Terbaru

FPII Menggugat, Dewan Pers Bungkam, DPR ( Malah ) Plin-plan

KopiOnline (Jakarta),- Wacana-wacana yang dilemparkan ke masyarakat, soal berita hoax itu hanya akal-akalan pemerintah agar ada alasan untuk mengajukan Panja RUU ITE menjadi UU ITE, dan kasus pembredelan 10 buah situs media beberapa waktu lalu, seakan dijadikan sebagai contoh kasus, ketika menimbulkan keributan dan protes dari berbagai pihak, Kominfo akhirnya kembali melepas, dan itu semakin memperkuat keinginan pemerintah melalui Kominfo untuk bisa ikutan mengatur media massa.

Saat ini tiga buah lembaga, Dewan Pers, Komisi I DPR RI dan Kominfo seakan kompak untuk melakukan pembungkaman terhadap keberlangsungan media massa dan beserta para pencari berita, dengan bersenjatakan UU ITE tahun 2008.

Kementerian Komunikasi, Telekomunikasi dan Informatika memaksa agar RUU ITE agar segera disahkan menjadi UU demi kepentingan sesaat, dengan menggunakan alasan penertiban. Alasan yang digunakan sangat tidak masuk akal, ketika Ketua Tim Panja RUU Informasi dan Transaksi Elektronik, Henry Subiakto mengatakan lembaga pers tidak perlu khawatir tentang kemunculan pasal hak untuk dilupakan di UU ITE baru, dimana Henry mengatakan hal itu hanya berlaku bagi media nonpers.

Dan anehnya saat ini pihak Dewan Pers mengeluarkan aturan dengan seenaknya terkait dengan verifikasi bagi media-media apapun dan yang tidak mengikuti verifikasi tersebut dianggap bukanlah media pers alias media nonpers. Sehinggta nyatalah keterkaitan diantara keduanya.

Industri media massa saat ini tidak lagi hanya berbentuk cetak, tetapi telah berkembang melalui siaran elektronik, dan ataupun on-line, dan sangat mengkhawatirkan bagi FPII dengan menggunakan pasal-pasal tersebut, pihak kepolisian dan kejaksaan akan dengan mudah menangkap dan menjerat industri media massa, padahal tugas media massa juga membongkar kebohongan terhadap publik yang dilakukan pihak tertentu.

Cabut Verifikasi dan Ubah Kebijakan

Sementara itu, sebelumnya FPII sudah melakukan demo ke Dewan Pers dan ke Gedung  DPR RI, Senin (20/03/2017) yang lalu, dengan tuntutan yang sama. Rupanya pihak Dewan Pers bungkam dengan keangkuhannya.

Kebijakan Dewan Pers yang menerapkan Verifikasi dan Barcode serta penetapan legalitas Hukum harus PT untuk setiap Perusahaan Pers nasional menuai Polemik. Beberapa Instansi pemerintah baik Pemprov maupun Pemkab telah melarang sejumlah wartawan untuk tidak meliput di kantor mereka.

Beberapa jurnalis juga mengeluhkan adanya penolakan Instansi bagi Media yang legalitasnya belum PT. Padahal dalam UU Pers tidak disebutkan secara mutlak badan hukum Perusahaan Pers harus PT, namun ketentuan itu diterapkan oleh Dewan Pers melalui selebaran di beberapa Instansi daerah. Terkait dengan hal itu, penolakan-pun terjadi bagi Wartawan yang medianya belum terverifikasi dan belum berlegal hukum PT.

Ketua Sekretaris Nasional FPII (Forum Pers Independent Indonesia), Mustofa Hadi Karya alias Topan menilai Dewan Pers tidak adil dan tidak berkepihakan terhadap para pekerja pers dan juga terhadap media massa yang tidak terverifikasi.

Menurutnya, banyak contoh kasus yang merugikan wartawan, seperti pemukulan dan berbagai tindakan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh Narasumber dengan memakai centeng/preman, untuk mengintimidasi pekerja pers, justru tidak pernah terselesaikan bahkan, intimidasi dan kekerasan masih terjadi.

“Sebagai insan Jurnalis Pekerja pers, kami merasakan adanya diskriminasi yang dilakukan oleh Dewan Pers (DP), maka FPII memandang perlu agar Insan Pers yang merupakan wujud dari pelaksana UUD bahwa kebebasan berserikat dan berpendapat adalah hak setiap warga negara,” beber Opan kepada redaksi, Sabtu (18/3/2017).

