Terbaru

SMAN 2 Jakarta, Sabet 2 Trophy Lomba Debat Anti Korupsi KPK

Tiga pelajar SMAN 2 Jakarta Barat yang menjuarai lomba Debat Anti Korupsi yang digelar KPK

KopiOnline Jakarta – Pemberantasan korupsi tidak cukup teratasi hanya dengan mengandalkan proses penegakkan hukum. Membumihanguskan korupsi juga perlu dilakukan dengan tindakan preventif, antara lain dengan menanamkan nilai religius, moral bebas korupsi atau pembelajaran anti korupsi melalui berbagai lembaga pendidikan.

Terlebih, tingkat korupsi di Indonesia kian mengkhawatirkan, dilakukan secara terang-terangan, massif, terstruktur, dan tersistematis. Untuk membasminya, maka dapat dilakukan dengan dua hal, yakni penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi, dan mencegah terjadinya korupsi. Upaya pencegahan korupsi sendiri dapat dilakukan secara kolaboratif diantara KPK dengan masyarakat, khususnya generasi muda, dan tepatnya di lingkungan sekolah tingkat SMA sederajat.

Kelompok yang disebutkan terakhir patut diakui memiliki potensi besar untuk menyebarkan virus integritas di masyarakat dan semangat perlawanan terhadap perilaku korupsi. Untuk memberantas korupsi bukan hanya bermodalkan semangat, namun juga pemahaman tentang anti korupsi. Bagi generasi muda, cara yang dinilai efektif sebagai metode pembelajaran adalah belajar yang memiliki unsur kompetisi dan bermain.

Berdasarkan kondisi tersebut, KPK melalui Pusat Edukasi Anti Korupsi menyelenggarakan lomba debat anti korupsi. Lomba ini mengajak anak-anak muda untuk saling mengeksplorasi pemikiran antikorupsi dengan kemampuan public speaking dan mempertahankan argument secara mumpuni. Lomba debat antikorupsi pun dinilai tepat di tengah mewabahnya ekstrakurikuler debat di sekolah-sekolah.

Adalah siswa-siswi SMAN 2 Jakarta Barat yang ikut andil bagian dalam lomba Debat Anti Korupsi yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung JCC Senayan Jakarta, beberapa waktu lalu. Alhasil, setelah melalui seleksi diumumkan bahwa SMAN 2 Jakarta lolos, bahkan 2 tim yang lulus ke babak 16 besar tingkat nasional yang dilaksanakan pada 31 Agustus 2017. Technical Meeting dan babak 16 besar (pre eliminary) dilaksanakan pada tanggal 4 dan 5 September 2017 di Gedung C1 KPK. Fase Quarter dan Semi Final dilaksanakan pada tanggal 6 September 2017 di Lobby Stage JCC Senayan. Serta fase Final dilaksanakan pada tanggal 7 September 2017 di Lobby Stage JCC Senayan.

Tema yang diketengahkan adalah “ Setujukah Hukuman Mati Diterapkan  pada Koruptor.” Kebetulan pada sesi itu Tim SMAN 2 Jakarta Barat, harus berargumentasi tidak setuju hukuman mati. Maka upaya dimiskinkan dengan berbagai aspek digunakan sebagai senjata untuk mematahkan lawan debatnya yang harus mempertahankan hukuman mati.

Tiga siswa cerdas yang cukup cemerlang di panggung debat ini antara lain, Geofrey Tyndall kelas XII IPA/IV, Marlen kelas XII IPA/II dan Kelly Claudia kelas XII IPA/IV. Secara gemilang pelajar tiga serangkai ini membuuat lawan debatnya dari sebuah SMA di Bandung tak berkutik. Maka SMAN 2 yang berlokasi  di Jalan Gajah Mada Tamansari Jakarta Barat ini dinobatkan sebagai juara I Lomba Debat Anti Korupsi, antar pelajar SMA sederajat tingkat nasional. Bukan hanya itu, ternyata satu tim lagi (SMAN 2 Jakarta) dinobatkan sebagai Best Speker II Lomba Debat Anti Korupsi 2017.

Menurut Kepala Sekolah SMAN 2 Jakarta, Maknawiyah yang ditemui Wartawan Koran Pagi, Jumat (06/10/2017) mengungkapkan bahwa keikutsertaan siswanya dalam ajang lomba debat anti korupsi terbilang mendadak. Namun bagi siswanya bukan menjadi penghalang karena di sekolahannya memang ada kegiatan ekstra kurikuler (eskul) Debat yang dilaksanakan setiap hari setelah pukul 15.00 WIB.

“Setiap hari ada latihan rutin, terlebih ketika hendak mengikuti lomba debat anti korupsi yang digagas KPK,” kata Totok Sugiarto yang mendampingi Kepala sekolah, Maknawiyah.

Masih kata Totok, pendidik yang didapuk sebagai bidan debat anti korupsi, ia tidak merasa khawatir dengan lolosnya dua tim ke babak semi final lomba debat Anti Korupsi. Bahkan sejak semula ia memprediksi dua tim SMA Negeri 2 Jakarta bakal masuk final. Namun demikian patut disyukuri dua tim nya berhasil menggondol trophy kejuaraan.

