Terbaru

Eggi Sudjana Dipolisikan Sejumlah Ormas Terkait Hate Speech

Advokad Eggi Sudjana menuai kecaaman

KopiOnline Jakarta – Siapa yang menebar angin bakal menuai badai. Barangkali pepatah ini untuk kondisi Pengacara Eggi Sudjana saat ini. Bayangkan, pengacara senior ini dilaporkan terkait ujaran kebencian oleh sejumlah perwakilan ormas ke Bareskrim. Bahkan Eggi juga dilaporkan ke Polda Bali dan Polda Metro Jaya.

Eggi Sudjana dilaporkan atas pernyataannya saat diwawancarai sejumlah media setelah menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan Perppu Ormas di Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (02/10/2017) lalu.

Perwakilan ormas tersebut berkumpul sejak pukul 13.00 WIB di Bareskrim Polri di Jalan Merdeka Timur, Jumat (06/10/2017). Mereka di antaranya Media Nasional Obor Keadilan, Penegak NKRI, Patriot Garuda Nusantara DKI, Ganaspati, Persatuan Pengacara Oikumene Indonesia, dan Perjuangan Umum Rakyat Nusantara.

“Waktu itu mengucapkan bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu hanya berlaku ke Islam saja. Jadi, selain agama nonmuslim, itu tidak Berketuhanan Yang Maha Esa. Di videonya seperti itu,” kata salah satu pelapor, Norman alias Kanjeng Pangeran Hadinegoro.

Norman merupakan Ketua Umum Perjuangan Umum Rakyat Nusantara. Dia bersama rekan-rekannya antar-ormas melaporkan Eggi ke Bareskrim.

Sementara itu Polda Bali juga menerima laporan dari Forum Peduli NKRI yang menyebut Eggi menistakan agama.

“Terkait dengan video rekaman, statement yang dilontarkan Eggi Sudjana, kami sebagai masyarakat merasa terusik dengan pernyataan dia mengusik keyakinan-keyakinan lain,” kata Koordinator Forum Peduli NKRI Hengky Suryawan di Mapolda Bali, Denpasar, Bali, Jumat (06/10/2017).

Hengky mendatangi SPK Polda Bali bersama rekan-rekannya. Dalam laporan itu, Eggi diancam dijerat dengan UU ITE terkait dugaan penyebaran ujaran kebencian dan penistaan agama.

“Kalau ada pasal lain, misalnya penistaan agama, kami laporkan juga. Sekarang sedang didiskusikan, tadi pagi laporannya penistaan agama. Kita lihat ini ada unsur ujaran kebencian,” ujar Hengky.

Untuk memperkuat laporannya, Hengky melengkapi copy dari video Eggi yang menyatakan agama satu sarat Pancasila dan yang lain bertentangan. Transkrip dalam video itu juga diberikan kepada petugas SPK sebagai barang bukti tambahan.

“Video itu sudah mewakili ujaran kebencian itu. Sekalian kalau memungkinkan kita akan melakukan pelaporan terhadap Saudara Jonru Ginting juga yang kita sama-sama tahu dia kan sudah ditangani, tersangka sekarang,” ucap Hengky.

Nama aktivis digital itu muncul karena Hengky menilai Jonru juga pernah mengunggah pernyataan yang mirip dengan kata-kata Eggi Sudjana. Hengky menyatakan video Eggi dan tulisan Jonru pun mengganggu umat Islam di Indonesia, tidak hanya umat lainnya.

“Kami punya bukti juga dia melakukan sama persis kata-katanya dengan Eggi Sudjana. Dia mengatakan, selain daripada Islam, maka keyakinan atau agama lain tidak sesuai Pancasila. Di situ disampaikan juga bahwa untung saja kami tidak mengganggu Anda. Saya kira ini menjadi masalah kita bersama,” ungkap Hengky.

Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Advokat kenamaan, Eggi Sudjana kembali dilaporkan ke pihak kepolisian. Eggi dinilai menyebarkan ujaran kebencian karena menyebutkan ajaran Kristen tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

“Sudah kami laporkan Eggi Sudjana semalam ke Polda Metro Jaya, terkait Pasal 28 ayat (2) jo 45 A ayat (2) UU No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE serta Pasal 156a KUHP tentang penistaan agama,” jelas Johanes L Tobing dari Aliansi Advokat Nasionalis kepada detikcom, Jumat (06/10/2017).

Laporan Johanes ini terkait ucapan Eggi pada sidang uji materi soal Perppu Ormas di Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu. Eggi mengaitkan keyakinan agama Kristen dengan Pancasila yang merupakan pedoman bangsa.

