Terbaru

Setya Novanto, TSK Mega Korupsi e-KTP Kini Jadi Tahanan KPK di RSCM

Setya Novanto, tersangka Korupsi e-KTP dalam keadaan pingsan di RSMPH.

KopiOnline Jakarta –  Malang tak dapat ditolak, untung pun tak dapat diraih. Itulah gambaran yang tepat untuk Ketua DPR RI, Setya Novanto (Setnov) yang sedang mencari celah untuk menghindar dari pengejaran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena keterlibatannya dalam kasus mega korupsi e-KTP. Setidaknya Setnov sempat mengecoh penyidik KPK yang menggeledah rumahnya. Namun apa daya Ketua Umum Partai Golkar ini malah mendapat musibah, mobil yang ditumpangi menabrak tiang listrik.

Setnov yang dikabarkan duduk di belakang mengalami benjol di bagian kepala dan sempat pingsan. Namun demikian, rupanya Tuhan telah menyelamatkan jiwa politisi gaek yang hampir terenggut nyawanya di tiang listrik di Jalan Permatan Berlian Komplek Permata Hijau Kebayoran Lama Jakarta Sealatan. Malam itu juga Setnov dilarikan ke RS Medika Permata Hijau, kemudian oleh KPK dibantar ke RSCM Jakarta, pada Jumat, (17/11/2017).

Setya Novanto saat tiba di RSCM.

Langkah ini diambil Komisi Pemberantasan Korupsi guna mengecek lebih lanjut kesehatan tersangka kasus korupsi proyek e-KTP ini. Dengan begitu KPK mudah menjatuhkan tindakan hukum untuk Setya Novanto.

Meski demikian, masih banyak hal janggal terkait kecelakaan yang menimpa Ketua DPR RI ini. Terutama untuk RS Medika Permata Hijau.

Dari sejak Setya Novanto mengalami kecalakaan pada Kamis, (16/11/2017) malam, bisikan-bisikan tak enak mengenai rumah sakit yang beralamat di Jalan Kebayoran Lama Nomor 64, Kebayoran Lama Utara, Jakarta Barat, bermunculan.

Isu pertama yang menyebar di media sosial adalah, lantai 3 tempat dirawatnya Setya Novanto sudah “dipesan” dan sudah dirapikan sedari sore. Isu itu semakin berembus kencang dikarenakan pihak rumah sakit enggan membeberkan hasil rekam medis dari Setya Novanto.

IDI Membantah

Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr Adib SpOT yang dihubungi Jumat, (17/11/2017) pagi mengatakan bahwa pihaknya tidak mau berpolemik terhadap isu. Dia yakin tidak mungkin rekan sejawat dokter melakukan hal-hal yang dituduhkan itu. Terkait dengan hasil rekam medis, Adib menjelaskan, hal itu dilindungi Undang-Undang sehingga bersifat rahasia. Pihak rumah sakit tidak diperkenankan merisilis hasil rekam medis ke pihak luar.

“Yang jelas dari sisi kedokteran tentunya teman-teman sejawat dokter masih berpegang teguh pada rasa profesionalisme dan etika di dalam kedokteran,” kata Adib.

Sebuah keganjalan kembali ditemukan oleh seorang dokter bernama dr Wahyu Triasmara. Lewat sebuah unggahan foto yang di akun Facebook pribadinya, dr Wahyu Triasmara (Dokter Sahabat Anda) menyebut bahwa jarum infus yang digunakan SN untuk pasien anak-anak.

Keganjalan Jarum Infus

“Kami doakan semoga Bapak Setnov lekas sembuh dari musibah yg beliau alami. Hanya saran sedikit buat tmn2 sejawat yg bertugas merawat beliau mungkin jarum infusnya perlu diganti utk yg dewasa karena setahu kami yg dipakai kami lihat seperti utk bayi/anak. Saya yakin rumah sakit sebesar itu punya stok jarum infus utk dewasa 😁,” tulis dr Wahyu.

“Maaf bapak pengacara bapak polisi saya tidak ada unsur menghina disini justru mendoakan pak Setnov dan mengingatkan penggunaan abocath infus yg barangkali kurang pas aplikasinya. 😁😂,” lanjutnya lagi yang ia tulis di kolom komentar.

Unggahan itu menjadi viral. Sudah dibagikan lebih dari 35 ribu kali sampai hari ini.

 Kemudian, 11 jam yang lalu, dr Tifauzia Tyassuma melakukan hal yang sama, yaitu mempertanyakan kebenaran Setya Novanto yang didiagnosis gegar otak.

Kalau memang benar pasien tersebut didiagnosis gegar otak, maka status dokter yang merawatnya patut dipertanyakan.

“Koma Diabetikum”

*Ini Ruangan Rumah Sakit atau lokasi shooting sinetron?

Sebab bila diagnosis pasien ini betul gegar otak maka betapa bodohnya Dokter yang merawat. (Heran saya kenapa profesionalisme Dokter Indonesia yang begitu dilecehkan, tidak ada satupun korps yang protes. Kemana kalian IDI,PDIB, DBTI?).

Bila ini betul gegar otak.

Maka pasien di kamar perawatan biasa salah.

Cara dan jenis pemasangan infus salah.Pasang kateter maksudnya buat apaan itu salah.

Selang oksigennya salah. Posisi bantal jelas salah. Pasang kasa di rambut bukan di luka bukan salah lagi. Bodoh. Bila Dokter Indonesia merawat pasien dengan diagnosis gegar otak caranya seperti ini.

Bagaimana dengan pasien yang mengalami Koma Diabetikum?

Pertanyaan saya ulang.

Ini di ruang perawatan Rumah Sakit atau lokasi shooting sinetron?

Pertanyaan saya ulang. Tidakkah Para Dokter Indonesia terusik profesionalitas kita?

Ini profesi kita. Dan kita dibodohkan dan dilecehkan sedemikian rupa dan kita hanya ikut tertawa begitu saja?

Ini Dunia Sosial Media. Foto seperti ini beredar di 155 negara dan potensi dilihat oleh 3 Miliar warga facebook dunia. Sungguh marketing yang buruk sekali bagi mutu pelayanan dokter di Indonesia.(Sumber : liputan6/kop)

Leave a comment