Terbaru

Apa Iya…, Disparbud DKI Minta Satpol PP Buka Karaoke Diamond

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

KopiOnline Jakarta,– Direktur Eksekutif Jakarta Public Service (JPS) M Syaiful Jihad meradang dan meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan agar terus bersikap tegas terhadap tempat-tempat hiburan yang bermasalah.

Pasalnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) mengirimkan surat kepada Satpol PP yang secara implisit meminta agar Karaoke Diamond and Lounge di kawasan Glodok Tamnasari Jakarta Barat yang ditutup sementara pada 15 September 2017 lalu karena kasus narkoba, dibuka kembali.

“Setelah (Hotel) Alexis ditutup dengan tidak diperpanjang lagi izinnya karena dianggap ada prostitusi, kini ada tempat hiburan yang telah ditutup karena bermasalah dengan narkoba, justru akan dibuka kembali. Ini akan menjadi preseden buruk,” katanya kepada wartawan melalui siaran tertulis, Kamis (08/11/2017).

Ia menambahkan, jika Karaoke Diamond dibuka kembali, maka Anies bukan hanya akan dianggap tidak konsisten, namun juga akan dianggap munafik karena di satu sisi menutup hotel yang diduga hotel mesum, namun di sisi lain tempat karaoke yang bermasalah dengan narkoba, dibuka kembali.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, surat yang dikirim Disparbud kepada Satpol PP didasari surat dari Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya bernomor 13/1881/X/2017 tertanggal 16 Oktober 2017. Dalam surat bernomor 1617/-1.858.2 bertanggal 25 Oktober 2017 itu disebutkan bahwa narkoba jenis sabu yang digunakan politisi Golkar berinisial IJP dan rekannya saat ditangkap di Diamond, bukan didapat dari dalam tempat karaoke tersebut. Atas surat Direktorat Narkoba tersebut, Disparbud meminta agar Satpol PP menindaklanjuti surat tersebut.

Dalam rapat yang digelar di Satpol PP dan dihadiri seluruh pihak terkait, termasuk staf Disparbud, perwakilan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya dan PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil), Kasatpol PP DKI Jakarta.

Kasatpol PP DKI Jakarta, Yani Wahyu mengatakan bahwa ia tidak bisa menindaklanjuti surat Disparbud karena selain isi surat itu tidak secara tegas menjelaskan apa yang harus dilakukan pihaknya, meski maksudnya tersirat, juga belum ada kajian apakah jika narkoba dibeli di luar Karaoke Diamond, penutupan sementara tempat karaoke itu dapat dicabut.

“Kasatpol PP tidak berani menindaklanjuti surat Disparbud begitu saja, selain karena perintah penutupan sementara tersebut atas perintah gubernur saat itu (Ahok), juga karena penutupan didasari surat Kadisparbud yang waktu itu dijabat Catur Laswanto, kepada Satpol PP,” imbuh sumber yang hadir dalam rapat tersebut.

Selain hal tersebut, izin Karaoke Diamond ternyata sudah habis pada 2016 dan perpanjangan izinnya baru diurus pada 2017 ini ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMTPST), sehingga Yani juga meminta kejelasan soal itu dari DPMTPST.

“Jadi, saat Karaoke Diamond ditutup, izinnya sudah habis,” pungkas narasumber tersebut.

Narasumber ini menyayangkan Kadisparbud Tinia Budiati dan Kabid Penertiban Disparbud Toni Bako tidak hadir dalam rapat tersebut, karena jika yang bersangkutan hadir, ia yakin persoalan dapat dituntaskan saat itu juga.

Keterangan lain yang dikumpulkan Koran Pagi Online menyebutkan bahwa pihak Dispardud DKI tidak memberikan rekomendasi untuk membuka Karaoke Diamond yang dalam status disegel dan tutup sementara. Namun pihaknya memberitahukan ke Satpol PP bahwa sesuai penyidikan Ditnarkoba Polda Metro Jaya, salahguna narkoba yang melibatkan politisi JP tidak ada kaitannya dengan manajemen Diamond. Itu pun untuk dikaji karena yang menyegel tempat itu adalah Satpol selaku penegak Perda.

Sementara itu pemerhati tempat hiburan malam, S. Tete Marthadilaga mengungkapkan seharusnya pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta jangan keburu napsu. Setidaknya harus seksama dan ekstra hati-hati untuk merekomendasikan agar Karaoke Diamond dibuka kembali. Bisa jadi setelah itu Karaoke Illegals yang juga terseret kasus narkoba, ikut terkesan dilindungi.