Dikatakan Topan, apalagi bagi para media yang sudah berbadan hukum, maka perlu adanya tindakan nyata untuk melindungi dan menaungi insan Pers dari belenggu Verifikasi dan pembungkaman.

Hal senada disampaikan Hefrizal, Kepala Deputi Jaringan dan Publikasi FPII, bahwa requirement (persyaratan) yang dibuat oleh Dewan Pers terkait pendaftaran bagi media untuk dapat terverifikasi, FPII menganggap bahwa persyaratan tersebut hanya dapat dipenuhi oleh media berskala besar tanpa mengindahkan para media yang berskala menengah ke bawah.

“Pemberlakuan UU khusus profesi (UU Pers) yang tidak diberlakukan kepada media-media non verifikasi, FPII menganggap bahwa masalah tersebut merupakan upaya pengkebirian pelaku pencari warta untuk mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas-tugas jurnalistiknya,” ungkap Hefrizal yang juga sebagai Koordinator Aksi Nasional FPII pada 20 Maret 2017 nanti.

Tambahnya, dengan kata lain permasalahan-permasalahan yang timbul dalam melakukan peliputan bagi media non verifikasi akan di kenakan KUHP bukan atas dasar UU Pers apabila terjadi kesalahan dalam peliputan atau dalam penulisan.

Tak cuma itu, FPII menurut Hefrizal, mengetahui adanya isu akan didorongnya Panja di DPR RI yang nantinya akan mengarahkan UU Pers ke KUHP terhadap media non verifikasi, FPII memandang Panja tersebut merupakan upaya kriminalisasi terhadap perusahaan Pers berskala kecil.

“Ini bisa mengarah pada proses Kriminalisasi dengan tidak adanya pengakuan dan perlakuan khusus bagi profesi jurnalis sebagai profesi yang khusus bagi media non verifikasi, “lex specialis derogat legi generalis, atau aturan hukum yang khusus akan mengesampingkan aturan hukum yang umum,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dengan adanya isu yang berkembang belakangan ini mengenai surat edaran tentang “hanya 74 media terverifikasi yang bisa melakukan peliputan” menimbulkan kesalahpahaman bagi para instansi sebagai objek peliputan dengan para insan pers sebagai pencari berita.

“Oleh karena itu, FPII meminta kepada Dewan Pers agar memberikan keterangan yang sebenarnya kepada instansi yang bersangkutan, bahwa berita tersebut “tidak benar adanya” dalam bentuk selebaran atau dengan mengundang insan pers utk melakukan konferesi pers terkait masalah tersebut,” tegasnya.

Diketahui FPII akan turun Aksi untuk menuntut agar Dewan Pers pada Senin 20 Maret 2017. Aksi pertama dilakukan di Dewan Pers dilanjutkan ke Gedung DPR RI.

Sebagai informasi, bahwa FPII telah meminta agar Komisi I DPR RI melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dewan Pers, namun usaha tersebut hingga saat ini belum ada kepastian atau jawaban memuaskan dari Komisi I DPR RI.

Maka untuk memperjuangkan keadilan, serta memperjuangkan hak-haknya, Forum Pers Independent Indonesia (FPII) menuntut sejumlah tuntutan kepada Dewan Pers dan segenap Instansi di Indonesia sebagai stage Holder yang menentukan Kemerdekaan Pers di Indonesia, untuk :

1, Mencabut Verifikasi Media di seluruh Indonesia.

  1. Stop, Intimidasi, Diskriminasi, dan Kriminalisasi Wartawan,
  2. Kembalikan fungsi UU Pers No. 15a tahun 1999.
  3. Dewan Pers Harus membuat pernyataan di media massa terkait dengan adanya selebaran pelarangan meliput terhadap wartawan/jurnalis yang tidak terverifikasi, yang dilakukan oleh Instansi Pemerintah/Swasta di Seluruh wilayah Indonesia.

Aksi Nasional yang akanj digelar FPII akan dilaksanakan juga secara serempak di berbagai Provinsi dan Kabupaten/kota di seluruh Indonesia, melalui perwakilan Sekretariat Daerah FPII, dengan tujuan Pemda dan DPRD.

Tercatat, Aksi Nasional Serempak yang dilaksanakan ini akan berlangsung dari Sabang sampai Merauke : Aceh, Jabodetabek, Banten, Medan, Bangka Belitung, Palembang, Lampung, Kaltim, Kalteng, Kalbar,  NTB, Sulteng, Makassar, Maluku, Maluku Utara, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Fakfak, Papua. tim

Leave a comment