Ditanya soal kunci keberhasilan, Totok menjelaskan bahwa siswa-siswi nya benar-benar siap bertanding dan siap mental. Selain tata cara debat yang menjadi baku, tentu berbagai materi yang bersinggungan dengan korupsi digali dan diuji dalam latihan rutin.

Masih dalam kesempatan ini, Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Jakarta barat, Maknawiyah, setuju bahwa korupsi harus dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang oleh karena itu memerlukan upaya luar biasa pula untuk memberantasnya. Upaya pemberantasan korupsi yang terdiri dari dua bagian besar, yaitu (1) penindakan, dan (2) pencegahan tidak akan pernah berhasil optimal jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja tanpa melibatkan peran serta pendidikan yaitu sekolah.

Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika sekolah sebagai sarana penanaman nilai dijadikan sebagai salah satu bagian penting dari penanaman jiwa antikorupsi dan diharapkan peserta didik menjadi generasi penerus bangsa yang bersih dari korupsi. Peran aktif sekolah diharapkan lebih difokuskan pada upaya pencegahan korupsi dengan ikut membangun budaya antikorupsi di kalangan peserta didik.

Sekolah, lanjut Maknawiyah, diharapkan dapat berperan sebagai agen perubahan dan motor penggerak gerakan antikorupsi di kalangan peserta didik. Untuk dapat berperan aktif siswa perlu dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya. Yang tidak kalah penting, untuk dapat berperan aktif sekolah harus dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai antikorupsi dalam kegiatan sekolah.

“Tertib dan disiplin menjadi kunci keberhasilan siswa kami hingga ke jenjang selanjutnya. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena penyaluran bakat para siswa sudah tertampong dalam eskul,” jelas Makanawiyah di ruang kerjanya, kemarin.

Memetik sambutan Mendikbud Muhadjir Effendi menyatakan bahwa revolusi mental harus benar-benar dikondisikan di sekolah. Sesuai Nawacita, porsi pendidikan karakter harus lebih besar daripada pengetahuan. Sekolah harus direformasi baik manajemen, lingkungan, guru, kepala sekolah, komite sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Guru diharapkan semakin luwes dalam mendidik murid, dengan tidak bersikap kaku dengan jadwal yang dapat dibuat fleksibel namun tujuan pendidikan tetap tercapai. Guru juga diharapkan dapat menjadi sosok yang menyenangkan dan contoh teladan yang nyata bagi murid, bukan hanya mendorong atau memotivasi murid.

“Guru juga diminta tidak gampang marah pada murid yang bandel, sebab seringkali kebandelan itu menjadi bagian dari manifestasi kecerdasan seseorang,” katanya.

Dasar hukum mengenai pendidikan antikorupsi sudah jelas terdapat di dalam Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi Diktum kesebelas butir 7 yang isinya : Menteri Pendidikan Nasional menyelenggarakan pendidikan yang berisikan substansi penanaman semangat dan perilaku antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan baik formal dan nonformal. Diharapkan pendidikan antikorupsi ini dapat memberikan pembekalan kepada siswa yang dapat ditempuh dengan berbagai cara antara lain melalui Kegiatan pembelajaran, sosialisasi, penetapan peraturan sekolah. Penanaman jiwa antikorupsi bagi siswa bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya serta menanamkan nilai-nilai antikorupsi.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tujuan membentuk manusia yang berkualitas, tentunya sangat diperlukan suatu aturan atau kebijakan guna mewujudkan tujuan tersebut. Lingkungan sekolah khususnya tingkat SMA yang beranggotakan remaja-remaja yang sedang dalam masa transisi, sangat rentan sekali terhadap perilaku yang menyimpang. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan pendidikan antikorupsi di sekolah diperlukan suatu aturan atau kebijakan hukum yang harus diterapkan sekolah yang bertujuan untuk membatasi setiap perilaku siswa.

Di lingkungan sekolah yang menjadi “hukum” nya adalah tata tertib sekolah. Pelanggaran terhadap tata tertib sekolah tidak dapat dipisahkan dari siswa-siswi. Kadang dalam diri mereka terbesit untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran baik dengan tujuan atau tanpa tujuan apapun. Salah satu tujuan melakukan pelanggaran untuk mencari atau ingin mendapat perhatian dari teman, guru dan orang tua mereka. Namun tidak jarang juga mereka melakukannya hanya karena ingin dicap sebagai jagoan.

Oleh karena itu, masalah pelanggaran yang dilakukan oleh siswa di sekolah jangan dianggap remeh, karena pelanggaran ini merupakan bibit korupsi yang harus dicegah dan diberantas sejak dini. Misalnya saja menyontek, bolos sekolah, berpacaran di area sekolah, menggunakan handphone pada jam belajar, dan mencuri barang orang lain. Pelanggaran seperti ini dapat terjadi karena masih lemahnya peraturan atau kebijakan yang mengatur tentang pelanggaran tersebut. Sehingga dalam hal ini diperlukan suatu kebijakan yang mengatur tentang prilaku yang tergolong korupsi serta kebijakan tentang penanaman jiwa antikorupsi kepada siswa di sekolah.  Sedang untuk di SMAN 2 Jakarta, formula mengikis tindakan koruptif bukan lagi diuji coba melainkan dipraktikkan dalam tindakan nyata sehari-hari. tete marthadilaga

Leave a comment