut Kombes dr. Sahat Harianja dan Karumkit Bhayangkara Tingkat II Medan dr. A. Nyoman Purnama Wirawan, DFM, S.pF,” ujar Iqbal.

Baru 19 penumpang KM Sinar Bangun  yang ditemukan. 18 orang ditemukan selamat dan 1 orang tewas atas nama Tri Suci Wulandari (21). kop/bbc/ant

Leave a comment