Terbaru

Wonogiri Terendam, Banjir Bandang dan Tanah Longsor Menggila

Banjir yang merendam Wonogiri

KopiOnline Wonogiri – Akibat intensitas hujan yang cukup tinggi sejak 27 November 2017 malam sampai dengan saat ini mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor di sebagian besar wilayah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Dampak yang ditimbulkan sungguh luar niasa. Sesuai laporan yang masuk di Posko TAGANA saat ini, banjir sudah tersebar di beberapa wilayah di antaranya yang terdampak bencana yaitu di Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, dan Tirtomoyo.

Sementara itu, Dinas Sosial, BPBD, Kecamatan, Polsek, Koramil dan instansi terkait lainnya saat ini terus berkoordinasi untuk menghitung kebutuhan bagi korban yang terdampak bencana. Petugas Gabungan dari SAR dan BPBD Wonogiri telah diterjunkan untuk membantu mengevakuasi para korban banjir. Banjir diduga berasal dari luapan sungai serta luweng yang terhubung dengan sungai bawah tanah. Data sementara dari BPBD menyebutkan, banjir telah merendam tujuh kecamatan di Kabupaten Wonogiri.

Banjir parah melanda puluhan desa di Kecamatan Nguntoronadi, Tirtomoyo, Baturetno dan Pracimantoro. Hujan yang turun terus-menerus juga mengakibatkan tanah longsor di dua kecamatan. Yakni di Karang Tengah dan Pracimantoro. Beruntung tak ada korban jiwa, namun sejumlah rumah warga tertimbun tebing longsor.

Selain menggenangi ratusan rumah, banjir juga memutus jalan raya antar kecamatan. Luapan air menggenangi ruas jalan setinggi 1 meter sehingga tak bisa dilalui. Sejumlah kendaraan seperti mobil pribadi dan mini bus tidak bisa melintas.

Kepala BPBD Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, pihaknya sudah meminta bantuan tambahan perahu karet dari SAR dan PMI untuk evakuasi warga dan para siswa sekolah. Menurutnya, saat ini setidaknya ada dua ribu warga mulai mengungsi akibat banjir dan tanah longsor.

“Kami bersama rim relawan SAR, TNI dan Polri mengevakuasi warga untuk mengungsi di sejumlah balai desa dan sekolah. Kami juga sudah mendirikan empat dapur umum di tiga kecamatan, termasuk mengirimkan logistik. Saat ini tim relawan masih terus melakukan evakuasi warga,” ujar Bambang, Selasa (28/11/2017).

Bambang menambahkan, BPBD juga telah menetapkan Wonogiri darurat bencana mulai pertengahan November hingga Februari tahun depan. Lebih lanjut Bambang menerangkan, hujan yang mengguyur sejak Senin sore mengakibatkan dua sungai besar meluap, yaitu Sungai Pakem di Kecamatan Baturetno dan Sungai Wiroko di Kecamatan Tirtomoyo. Sungai tersebut melintas dari Kecamatan Tirtomoyo hingga Nguntoronadi. Akibatnya akses jalan dari Karangturi, Nguntoronadi, menuju Kecamatan Tirtomoyo putus total.

“Di Karangturi, air meluap ke jalan hingga setinggi lebih dari satu meter. Sungai Wiroko mengalir di sepanjang sisi desa-desa di Tirtomoyo sehingga wilayah itu lumpuh,” katanya.

Camat Nguntoronadi Sriyono mengemukakan saat ini Tim SAR kecamatan bersama BPBD masih melakukan proses evakuasi warga. Lokasi bencana yang berada di perbatasan antara Kecamatan Nguntoronadi dan Kecamatan Tirtomoyo sulit dijangkau petugas. Apalagi radius banjir cukup jauh dari tempat aman.

“Ada beberapa kendala untuk mengevakuasi warga, karena terbatasnya transportasi. Tidak semua kendaraan bisa melalui jalan yang tergenang,” jelasnya.

Sementara itu, sumber  Koran Pagi Online.com dan Lapan6Online.com di lokasi kejadian bencana di Kabupaten Wonogiri  pada  28 November 2017  sekira pukul 16.31 WIB di Kecamatan Selogiri terjadi tanah longsor  yang menimpa satu rumah  milik Sarjono Desa Beran RT 05 RW 03 Kepatihan,  Kecamatan  Selogiri, ditambah lagi pohon tumbang menimpa rumah Mbah Surip Serut RT 02 RW 05 Pare.

Di Kecamatan Pracimantoro banjir menimpa Desa Joho, Pracimantoro dan Sambiroto jumlah rumah yang terendam sampai saat ini 30 rumah untuk warga yang rumahnya terendam saat ini ditampung di rumah kerabat terdekat. Selain itu, banjir juga memutus jalan akses dari Kecamatan Eromoko menuju Pracimantoro dan sebaliknya  akses dari Kecamatan Pracimantoro menuju Kecamatan Giritontro juga terputus totsl akibat banjir yang melanda.

Selain itu banjir juga menggenangi Masjid Nurul Iman, KUA, SD MPK, Rumah Dinas Ramil 13. Dan banjir juga menggenangi kawasan Monen Karst dan wilayah yang rendah hampir merata di seluruh wilayah Kecamatan Pracimantoro.

Sedangkan di Kecamatan Eromoko  banjir menghantam  Dusun Malangan, Desa Baleharjo dan Dusun Sampang , Desa Minggarharjo, Kecamatan Eromoko, ini dikarenakan Sungai Prambon meluap mengakibatkan 6 rumah terendam ketinggian air mencapai 1 M.

