Terbaru

Mantan Dirut Garuda, Emirsyah Satar yang Ternyata Jagoan Finance Tersandung Airbus

KopiOnline Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Emirsyah Satar sebagai tersangka kasus suap pembelian pesawat Airbus A330 bermesin Rolls Royce. Emirsyah Satar diduga menerima suap senilai jutaan dolar Amerika Serikat (AS).

Namun, menarik diketahui bagaimana sepak terjang Emirsyah selama memimpin Garuda?

Sepak terjang Emirsyah menggawangi badan usaha milik negara (BUMN) penerbangan ini memang cukup lama. Banyak yang menilai dia mampu membawa Garuda Indonesia bangkit dari keterpurukan usai nyaris bangkrut dan terlilit utang besar pada 2005.

Emirsyah Satar, pria kelahiran Jakarta, 28 Juni 1959, merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dia memulai kariernya sebagai auditor di PricewaterhouseCoopers, Jakarta, 1983. Usai itu ia bergabung dengan Citibank Jakarta sebagai Asisten Vice President of Corporate Banking Group pada 1985.

Periode 1990-1994, dia menjabat General Manager Corporate Finance Division Jan Darmadi Group di Jakarta. Pada November 1994 sampai Januari 1996, Emirsyah menduduki posisi Presiden Direktur PT Niaga Factoring Corporation, Jakarta.

Setahun kemudian, dia menapaki karier sebagai Managing Director (CEO) Niaga Finance Co. Ltd, Hong Kong. Barulah setelahnya dia memulai karier sebagai Direktur Keuangan (CFO) Garuda Indonesia sebelum bergabung dengan Bank Danamon sebagai Wakil Direktur Utama (2003-2005).

Emirsyah pun kemudian dipercaya Menteri Negara BUMN Sugiharto saat itu sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia pada 2005. Emirsyah memimpin Garuda Indonesia selama hampir 10 tahun. Sebelum akhirnya mengundurkan diri pada 2014 dan digantikan Arief Wibowo.

Selama di Garuda Indonesia, dia memegang beberapa jabatan seperti Presiden Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Anggota Board of Governors the International Air Transport Association (IATA) dan Chairman Association of Asia Pacific Airlines (AAPA).

Sepanjang dipimpin Emirsyah Satar, Garuda Indonesia tak berhenti melakukan ekspansi. Pembelian pesawat besar-besaran antara lain melalui Program Quantum Leap.

Garuda juga melakukan memperbaiki layanan untuk kembali meraih kepercayaan dari penumpang ataupun regulator keselamatan penerbangan. Bahkan Skytrack juga menempatkan Garuda Indonesia dalam 10 besar maskapai terbaik di dunia.

Tak hanya itu, di bawah kepemimpinannya, Garuda kembali menerbangi langit Eropa. Untuk memperluas pangsa pasarnya, Garuda juga memutuskan bergabung dalam aliansi maskapai penerbangan global, Skyteam.

Emirsyah juga mulai membuka rute baru dan yang pernah ditinggalkan Garuda Indonesia, mendirikan anak usaha yang bergerak di layanan penerbangan murah Citilink, dan sejumlah gebrakan lainnya, termasuk membawa Garuda ke lantai bursa.

Lepas dari Garuda, Emirsyah berlabuh sebagai Chairman MatahariMall.com, situs e-Commerce milik Lippo Group.

Politisi PDIP Sebut Direksi BUMN Seperti Tukang Sulap

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto mengatakan, ditetapkannya bekas Direktur Utama PT Garuda Indonesia (GI) Emirsyah Satar sebagai tersangka kasus korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, harus dijadikan titik awal pengungkapan dugaan penyelewengan-penyelewengan yang selama ini tidak terdeteksi aparat penegak hukum. Sebab banyak penyelewengan-penyelewengan yang terjadi di perusahaan pelat merah tersebut tanpa terendus aparat penegak hukum.

“Direksi-direksi BUMN sudah canggih-canggih. Seperti tukang sulap bisa melakukan sesuatu secara cepat dan nyaris tidak terlihat. Diawasi saja bisa lewat, apalagi enggak diawasi bisa lebih gawat,” kata Darmadi kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jumat (20/1).

Makanya, lanjut dia, mengapa DPR RI menolak PP 72 tahun 2016. “Karena kita tidak ingin BUMN yang notabenenya menggunakan uang rakyat tak terawasi. Ya contohnya seperti kasus ini (Emirsyah Satar,” tegas politisi PDIP ini.

Darmadi melihat selama ini, direksi-direksi maskapai pelat merah tersebut terlihat seperti orang-orang yang jauh dari kesan korupsi jika mengikuti rapat-rapat di Komisi VI DPR RI.

“Kalau ke DPR pura-pura tampilannya sederhana. Tapi gaya hidupnya ternyata super tinggi,” sindirnya.

Menurut dia kasus korupsi yang menjerat bekas dirut Garuda tersebut seperti puncak gunung es dan hanya potongan kecil saja dari banyaknya BUMN yang ada.

“Permainan di Garuda masih relatif kecil dibanding permainan-permainan di BUMN besar,” ungkapnya.

Diketahui, KPK baru-baru ini menetapkan mantan dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar sebagai tersangka kasus dugaan suap pembelian pesawat Airbus A330. (BBC)

Leave a comment