Terbaru

Penyidikan Kasus Novel Menggunakan Teknik Induktif & Deduktif

KopiOnline Jakarta – Kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, sudah enam bulan belum ditemukan titik terang. Kendatipun penyidik sudah mengamankan dan memeriksa lima orang, namun hasilnya masih nihil.

Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Rikwanto mengatakan, dalam pengungkapan suatu kasus, penyidik biasanya sering menggunakan tehnik atau metode induktif dan deduktif. Induktif yaitu penyidikan berangkat dari tempat kejadian perkara (TKP). Hasil olah TKP dijadikan bahan untuk membuka peristiwa yang terjadi sebenarnya tentunya ditambah dengan saksi-saksi yang bisa didapatkan. Sedangkan deduktif, penyidik berangkat dari motif yang diduga melatar belakanginya. Kemudian mencari benang merah siapa saja kira-kira yang diduga ada kaitannya dengan kejadian tersebut.

Dua cara ini sering sangat efektif untuk mengungkap kasus pidana yang terjadi. Namun banyak peristiwa pidana yang terjadi di lapangan karakteristik tingkat  kesulitan mengungkapnya  berbeda satu sama lain ( berkaitan dengan  MO – modus operandi, type pelaku, waktu, lokasi, tehnik dan lainnya). Dan ini terjadi pada banyak kasus yang ditangani  penyidik, tidak terkecuali untuk kasus yang menimpa Novel Baswedan.

Seperti di Paris, lanjut Rikwanto, ada dua kali Bom meledak di Kedubes RI tahun 2004 dan 2012. Sampai saat ini belum juga terungkap, padahal polisi Perancis sudah bekerja keras dan sistem CCTV kota Paris tergolong canggih pada waktu itu.

Lainnya adalah kasus penembakan anggota Provost Polri di jalan HR Rasuna Said Kuningan. Penembakan anggota Polri di daerah Ciputat, beberapa kasus perampokan dan  kasus pembunuhan  banyak yang belum terungkap.

Belum terungkapnya kasus-kasus  tersebut bukan berarti  karena penyidik tidak bekerja atau tidak serius mengungkap, namun kendala tehnis yang ditemukan di lapangan  sering membuat proses penyidikan menemui  jalan buntu. Dan ini bisa membuat penyidik  harus kembali ke proses awal lagi.

Berkaitan dengan kasus yang menimpa Novel Baswedan, pelakunya memang belum terungkap sampai sekarang. Namun penyidik Polda Metro Jaya sudah melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. (lima orang sudah diamanakan dan digunakan scientific investigation  untuk menguji alibi masing dan disimpulkan hasilnya mereka tidak  terlibat.)

Pengungkapan suatu perkara pidana, kadangkala hanya masalah waktu saja. Ada yang cepat dan ada pula yang cukup lama, bahkan ada yang lama sekali baru terungkap. Sebab, tingkat kesulitannya  yang berbeda satu sama lain.

Penyidik Polda Metro Jaya dibantu Bareskrim Polri sampai saat ini masih terus berupaya mengungkap dan akan terus  mencari pelaku penyiraman terhadaop Novel Baswedan dan sekaligus  juga berharap ada masukan informasi yang signifikaun dari masyarat, dari korban sendiri atau dari  pihak manapun untuk bisa dijadikan bahan dalam  mengungkap kasus tersebut.

Mahfud MD : Kasus Novel Tidak Sulit

Sementara itu Penanganan Polisi terhadap kasus penganiayaan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan sudah lebih dari 200 hari. Namun, polisi masih belum bisa mengungkap dan menangkap pelakunya. Bahkan, karenanya para mantan pimpinan KPK dan masyarakat sipil antikorupsi mendorong pimpinan KPK mendorong Presiden Joko Widodo membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF)

Mantan Ketua MK Mahfud MD mengatakan mengungkap pelaku penganiayaan terhadap Novel sebenarnya tidak sulit. Namun, hal itu tergantung apakah aparat kepolisian serius mengungkap kasus penganiayaan terhadap Novel tersebut. Dia juga mengatakan dirinya belum melakukan analisa apakah TGPF perlu atau tidak.

“Saya belum menganalisa ini perlu atau tidak. Tetapi memang ini harus diungkap. Itu kan sebenarnya kalau mau menurut saya yah, kalau mau mengungkap kasus Novel Baswedan ini tidak sulit sebenarnya, kalau mau. Tinggal mau atau tidak,” ujar Mahfud, Jumat (03/11/2017) kemarin.

Menurut dia, pembentukan TGPF akan membuat masyarakat puas. Pembentukan TGPF akan dilihat oleh masyarakat bahawa penanganan kasus Novel ini serius.

“Seumpama tidak bisa pun misalnya ‎mungkin saya salah seumpama tidak bisa karena sulit. Ketika itu dibentuk tim pencari fakta, rakyat akan puas karena rakyat melihat oh iyah sudah dibentuk TGPF nya, seperti itu,” tukasnya.

Disebutkan, jika TGPF tidak dibentuk maka rakyat akan terus mempertanyakan penyelesaian kasus penganiayaan terhadap Novel iini.

“Tapi kalo ini tidak bisa diungkap, dan tim pencari fakta tidak dibentuk rakyat akan terus bertanya, tukasnya.

Maka itu, Mahfud menegaskan bahwa lebih baik TGPF dibentuk. Guru besar dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta ini juga pernah dihubungi oleh Komnas HAM tarkait pembentukan TGPF tersebut.

“Dulu saya dihubungi orang melalui Komnas Ham membuat tim ini. Menurut saya bagus tapi saya tidak ada waktunya. Banyak yang lebih profesional untuk mengerjakan itu,” katanya. (mastete)

Leave a comment