Terbaru

Gagal Menyandera Warga di 2 Desa, KKB Papua Marah & Bakar Truk

KopiOnline Mimika – Rakyat Indonesia pada umumnya dan Papua khususnya, menarik napas lega pasca pembebasan warga yang disandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Desa Banti dan Kimbeli, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua. Suasana pembebasan sandera berjalan dramatis dan menegangkan. Namun begitu, operasi gabungan yang dilakukan Satgas Terpadu TNI Polri tak lepas dari perlawanan.

Merasa terpojok dan kuasa melakukan perlawanan, puluhan anggota Kelompok Kriminal Bersenjata – Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (KKB-TPN OPM) yang lari kocar-kacir dan bersembunyi di balik gunung masih mencoba menyerang petugas. Beruntung tim sangat solid hingga tak satu pun menjadi korban jiwa termasuk dari sandera yang diselamatkan. Hanya saja, satu petugas polisi sempat terkena tembakan di bagian kaki.

Pascapembebasan warga yang disandera di Desa Banti dan Desa Kimbely pada Jumat (17/11/2017), secara keseluruhan kondisi di wilayah Tembagapura, Papua sudah kondusif. Namun kawanan KKB dikabarkan masih berusaha melakukan perlawanan. Dua buah haul truk milik PT Freeport Indonesia ditembaki dan dibakar.

Polisi mengevakuasi warga yang disandera

“Secara keseluruhan sebenarnya sudah kondusif hanya saja memang pagi tadi ada gangguan dari mereka yang saat penyergapan kemarin lari,” ungkap Kapendam Cenderawasih, Letkol Inf Muhammad Aidi, Sabtu (18/11/2017).

Menurutnya, aksi tersebut sebagai bentuk kekesalan anggota KKB karena tidak mendapatkan apa-apa dari upaya penyandera ribuan warga di satu perkampungan selama beberapa pekan.

“Kemudian mereka melepaskan tembakan dan membakar truk. Kejadian itu tak jauh dari lokasi penyanderaan, tapi jauh dari pos petugas. Untungnya tembakan ke arah petugas tidak kena hanya mengenai dua unit truk itu,” katanya.

Oleh sebab itulah, Satgas Terpadu TNI Polri tetap melanjutkan perburuan terhadap anggota KKB yang diyakini kini dalam kondisi terpisah-pisah setelah digempur dalam penyergapan kemarin. Dia pastikan pula, kelompok bersenjata yang beraksi hari ini sama dengan yang sebelumnya.

Suasana evakuasi warga Kimbeli yang disandera KKB

“Kita TNI akan siap melakukan pengejaran walaupun itu memang berat dan medannya susah. Kemarin itu mereka kocar kacir selamatkan diri masing-masing dan kita memang tidak mengejar karena cuaca sudah gelap, medan sulit dan kita fokus mengurusi para sandera supaya tidak ada yang jadi korban. Tapi pergerakan mereka kita pantau melalui drone,” jelasnya.

Lebih kurang 340 warga dievakuasi Satgas dari dua desa tersebut. Sedangkan sisanya yang merupakan warga asli desa tersebut memilih bertahan karena itu merupakan kampung halamannya. Hanya saja, mereka meminta jaminan keamanan dan meminta logistik dari pemerintah.

“Dan itu sudah kita laksanakan. Jadi dari 344 yang kita evaluasi itu ada pendatang dan warga asli juga,” paparnya.

Evakuasi warga yang disandera semula akan ditempatkan di tenda.

Warga yang telah dievakuasi semula akan ditempatkan di tenda pengungsian yang didirikan di wilayah Timika. Namun sejumlah paguyuban masyarakat asal daerah mereka telah lebih dulu menawarkan bantuan sehingga tenda tak terpakai.

“Di sini paguyuban warga itu sangat hidup semisal paguyuban Jawa ada, paguyuban Sulawesi ada dan saat mereka datang langsung di sambut paguyuban masing-masing dan kita salurkan bantuan melalui paguyuban tersebut,” jelas Aidi.

Tolak Kenaikan Pangkat

Peristiwa dramatis terjadi saat Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberi kenaikan pangkat luar biasa untuk 58 anggota TNI yang mengikuti operasi pembebasan sandera di Tembagapura, Papua. Lima orang perwira yang menjadi pemimpin operasi itu menolak kenaikan pangkat.

Para perwira itu menjelaskan kepada atasan mereka bahwa keberhasilan operasi ini adalah milik anak buah. Jika ada kegagalan, maka yang bertanggung jawab adalah para perwira.

“Mereka menyampaikan sepantasnya kenaikan pangkat hanya anak buahnya, bukan perwiranya. Secara halus mereka menolak kenaikan pangkat,” tutur Gatot saat upacara di Mimika, Papua, Minggu (19/11/2017).

Permintaan para perwira itu membuat Gatot terharu. Apalagi mereka menyatakan siap bertanggung jawab jika operasi gagal. “Itulah yang membuat saya terharu, luar biasa mereka,” ujarnya.

