Terbaru

Survei Nielsen: Media Cetak (Koran) Lebih Dipercaya Pembaca

Koran Pagi Edisi Cetak Tahun 2015

KopiOnline Jakarta – Belantara industri media cetak khususnya, saat ini sedang mengalami perubahan siklus. Gempuran media sosial dan media online seakan merajai dan merasa yang memiliki ruang informasi dunia maya. Tak dapat dipungkiri, media cetak mulai bertumbangan, mati dan harakiri. Masih adakah peluang koran untuk tetap bertahan?

Munculnya media sosial (Medsos) dan media online bak jamur di musim hujan, bagai senjata pamungkas nan super instan untuk menggiring dan menciptakan opini publik. Etika sering  terabaikan dan patron penulisan yang sudah disyahkan sesuai kode etik tak lagi absah. Bak wabah yang menggurita di seantero dunia. Akankah koran masih dibaca, masihkah untuk alas duduk atau pembungkus belanjaan di warung? Apa koran mulai ditinggalkan pembacanya ?

Dan anggapan itu ternyata tidak. Media cetak jenis ini masih menjadi pilihan pembaca karena beritanya dapat dipercaya. Media cetak lain, dalam hal ini tabloid dan majalah, juga masih menjadi pilihan masyarakat.

Masih eksisnya koran dan media cetak lainnya merupakan hasil survei Nielsen Consumer & Media View pada kuartal III/2017. Survei dilakukan di 11 kota dan dengan responden berjumlah 17.000 orang. Nielsen mengungkapkan saat ini media cetak memiliki penetrasi 8% dan dibaca oleh 4,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, 83%-nya membaca koran.

“Elemen trust terhadap konten tentu berpengaruh terhadap iklan yang ada di dalamnya, sehingga keberadaan koran sebagai media beriklan sangat penting untuk produk yang mengutamakan unsur trust, misalnya produk perbankan dan asuransi,” ujar Direktur Eksekutif Nielsen Media Hellen Katherina di Jakarta, Rabu (06/12/2017).

Berdasarkan profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumen dari rentang usia 20-49 tahun (74%), memiliki pekerjaan sebagai karyawan (32%), dan mayoritas berasal dari kelas atas (54%). Fakta ini mengindikasikan pembaca media cetak masih produktif dan dari kalangan yang mapan.

Nielsen juga menemukan pembaca media cetak merupakan pembuat keputusan dalam rumah tangga untuk membeli sebuah produk (36%). Selain itu, konsumen media cetak diketahui mempunyai hobi membaca buku, cenderung menyukai traveling. “Tiga dari empat pembaca media cetak mengakui tidak keberatan saat melihat iklan, karena iklan adalah salah satu cara untuk mengetahui produk baru,” jelas Hellen.

Walaupun masih setia pada media cetak, para pembaca media cetak juga mengikuti perkembangan teknologi. Mereka juga menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari. Frekuensi mereka menggunakan internet bahkan terbilang sangat tinggi, yakni mencapai 86% atau di atas rata-rata yang sebesar 61%. “Hal ini semakin memperkuat fakta bahwa pembaca media cetak berasal dari kalangan yang lebih affluent,” katanya.

Di sisi lain, Nielsen juga mengungkapkan, meskipun jumlah pendapatan belanja iklan turun 11% dari 2013 ke tahun 2017, total pendapatan iklan koran yang masih tetap berada di angka Rp21 triliun. Fakta ini menggambarkan bahwa media cetak masih memiliki peluang mendapatkan kue iklan yang signifikan.

Hasil survei Nielsen senada dengan temuan Zenith The ROI Agency di India. Menurut mereka, meski bisnis media cetak melesu dan tertinggal oleh media televisi dan digital, prospek surat kabar di India tetap cerah. Bahkan, koran akan terus mendominasi segmen media dalam tiga tahun ke depan. Media cetak akan memperoleh 38,9% dari total iklan 73.711 core pada 2020. Pada tahun yang sama, media digital diperkirakan akan meraup 15,4% penayangan iklan, sedangkan televisi 36,5%.

CEO Zenith The ROI Agency India Tanmay Mohanty tidak menampik penetrasi internet tumbuh cepat dan berhasil mengakses pasar yang sebelumnya tidak tersentuh sehingga persaingan akan kian ketat. Pengakuisisian Time Inc oleh Meredith, juga menunjukkan potensi tersembunyi media cetak yang sedang tertutup media online.

“Miliarder tidak mungkin menggelontorkan uang tanpa perhitungan. Mereka pasti melihat peluang komersial,” kata Presiden News Media Alliance, David Chavern, dilansir The Seattle Times.
Informasi Akurat

Ketua Program Studi Komunikasi, Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia Amelita Lusia menilai masyarakat bertahan membaca media cetak karena mereka mempunyai kebutuhan akan informasi yang akurat untuk sumber referensi.

“Meskipun artikel dengan topik sama ada di berita online atau ada di berita TV, untuk analisis yang sangat detail akan ditemukan di koran,” tutup mantan jurnalis ini.

Dia memaparkan, saat ini orang masih percaya pada koran karena memiliki kedalaman analisis saat membahas suatu topik, baik itu yang berkaitan dengan politik, dunia hiburan, olahraga, dan sebagainya. “Tempat yang dimiliki media cetak seperti koran untuk menampilkan satu berita, melebihi karakter tulisan di media online untuk satu berita yang sama. “Ini memungkinkan penggalian berita dari aspek 5W 1H,” katanya.

Dilihat dari alur kerja untuk media cetak juga lebih panjang. Penulisan di media cetak memungkinkan tulisan yang dipublished melewati “mata” kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, sehingga lebih akurat dalam memverifikasi tulisan. “Mata” yang dimaksud adalah tulisan reporter melewati redaktur, kepala desk, editor bahasa, redaktur pelaksana, pemimpin redaksi,” paparnya.

Lebih jauh dia memaparkan, deadline yang lebih panjang pada media konvensional seperti koran, memungkinkan penulis mencari lebih banyak sumber agar tulisannya lebih berkualitas. “Sumber tulisan itu bisa dari studi kepustakaan, observasi, maupun narasumber,” katanya.

Senada, pakar komunikasi politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gun Gun Heryanto memandang media cetak, dalam hal ini koran, diuntungkan karena terbit secara harian, dengan sistem kerja yang melembaga dan memiliki tanggung jawab redaksi yang lebih baik.

“Berbeda dengan media TV menggunakan frekuensi publik jelas terlihat kecenderungannya. Sementara media sosial dan online yang tidak kredibel sering dipenetrasikan berita hoax. Bahkan, ada yang abai dengan kroscek,” katanya. ist/kop

Leave a comment