Terbaru

Aturan Nyeleneh di Kejari Samarinda, Wartawan Tak Boleh Bawa Perangkat kerja

KopiOnline Samarinda – Aneh, aturan yang diterapkan Kasubag BIN Kejaksaan Negeri (Kejari) Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) terhadap masyarakat atau tamu yang datang di kantor Kejari Jalan M. Yamin Samarinda perlu dipertanyakan. Aturan nyeleneh dan super ketat itu hanya berlaku bagi wartawan, sementara masyarakat umum bebas membawa barang bawaan.

Ini dia aturan tidak jelas itu bahwasanya wartawan yang masuk kantor Kejari Samarinda semua fasilitas atau perangkat kerja sebagai wartawan ditahan di portir. Sedangkan masyarakat umum yang datang menemui jaksa untuk mengurus keluarganya yang sedang terkait hukum yang sedang menjalani proses sidang di pengadilan, bebas melenggang masuk dengan membawa barang bawaan atau tas yang entah apa isinya.

Hal tersebut dialami oleh pewarta sendiri sebagai wartawan Online Nasional koranpagionline.com yang sudah belasan tahun yang selalu melakukan peliputan di Kejaksaan Negeri Samarinda.

Pada Selasa (10/10/17) lalu sekitar pukul 10.00 Wita pewarta datang di kantor kejaksaan untuk menemui seorang jaksa. Saat pewarta melaporkan di bagian Portir, oleh petugas Portir meminta semua fadilitas sebagai jurnalis disimpan seperti handpon sebagai alat komunikasi dan alat perekam atau foto juga tas disimpan. Alasan KasubagBin Kejari Samarinda, Jaksa Romli saat itu yang berada di depan Portir mengatakan bahwa ini SOP Kejaksaan Agung dan berlaku untuk seluruh Kejari di Indonesia.

Aturan yang diterapkan oleh Kejari Samarinda dalam hal ini KasubBin (Sub Bagian Pembinaan)  perlu dipertanyakan, karena berdasarkan pantauan pewarta sejak diberlakukan aturan tersebut Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat (10-13/10) bagi masyarakat umum bebas dengan membawa barang bawaan tas mereka bebas melenggang keluar masuk di gedung Kejaksaan Negeri Samarinda untuk menemui jaksa untuk mengurus keluarga mereka yang sedang menjalani proses persidangan.

Kasub BIN Kejaksaan Negeri Samarinda Romli, SH ketika dikonfirmasi pewarta di ruang kerjanya Kamis (12/10) mengatakan bahwa ini bukan SOP yang dikeluarkan Kejaksaan Agung. Namun, ada aturan Kejaksaan Agung, padahal Selasa (10/10) ketika di semua barang bawaan pewarta ditahan di portir dikatakan bahwa ini SOP yang di keluarkan Kejaksaan Agung untuk semua Kejari se Indonesia.

Dijelaskan Romli bahwa diterapkan aturan dimaksud ada dalam aturan Kejaksaan juga ada surat edaran juga terkait pengalaman sebelumnya adanya oknum wartawan atau atau masyarakat yang menemui jaksa merekam pembicaraan dan menyebarkan di medsos sehingga diterapkan seperti itu.

“Jadi bukan SOP yang diterapkan Kejaksaan Agung namun ada aturan dalam kejaksaan,” ujar Romli.

Sekarang masih belum terkontrol semua sehingga masih ada masyarakat ang lolos keluar masuk nembawa barang bawaan mereka seperti tas walaualam apa isinya.

“Kedepan saya lakukan semua jadi pengunjung tamu yang datang menemui jaksa semua barang bawaan tas harus disimpan di loker untuk menjaga hal-hal yang tidak baik,” tegas Romli.
Prof Lasina : Sikap Jaksa Melanggar Perundangan

Sementara itu, penerapan aturan yang dilakukan KasubagBin Kejaksaan Negeri (Kejari) Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) terhadap masyarakat atau tamu yang datang di kantor Kejari, harus ditahan semua barang bawaan, ditanggapi serius oleh Prof Lasina, seorang Akademisi dan Pengamat Hukum pada Universitas Mulawarman (UNMUL) Samarinda.

Menurut Prof. Lasina, yang ditemui pewarta Koran Pagi Online di ruang kerjanya lantai 2 Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Senin (16/10/2017) mengatakan, wartawan sebagai pemberi informasi berdasarkan perundangan dapat disampaikan dengan atau cara-cara yang santun dan baik. Kalau tugas wartawan dihalangi dengan menahan fasilitasnya sebagai seorang wartawan  berarti sudah melanggar perundangan yang ada.

“Kalau tugas wartawan tidak kita berikan kebebasan namun dihalangi dengan menahan semua fasilitas barang bawaannya sebagai seorang wartawan,  maka akan menjadi persoalan karena tugas wartawan telah diatur dalan Undang Undang Pers. Sebab, wartawan nerupakan mata rantai memberikan informasi kepada masyarakat,” ujar Prof Lasina.

Berkaitan dengan persoalannya jaksa yang menahan barang fasilitas wartawan saat masuk di Kantor Kejari Samarinda, Prof. Lasina menilai hal tersebut merasa ketakutan terkait keluar masuknya masyarakat yang menemui jaksa untuk mengurus keluarganya yang masih dalam proses hukum. Kalau bersih kenapa mesti risih. Ini menunjukkan ada udang di balik batu.

Terkait bebas keluar masuknya masyarakat umum yang mengurus keluarga mereka, dalam kode etik tugas jaksa sangat prinsip tidak boleh atau tidak dibenarkan dan merupakan tanda tanya ada apa? Bawaan wartawan ditagan sedangkan msyarakat umum bebas membawa barang bawaannya.

“Dalam kode etik tugas jaksa sangat prinsip seyogianya tidak boleh atau tidak dibenarkan masyarakat umum yang menemui jaksa untuk mengurus keluarganya yang sedang dalam proses hukum. Namun ada keluarga yang menemui jaksa di kantornya untuk mengurus masa tahanannya habis ya boleh saja,” ujar Lasina. (gajali).

Leave a comment