Jenderal Gatot mengaku tetap memperhatikan karir mereka. Kelima perwira itu akan mengikuti pendidikan khusus mendahului rekan-rekan mereka. Dengan begitu dipastikan mereka akan naik pangkat lebih dulu daripada rekan seangkatan.

“Jadi kelima perwira itu tidak menerima kenaikan pangkat. Tetapi diberi pendidikan secara khusus mendahului rekan-rekannya,” tutupnya.

Kelima perwira muda tersebut berasal Kopassus, Raider, dan Tontaipur. Merekalah yang membuka serangan dan mengusir kelompok separatis dari Dusun Kimbely dan Binti.

58 Prajurit Naik Pangkat

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan operasi penumpasan Kelompok Kriminal Bersenjata -Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (KKB-TPN OPM) di wilayah Kimbeli dan Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, pada Jumat (17/11/2017) semata-mata demi menyelamatkan masyarakat sipil.

Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyematkan kenaikan pangkat pada prajuritnya.

Panglima TNI bersama sejumlah pejabat teras Mabes TNI secara khusus datang ke Tembagapura, Timika, pada Sabtu (18/11/2017) dalam rangka menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa kepada 58 prajurit TNI yang terlibat langsung dalam tim penumpasan KKB-TPN OPM.

“Gerakan separatis ini sudah melakukan pembunuhan. Kemudian melakukan penyanderaan. Penyanderaan itu bukan disekap dalam satu ruangan, tetapi di suatu lokasi dan membuat mereka tidak bisa kemana-mana, tidak mendapat layanan apapun, baik pendidikan, kesehatan, dan lainnya,” kata Jenderal Gatot Nurmantyo di Tembagapura, Minggu (19/11/2017). Seperti dilansir Antara.

Para prajurit TNI yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa itu berasal dari kesatuan Batalyon Infanteri 751 Rider Jayapura, Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dan Peleton Intai Tempur (Tontaipur) Kostrad.

Upacara penganugerahan kenaikan pangkat luar biasa kepada puluhan prajurit TNI itu berlangsung di Kampung Utikini Lama, Distrik Tembagapura, Minggu pagi.

Jenderal Gatot mengatakan sedianya pemberian kenaikan pangkat luar biasa itu dilaksanakan di Kampung Kimbeli atau Kampung Banti. Namun rencana itu dibatalkan lantaran akses jalan ke dua kampung itu dalam kondisi rusak berat lantaran digali menggunakan alat berat oleh pihak KKB-TPN OPM, beberapa waktu lalu.

Panglima TNI menegaskan selama ratusan warga sipil diisolasi di Kimbeli, Banti dan area longsoran dekat Kali Kabur, warga mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari KKB-TPN OPM.

“Para sandera juga terintimidasi, bahkan 12 wanita dilaporkan mengalami kekerasan seksual,” ujar orang nomor satu di jajaran TNI itu.

Tidak itu saja, sebagian warga sipil mengaku dijarah dan dirampas harta bendanya.

Berdasarkan data yang diterima pihak kepolisian, jumlah uang yang dirampas mencapai Rp 107,5 juta, emas hasil dulangan yang dijarah sebanyak 254,4 gram, dan sebanyak 200-an telepon genggam disita oleh KKB.

Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan tindakan tersebut tidak bisa dibiarkan terus berlangsung sehingga negara melalui aparat TNI dan Polri harus hadir untuk menyelamatkan masyarakat sipil.

“Urgensinya, karena penyanderaan sudah dilakukan sejak tanggal 1 November dan semakin hari kesehatan para sandera semakin menurun, kelaparan karena persediaan logistik mereka sudah mulai habis sehingga harus segera diambil tindakan tegas,” ujar Panglima TNI.

Tindakan tegas itu harus segera dilakukan mengingat berbagai upaya pendekatan telah dilakukan oleh Kapolda Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar bersama para tokoh tapi tidak juga meluluhkan hati para anggota kelompok separatis bersenjata itu.

“Pak Kapolda sudah menggunakan berbagai macam cara untuk negosiasi, baik melalui tokoh gereja, tokoh masyarakat, Pemda dan semua upaya dilakukan,” kata Gatot.

Kapolri Apresiasi Panglima TNI

Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian menyampaikan ucapan terima kasih pada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo beserta tim gabungan dari Grup 1, 2, 3 dan Sat81/Gultor Kopassus TNI AD, serta Yonif-751/Raider dan Tontaipur Kostrad TNI AD.

“Apresiasi yang tinggi pada panglima TNI dan jajaran yang telah bersama-sama melakukan operasi TNI dan polri dalam rangka pembebasan sandera, dan tidak ada korban apapun dari pihak sandera,” kata Tito di Gedung Graha Adhya Wicaksana Pusdatin Kemhan, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Minggu (19/11/2017).

Tito menjelaskan, operasi gabungan yang dilakukan pada Jumat (17/11/2017) lalu, sesuai dengan standar penanganan sandera dan sukses. Pasalnya, 344 sandera telah diselamatkan tanpa ada satu warga yang terluka. mdk/ant/kop

Leave a comment