Sebaliknya, lanjut Mas Tete Martha,  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemda DKI Jakarta, (Disparbud) seharusnya punya rasa curiga dan menunda memberikan rekomendasi kepada Satpol PP DKI yang didasari surat dari Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya bernomor 13/1881/X/2017 tertanggal 16 Oktober 2017.

Kecurigaan itu didasari atas tudingan dari beberapa elemen masyarakat yang menyebutkan adanya dugaan kongkalikong antara oknum aparat penegak hukum dengan pengusaha tempat hiburan malam yang terkena masalah tindak pidana narkoba. Sebab, terkesan asal ada surat dari Direktorat Narkoba maupun BNNP yang menyebutkan tidak terkaitnya tempat hiburan dengan peredaran narkoba yang terjadi, maka Pemprov DKI tidak harus menutup atau mencabut surat izin tempat hiburan tersenbut.

Rekam Jejak Karaoke Diamond

Seperti diberitakan sebelumnya, selain politisi Partai Golkar Indra J Piliang dan kedua temannya, polisi juga membenarkan adanya perempuan pemandu lagu yang biasa disebut Ladies companion (LC) pada saat penggerebekan di Diamond Karaoke and Lounge, Jakarta Barat.

“Memang ada, itu sedang kami cek. Saya tidak tahu namanya siapa,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (15/09/2017).

Sebelumnya, politikus Partai Golkar Indra J Piliang berpesta narkoba di tempat hiburan malam Diamond, Tamansari, Jakarta Barat, Rabu (13/09/2017).

Argo juga menuturkan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan keberadaan LC tersebut saat Indra dan dua rekannya RF dan MIJ berpesta narkoba. Apakah LC ikut mengonsumsi atau kehadiran LC sesudah barang haram itu habis dipakai.

“Tentunya nanti akan menjadi bagian dari pengembangan,” jelasnya.

Menurut Argo, polisi juga sedang memeriksa oknum karyawan Diamond karaoke yang menyediakan sabu-sabu satu gram, alat hisap narkoba, kamar, dan LC. Sebab, Indra dan temannya hanya datang dan siap mengonsumsi barang haram itu.

Argo juga memastikan bahwa karyawan Diamond itu telah diamankan. Hanya saja, Argo merahasiakan identitasnya. “Sudah diamankan. Kami masih cari bandar besarnya,” tegas Argo.

16 Orang Positif Narkoba

Razia narkoba sebelumnya juga pernah dilakukan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta di tempat hiburan malam, Karaoke Diamond and Lounge, Tamansari, Jakarta Barat. Alhasil, 16 orang terjaring lantaran positif menggunakan narkotika.

Selain pengunjung tempat huburan malam itu, dalam razia tersebut pihak BNNP menemukan beberapa alat hisap sabu yang tersimpan di meja resepsionis.

“Kayaknya itu disiapkan oleh mereka, disediakan oleh pemilik Dimamond ini. Karena kita temukan banyak plasitik sabu baru maupun yang lama di meja resepsionisnya, termasuk alat-alat bong (alat hisap sabu),” ujar Ketua BNNP DKI Jakarta, Brigjen Johnypol Latupeirissa, saat dihubungi, Kamis (13/4/2017).

Pria yang kerap disapa Johny ini menambahkan, kegiatan razia yang digelar pada pukul 00.30 WIB ini, melakukan test urin kepada seluruh pengunjung tempat hiburan malam itu yang berjumlah sekitar 44 orang.

“Terdapat 16 orang positif, termasuk 6 orang tersangka karena sedang menggunakan sabu di dua ruang berbeda. Kita sita sabu dan alat hisapnya,” tambah Johnypol.

Lebih lanjut, Johny mengatakan, pihak BNNP menggelar kegiatan razia tersebut lantaran sebelumnya pihaknya telah melakukan pengawasan terhadap tempat tersebut dan mendapat informasi bahwa tempat hiburan malam itu mejadi sarang peredaran narkotika.

“Kita kan sudah ada bidang intelijen, kita obserfasi dulu. Darisanalah (akhirnya dilakukan operasi),” ucap Johnypol.

Saat ini, Johny mengaku akan berkordinasi dengan BNN, dan Pemerintah DKI Jakarta untuk memberikan sanksi administratif atau penutupan Diamond.

“Karena memang dari ketentuan yang disampaikan pemerintah daerah. Kalau ada peredaran apalagi menyediakan, akan ditutup,” tandas Johny. adm/kop

Leave a comment