Kecamatan Nguntoronadi banjir di Desa Bulurejo dan Desa Kulurejo dan 1 buah pohon asem tumbang di Jalan Nguntoronadi – Baturetno yang mengakibatkan Jalan macet total.

Ada 15 (lima belas) rumah terendam banjir kurang lebih 1 meter, sawah terendam banjir sekitar 10 hektar. Di Kecamatan Tirtomoyo terjadi tanah  longsor  menimpa rumah Supriyadi warga  Dusun Dawuhan RT 2 rw 8 Desa Hargorejo, Kecamatan Tirtomoyo dan kondisi kerusakan tembok rumah jebol.

Dan Kecamatan Wonogiri sendiri tebing jalan di lingkungan Kerdu Kepik, Kelurahan  Giripurwo, Kecamatan Wonogiri terjadi tanah longsor yang mengakibatkan ruas jalan tertimpa longsoran. Longsor menimpa rumah Marto dan Sakimin warga Gondanglegi RT03/04 Sendang, Wonogiri dan mengakibatkan rumah roboh dan satu rumah terancam ambruk  hingga mengkibatkan 4 kadang ternak roboh serta satu sapi mati tertimpa kandang.

Kecamatan Baturetno pun terkena luapan sungai merendam 5 rumah di Dusun Jatirogo, Desa Balepanjang. Kecamatan Baturetno,  dan di Kecamatan Karang Tengah, Desa Ngambarsari tanah longsor yaitu talud jalan desa dan menimpa rumah Sarno (47) warga  Dusun. Pojok RT 01 RW 05 Desa Ngambarsari dengan kerugian berupa talud jalan kurang lebih sepanjang Rp45 M yang ambrol dan atap  rumah bagian kamar mandi yang runtuh.

Tanah longsor juga menimpa Dusun Purwoharjo, 2 rumah warga di Dusen Ngampul Rt. 02 Rw.3 yaitu rumah Tumin dan Misno terkena tanah longsor tersebut. Warga yang terkena musibah mengungsi sementara di tempat saudara-saudara mereka yang lebih aman. Dan sementara itu  untuk penanganan lanjutan belum bisa dilakukan karena situasi belum memungkinkan.

Dan Wonogiri bagian barat sendiri, persisnya di Kecamatan Manyaran pun terjadi tanahl longsor yang memutus akses lalu lintas (lalin,red) di Dusun Timoyo Desa Bero, Kecamatan Manyaran yang menghubungkan dusun lain pun terputus akibat tanah longsor tersebut.

Kecamatan Giriwoyo juga terjadi bencana tanah longsor yang mengakibatkan rumah penduduk terkena dampak longsor  Subadi (54) warga  Rt.02 Rw.08  Dusun Klego, Desa Tirtosuworo, Kecamatan Giriwoyo. Dan  di Kecamatan Batuwarno dampak longsoran  mengakibatkan rumah Rakimin (55)  dengan jumlah jiwa 6 orang antara lain dari Rt 02/Rw 14 Dusun Jliru, Dusun Tegiri, Batuwarno.

7 Hari Tanggap Darurat

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri menetapkan tujuh hari ke depan sebagai masa tanggap darurat bencana di daerah  Jika dinilai tidak cukup maka akan diperpanjang lagi. Bupati Wonogiri Joko Sutopo, Rabu (29/11/2017), memimpin langsung Rakor Paska Bencana di Ruang Kahyangan Pemkab Wonogiri bersama unsur TNI/Polri, PMI, BPBD, SAR, Kepala OPD dan kalangan camat di daerahnya.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo. Foto2 :dok.timlo.net/tarmuji

Menurut Bupati, bencana banjir dan tanah longsor yang melanda 10 kecamatan (semula dilaporkan 9 kecamatan) di daerah Wonogiri merenggut korban jiwa dua orang dan satu orang lainnya dinyatakan hilang warga Desa Dlepih dan Sidorejo Kecamatan Tirtomoyo. dua warga tewas asal Desa Dlepih adalah Suyati (63) dan anaknya Sriwanti (40), penduduk Dusun Bengle RT 02/RW 05 Dlepih.

“Keduanya tidak sempat lari keluar rumah ketika tebing setinggi 25 meter di samping rumahnya longsor sekitar pukul 17.00 WIB Selasa lalu,” jelasnya.

Korban lain yang belum ditemukan adalah Sudarno, warga Nglencung Desa Sidorejo Kecamatan Tirtomoyo. Sementara itu, untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi longsor dan banjir susulan Camat Tirtomoyo hingga Rabu (29/11/2017) masih mengungsikan sebanyak 480 jiwanya di Balai Desa Dlepih.

Lebih lanjut dikemukakan bupati, pihaknya sudah memerintahkan Kepala DPU setempat untuk mendata kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan di Wonogiri yang rusak atau putus akibat hujan lebat lebih dari 16 jam. BPBD bersama dinas terkait khususnya Dinso, DKK dan Bappeda juga masih terus menghitung kerugian material.

“Saya berharap jika ada donatur yang akan membantu korban tidak semuanya dalam bentuk logistik, sehingga menumpuk berbulan-bulan tidak habis padahal tanggap darurat bencana hanya 7 hari,” ujar Joko Sutopo yang akrab disapa Mas Jekek sembari menambahkan bantuan bisa diwujudkan material lain agar tidak mubazir. Lp6/kop/bbs/Samtida.

Leave a comment