Terbaru

Nenek CW : Aneh, Saya Tinggal di Hotel Bersama Anak-anakku Malah Dituduh Menyekap

KopiOnline Jakarta – Kementerian Sosial menemukan kejanggalan dari keterangan 5 anak yang diduga menjadi korban penyekapan seorang wanita berinisial CW di Hotel Le Meridien, Jakarta. Kelima anak tersebut selalu memberikan keterangan berubah-ubah ketika ditanya sehingga menimbulkan kecurigaan.

“Sang anak bilang maminya baik, tetapi kami menemukan kasus beberapa anak mengalami kekerasan dan penelantaran oleh orang tuanya,” kata Dirjen Rehabilitasi Kemensos, Edi Soeharto di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA) di Cipayung, Jakarta Timur, Kamis, 8 Maret 2018.

Soeharto menuturkan, seperti ada yang ditutupi oleh kelima anak yang diketahui telah diadopsi pelaku sejak masih berusia 2 tahun itu. Kelima anak di bawah umur yang diduga menjadi korban penyekapan di hotel mewah bintang lima itu adalah FA (13), RW (14), OW (13), TW (8), dan EW (10).

Dikatakan Soeharto, kelima anak itu terlihat sangat gembira dan ceria selama menjalani rehabilitasi di RSPA.  Bahkan mereka sangat aktif berbicara dengan vokal yang lantang ketika menjawab suatu pertanyaan.

“Saya tanya cita-cita apa, dia langsung jawab to the point,” kata Soeharto.

Kelima anak itu juga menunjukkan gaya hidup yang cukup tinggi. Hal itu diketahui dari ucapan sang anak yang bercerita selalu hidup dan tinggal di hotel yang mewah.

Namun, Soeharto menduga ada yang disembunyikan oleh kelima anak itu yang belum diketahui oleh para perawat di RSPA. Sebab seringkali yang disampaikan mereka adalah bukan sesuatu yang nyata tetapi seperti sebuah fantasi.

Misalnya, kata Soeharto, kelima anak itu kerap kali bercerita sesuatu yang indah kepada para perawat yang mengasuhnya. Kelimanya bercerita kalau pelaku yang disebut sebagai mami oleh kelimanya kerap membawa mereka jalan-jalan ke luar negeri, selalu tinggal di hotel mewah, dan tidak pernah melakukan kekerasan.

“Yang mereka sampaikan seperti fantasi dan ini perlu pendalaman terus menerus,” katanya.

Bahkan ketika ditanya perawat apakah ingin kembali pulang ke pelukan orang tua, kelima anak tersebut menolak dengan alasan mereka dulu telah ditelantarkan oleh orang tua mereka.

Sementara itu Kepala Panti Sosial RSPA, Neneng Heryani menuturkan pihaknya masih menelusuri sejak kapan kelima anak itu mulai diasuh pelaku dan mulai disekap di Hotel Le Meridien dan asal kelima anak tersebut. Saat ini Kemensos baru melakukan penelusuran berdasarkan temuan surat-surat sah.

“Untuk asal anak dari mana kita juga belum mengetahuinya,” tutur Neneng.

Neneng juga menuturkan ada seseorang yang datang ke RSPA mengaku kerabat dari pelaku. Namun atas berbagai pertimbangan orang tersebut dilarang bertemu dengan kelima anak tersebut karena tak mengantongi izin dari kepolisian.

“Ini masih dalam proses penyidikan. Ini juga untuk keselamatan anak tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu, kepolisian belum menetapkan pelaku sebagai tersangka meskipun berdasarkan informasi pelaku kerap memberikan perlakukan kasar kepada kelima anak itu.

“CW statusnya sekarang ini masih saksi. Belum jadi tersangka,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono dikonfirmasi.

Sementara itu, nenek CW dalam kesempatan terpisah menjelaskan pada Koran Pagi Online, bahwa dirinya tidak habis pikir akan tindakan pihak kepolisian. Bagaimana dirinya dituding menyekap anak-anak adopsinya, sementara mereka (anak-anak) sejak kecil diurusnya dengan sandang dan pangan yang mencukupi. Bahkan, kemanapun CW pergi selalu disertakan anak-anaknya tersebut.

Menyinggung pengaduan Zal ke KPAI, ini sangat janggal dan diduga ada pihak ketiga yang sengaja memanfaatkan anak lelaki yang sementara ini dititipkan di daerah Jalan Kramat Jakarta Pusat. Zal sendiri pernah mengalami penganiayaan dan nenek CW pernah mengadukan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya, beberapa yahun lalu. Namun sangat disayangkan kasus tersebut di SP3 ( Surat Penghentian Penyidikan Perkara).

“Ini kan aneh, saat saya melaporkan anakku dianiaya kasusnya malah dihentikan, sebaliknya saya yang telah mengurus dan membesarkannya malah dilaporkan menelantarkan dan melakukan kekerasan,” ujar nenek CW sambil geleng-gelengkan kepala. kop

Leave a comment