“Saya rasa tidak ada kaitannya agama dengan ormas, sehingga pernyataan Eggi menurut saya tidak berdasar,” ujar Johanes.

Johanes menilai, pernyataan Eggi ini berbahaya dan dapat menimbulkan permusuhan serta perpecahan antarumat dan bangsa. Pasalnya, ucapan itu tidak hanya di muka sidang, tetapi sudah tersebar lewat video di media sosial yang menjadi konsumsi publik.

“Laporan kami mendasari konten percakapan di video yang saya lihat di dalam ruangan, kalau di ruang sidang itu tidak masalah, tetapi ketika itu di luar persidangan itu sudah ngelantur,” lanjutnya.

Menurutnya pula, Eggi tidak punya kapsitas menerjemahkan suatu keyakinan agama lain dengan persoalan Perppu Ormas tersebut. Paradigma Eggi tersebut membuat umat Kristen tersinggung.

“Dia membuat paradigma, opini sendiri. Kami sebagai umat Kristen tersinggung dan bukan hanya tersinggung tetapi juga marah,” lanjutnya.

Di sisi lain, Eggi adalah sebagai tokoh yang memiliki banyak pengikut. Ini membahayakan, karena ucapan Eggi ini dapat menjadi pembenaran pengikutnya.

“Pemikiran dia bahaya, karena dia banyak pendukungnya, kalau pengikutnya memahami yang sama bisa berbahaya. Pancasila itu kan sudah harga mati dari NKRI, jangan dikaitkan dengan ajaran agama lain,” sambungnya.

Laporan Johanes diterima SPKT Polda Metro Jaya dengan nomor laporan LP: 4822/X/2017/PMJ/Dit.Reskrimsus. Johanes melampirkan bukti rekaman video Eggi yang tersebar di medsos.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan bahwa pihaknya akan menindak lanjuti laporan tersebut.

“Setiap laporan tentu kita tindak lanjuti, kita pelajari dahulu apa yang dilaporkan,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya.

Eggi: Saya Bicara di Forum Keilmuan

Pengacara Eggi Sudjana dilaporkan Pemuda Hindu Indonesia ke Bareskrim Polri terkait ujaran kebencian dan SARA. Menanggapinya, Eggi mengatakan dirinya tidak ada niat untuk menghina suatu golongan karena sedang berbicara di forum keilmuan.

“Soal melaporkan itu soal hak, jadi nggak ada masalah sebagai warga negara melaporkan orang lain.
Namun harus dimengerti secara ilmu hukum tempat, waktu, dan deliknya, 3 hal itu harus dimengerti,” ujar Eggi kepada wartawan, Kamis (05/10).

Eggi mengatakan saat itu dirinya sedang berbicara di sidang Mahkamah Konstitusi (MK) terkait uji materi (judicial review) Perppu Ormas. Dia menegaskan tempat, waktu, dan delik dia berbicara tidak memiliki niat untuk menghina orang lain atau suatu golongan.

“Artinya tempat, waktu, dan deliknya tidak mengena, karena tidak ada unsur motif dari saya untuk menghina orang lain. Tempatnya di pengadilan, dalam arti saya diberi kuasa dalam undang-undang, dalam arti hak konstitusional karena saya sebagai pemohon di Mahkamah Konstitusi terhadap Perppu Ormas,” jelasnya.

Menurut Eggi dalam sidang Mahkamah Konstitusi tersebut merupakan waktu di mana dirinya menyampaikan pokok pikiran. Dalam forum tersebut dia berbicara konteks Ketuhanan Yang Maha Esa dalam sila pertama Pancasila.

“Nah kemudian deliknya saya dianggap SARA, bagaimana SARA? Orang lagi membicarakan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, kan sila pertama Ketuhana Maha Esa,” imbuhnya.

Eggi meminta pihak yang melaporkan agar tidak cepat tersinggung dengan ucapan Eggi dalam forum tersebut. Forum judicial revies di MK adalah forum keilmuan.

“Jadi menurut saya teman-teman dari Hindu kurang cermat melihat persoalan ini, dengan hormat, jangan cepat tersinggung atau apa, ini forumnya forum keilmuan. Judicial review, uji materi itu berbicara keilmuan, keilmuannya itu ada ilmu sosiologi, ada ilmu hukum itu sendiri. Jadi masa bicara keilmuan dilaporkan polisi,” katanya. maste/dtk.

Leave a comment